ilustrasi bendera Israel (pexels.com/Thắng-Nhật Trần)
Menanggapi tuduhan tersebut, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon berupaya mengecilkan arti kehadiran personel militernya di Suriah dan justru mengalihkan tudingan kepada Turki. Danon memperingatkan anggota dewan bahwa Ankara berencana memperluas kemampuan militer di Suriah untuk mengambil alih kendali negara itu.
Danon berargumen bahwa pengerahan pasukan Ankara jauh lebih masif dibandingkan zona pertahanan negaranya di perbatasan. “Turki memiliki 20 ribu tentara dan lebih dari 100 pangkalan di Suriah, mengendalikan 5 persen wilayahnya, 50 kali lebih besar dari 'penyangga keamanan' Israel,” kata Danon sembari menuduh Ankara mengikuti strategi proksi Iran.
Duta Besar Turki untuk PBB Ahmet Yildiz membantah keras tuduhan itu dan menegaskan pasukannya berada di Suriah atas undangan resmi dari otoritas Damaskus. “Kami secara tegas menolak upaya Israel mencoreng kerja sama sah Turki dengan Suriah dan menggambarkannya sebagai ancaman demi membenarkan pelanggaran hukum internasional yang dilakukannya sendiri,” tegas Yildiz.
Yildiz turut menuduh Israel merusak upaya kerja sama tersebut melalui serangan ceroboh serta penyusupan ke wilayah Suriah, dan mendesak Israel segera melakukan deeskalasi serta menarik mundur pasukannya. Sementara itu, Olabi mendesak agar forum PBB tidak lagi dijadikan panggung perdebatan isu proksi seperti di masa rezim terdahulu karena perdebatan semacam itu sangat menimbulkan trauma.