Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Israel Tahan Lebih dari Dua Ribu Anak Palestina Sejak 2023

3 min read
Israel Tahan Lebih dari Dua Ribu Anak Palestina Sejak 2023
ilustrasi seorang tahanan di penjara (unsplash.com/Ye Jinghan)
  • PPS melaporkan lebih dari 2.000 anak Palestina ditahan Israel sejak Oktober 2023, dengan sedikitnya 350 masih dipenjara; enam anak juga ditangkap di Hebron pada Oktober 2026.
  • Laporan PPS mencatat dugaan intimidasi, penyiksaan, kelaparan, dan penolakan layanan kesehatan terhadap tahanan anak, termasuk kasus Mohammed Hamid dan Walid Ahmed di penjara Israel.
  • PPS menyerukan intervensi internasional untuk membebaskan anak-anak yang ditahan sewenang-wenang, menyelidiki pelanggaran, serta mengakhiri penyiksaan dan impunitas; beberapa remaja warga AS turut ditahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kelompok Palestinian Prisoners Society (PPS) mengungkapkan bahwa lebih dari 2 ribu anak Palestina telah ditahan oleh pasukan Israel sejak Oktober 2023. Sementara itu, sedikitnya 350 anak masih mendekam di penjara-penjara Israel dalam kondisi yang memprihatinkan.

Organisasi hak asasi Palestina itu mengatakan bahwa pada Selasa (13/10/2026), pasukan Israel menangkap sedikitnya enam anak di Hebron, Tepi Barat yang diduduki. PPS mengaku tidak tahu pasti berapa jumlah anak yang ditangkap di Gaza, mengingat ada ribuan orang yang hilang di wilayah tersebut.

"Kebijakan Israel berupa penahanan tanpa dakwaan atau tanpa kejelasan tanggal pembebasan merupakan pelanggaran dan kejahatan tambahan yang membuat anak-anak berada dalam ketidakpastian, serta merampas stabilitas keluarga dan pendidikan mereka," kata PPS dalam laporan yang dirilis pada Rabu (14/10/2026).

  1. 1. Tahanan disiksa dan dibiarkan kelaparan

    ilustrasi anak di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)
    ilustrasi anak di Gaza (pixabay.com/hosnysalah)

    Laporan PPS juga mengungkap berbagai tindakan Israel terhadap anak-anak Palestina, mulai dari intimidasi dan penangkapan hingga penyiksaan, pembiaran kelaparan serta penolakan akses terhadap layanan kesehatan.

    Salah satu kasus yang disoroti adalah Mohammed Hamid, remaja berusia 15 tahun yang menderita skabies saat ditahan di Penjara Ofer. Kondisinya kemudian memburuk akibat infeksi parah. Ia menjalani operasi jantung dan dirawat di unit perawatan intensif dalam kondisi kritis sebelum akhirnya salah satu kakinya diamputasi.

    Organisasi tersebut juga menyoroti kasus Walid Ahmed, remaja berusia 17 tahun yang meninggal dunia pada Maret 2025 setelah enam bulan ditahan di Penjara Megiddo. Pada Desember 2026, hakim Israel menghentikan penyelidikan atas kematiannya dengan alasan bahwa penyebab kematiannya tidak dapat dipastikan, meskipun terdapat bukti yang menunjukkan bahwa ia mengalami kelaparan.

  2. 2. Beberapa warga AS juga ditahan di penjara Israel

    ilustrasi penangkapan (pexels.com/Servet photograph)
    ilustrasi penangkapan (pexels.com/Servet photograph)

    Dilansir Al Jazeera, beberapa anak berkewarganegaraan Amerika Serikat (AS) juga ditahan di penjara-penjara Israel tanpa dakwaan. Salah satunya adalah Mohammed Ibrahim, seorang remaja asal Florida. Ia dibebaskan dari Penjara Megiddo setelah upaya advokasi selama berbulan-bulan oleh berbagai organisasi yang berbasis di AS dan desakan dari sejumlah anggota parlemen senior.

    Pemuda AS lainnya, Abdalkareem Issa Ahmed Safi, ditangkap oleh pasukan Israel di Tepi Barat dalam penggerebekan pada Juni 2026. Ia genap berusia 18 tahun saat berada dalam tahanan. Pihak berwenang kemudian memindahkannya dari area penahanan remaja ke bagian dewasa di Penjara Ofer.

    Nasib serupa juga dialami Adam Wajeh Abdelfattah Karakrah, seorang remaja AS berusia 16 tahun. Ia ditangkap pada Juli lalu dan rencananya akan dibebaskan pada Agustus setelah keluarganya memberikan jaminan. Namun, pihak berwenang Israel secara tiba-tiba membatalkan pembebasannya.

  3. 3. PPS serukan tindakan nyata dari komunitas internasional

    demonstrasi bela Palestina
    demonstrasi bela Palestina (Matt Hrkac from Melbourne, Australia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

    Dalam laporan tersebut, PPS menyerukan tindakan nyata dari komunitas internasional untuk memastikan pembebasan anak-anak yang ditahan secara sewenang-wenang, mendorong penyelidikan serta mengakhiri penyiksaan, pembiaran kelaparan dan penolakan akses terhadap perawatan medis di penjara-penjara Israel. PPS mengatakan bahwa pendokumentasian dan kecaman saja tidak cukup, melainkan harus diikuti langkah-langkah konkret untuk menghentikan pelanggaran dan mengakhiri impunitas.

    “Perlindungan terhadap anak-anak Palestina membutuhkan intervensi internasional yang tegas untuk memastikan penghormatan terhadap hak, kehidupan dan martabat mereka,” kata PPS, dikutip Anadolu.

    Sejak Israel melancarkan perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah menahan lebih dari 25 ribu warga Palestina di Tepi Barat dan ribuan lainnya di Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More