Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Italia Tangkap 271 Pemuda Buntut Demo Anarkis di Milan
ilustrasi operasi penangkapan (pexels.com/Kindel Media)
  • Polisi Italia menangkap 271 pemuda usai demonstrasi anarkis di Milan; 60 orang ditahan, termasuk 23 anak di bawah umur dan 13 warga negara asing.
  • Protes pada 17-18 Oktober 2026 juga terjadi di Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin, disertai bentrokan, penjarahan toko mewah, serta penggunaan gas air mata dan water cannon.
  • Demonstran memprotes agresi Israel di Gaza dan kenaikan biaya hidup; Perdana Menteri Giorgia Meloni mendukung tindakan tegas terhadap pelaku kekerasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepolisian Italia mengklaim telah menangkap sebanyak 271 pemuda yang terlibat dalam aksi demonstrasi anarkis di Kota Milan pada pekan lalu. Kabar tersebut disampaikan oleh kepolisian Italia kepada awak media pada Senin (19/10/2026) kemarin. 

Dari 271 pemuda yang ditangkap, 60 di antaranya ditahan karena terbukti melakukan tindakan anarkis saat demo. Polisi Italia menjelaskan, 60 orang yang ditahan termasuk 23 anak di bawah umum dan 13 warga negara asing (WNA). Namun, polisi Italia tidak menjelaskan dari negara mana mereka berasal.

1. Demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah kota di Italia

potret Kota Bologna, Italia (pexels.com/Frank Wesneck)

Aksi demo besar yang dilakukan kalangan pemuda Italia di Milan tadi terjadi pada Sabtu (17/10/2026) dan Minggu (18/10/2026) pekan lalu. Selain di Milan, protes serupa juga pecah di sejumlah kota besar Italia lainnya, seperti di Bologna, Brescia, Bergamo, dan Turin. Tidak hanya berdemo, para pengunjuk rasa juga merusak dan menjarah toko-toko barang mewah yang ada di kota-kota tersebut. 

Ketika itu, para pengunjuk rasa sempat terlibat bentrokan dengan aparat keamanan Italia yang berupaya mengamankan demo. Situasi demo sontak berubah menjadi semakin tegang ketika aparat keamanan Italia menembakkan gas air mata dan water cannon kepada para pengunjuk rasa yang berupaya melakukan perlawanan dan tindakan anarkis. Padahal, demo awalnya berlangsung damai. 

2. Demo di Italia dipicu beberapa isu

ilustrasi demo (pexels.com/Life Matters)

Dalam demo tersebut, para pemuda Italia memprotes sejumlah isu, yakni agresi Israel di Gaza, Palestina, dan kenaikan biaya hidup di negaranya. Para pengunjuk rasa meminta Pemerintah Italia untuk mendesak Israel berhenti menyerang Gaza dan memperbaiki kondisi perekonomian negara. Sebab, biaya hidup yang naik membuat warga Italia, terutama yang berasal dari kalangan menengah dan menengah ke bawah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Aksi demo ini lantas mendapat kecaman dari Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni. Dalam pernyataannya pada Senin, Meloni mengatakan, dirinya mendukung aparat keamanan Italia untuk melakukan tindakan tegas terhadap semua pemuda yang terlibat dalam demo anarkis pada pekan lalu. Sebab, aksi tersebut tidak hanya membuat negara menjadi gaduh, tetapi juga membahayakan banyak warga Italia.

“Sekali lagi, para perempuan dan laki-laki dari pasukan penegak hukum harus menghadapi kekerasan dari para penjahat yang bahkan melalui kelompok-kelompok terorganisir, mengeksploitasi demonstrasi untuk mencari konfrontasi dan menabur kekacauan. Mereka ada di sana untuk menjaga keselamatan warga, pekerja, pedagang, dan semua orang yang berhak tinggal di kota mereka tanpa rasa takut dan tanpa melihatnya hancur dan dibakar oleh gerombolan preman. Kami mendukung kalian," tulis Meloni di X dikutip Fox News.

3. Demo besar juga terjadi di sejumlah negara lainnya

potret demo (pexels.com/Luca Nardone)

Selain di Italia, demo besar yang dilakukan kelompok pemuda juga terjadi di sejumlah negara di dunia, seperti di Albania, Brasil, Portugal, India, hingga Prancis. Di Prancis, aksi demo besar juga terjadi pada Sabtu dan Minggu pekan lalu. Sama dengan di Italia, para pemuda yang menjadi aktor utama dalam demo tersebut juga melakukan penjarahan di sejumlah toko barang mewah yang ada di Paris, Marseille, dan Lille. Demo ini dipicu kenaikan biaya hidup dan sektor pendidikan di Prancis yang dinilai kurang diperhatikan pemerintah.

"Melihat gambar-gambar ini, kita semua bertanya pada diri sendiri: apa yang ada di benak mereka? Bagaimana mungkin orang Prancis melakukan ini pada Prancis? Tidak ada yang membenarkannya, tidak ada yang menjelaskannya, tidak ada yang memaafkannya. Malam ini, kita semua merasakan kemarahan dan rasa malu," kata Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi Prancis dilansir Jerusalem Post. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article