Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kembali Memanas, Sebuah Kapal Tanker Kena Hantam Proyektil di Selat Hormuz
ilustrasi Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Sebuah kapal tanker LNG milik Qatar bernama Al Rekayyat terbakar di Selat Hormuz setelah dihantam proyektil, tanpa korban jiwa namun menyebabkan kerusakan berat pada ruang mesin.
  • Iran menegaskan kapal tersebut kemungkinan memasuki area operasi pembersihan ranjau, sementara pihak Teheran tidak mengklaim tanggung jawab atas serangan yang memicu ketegangan baru di kawasan.
  • Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan negosiasi dengan AS tak akan dimulai jika tekanan berlanjut, merespons pernyataan keras Presiden Donald Trump terkait hubungan kedua negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebuah kapal tanker yang berlayar di lepas pantai Oman, Selat Hormuz, terbakar setelah dihantam sebuah proyektil pada Selasa (7/7/2026). Insiden itu menjadi serangan terbaru terhadap kapal yang melintasi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengatakan proyektil menghantam sisi kiri kapal ketika sedang bergerak ke selatan meninggalkan Selat Hormuz menuju Teluk Oman. Badan tersebut mengatakan tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan lingkungan, sementara penyelidikan atas insiden tersebut masih berlangsung.

Insiden tersebut terjadi saat Iran tengah menggelar prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei selama beberapa hari. Teheran juga menunda perundingan dengan Amerika Serikat (AS) mengenai kesepakatan jangka panjang untuk mengakhiri konflik kedua negara hingga seluruh rangkaian pemakaman selesai.

1. Kapal tanker diduga memasuki area operasi pembersihan ranjau Iran

Televisi pemerintah Iran melaporkan kapal tanker pengangkut gas alam cair (LNG) tersebut diserang setelah mengabaikan peringatan yang diberikan otoritas setempat. Meski demikian, pemerintah Iran tidak mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Analis politik yang berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, mengatakan bahwa kapal itu kemungkinan memasuki kawasan yang sedang digunakan Teheran untuk melakukan operasi pembersihan ranjau. Iran berulang kali menegaskan bahwa hanya jalur pelayaran yang telah disetujuinya yang dinyatakan aman untuk dilalui kapal komersial.

"Wilayah di dekat Oman kemungkinan masih dipenuhi ranjau. Ada kemungkinan kapal-kapal itu bergerak ke area tempat tim Iran sedang melakukan pembersihan ranjau, sehingga pergerakannya dianggap mengancam operasi tersebut," kata Royvaran, dikutip dari Al Jazeera.

2. Kapal tanker milik Qatar dilaporkan mengalami kerusakan berat

Kapal yang dihantam proyektil merupakan kapal LNG milik Qatar bernama Al Rekayyat. Kapal itu dilaporkan mengalami kerusakan yang cukup parah setelah diserang saat melintasi sisi Oman di Selat Hormuz pada Selasa.

Al Rekayyat sedang mengangkut muatan gas alam cair ketika proyektil menghantam sisi kiri lambung kapal. Awak kapal kemudian mengirim sinyal darurat untuk meminta bantuan. Meski seluruh awak dilaporkan selamat, ruang mesin kapal terbakar dan dipenuhi asap sehingga kru belum dapat menilai keseluruhan tingkat kerusakan.

Sementara itu, dua pejabat AS mengklaim militer Iran menembakkan sedikitnya dua rudal ke arah kapal-kapal dagang yang sedang melintasi Selat Hormuz. Salah seorang pejabat menyebut satu kapal lain juga terkena serangan dan mengalami kerusakan signifikan.

3. Iran ancam negosiasi dengan AS tak akan dimulai jika tekanan berlanjut

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pembicaraan mengenai kesepakatan akhir dengan AS tidak akan dimulai apabila ancaman terhadap Teheran terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan Washington akan mencapai kesepakatan dengan Iran atau akan menghabisinya.

Mengutip CNN, Araghchi juga merujuk pada Pasal 13 dalam nota kesepahaman antara Iran dan AS yang menyatakan kedua pihak harus memenuhi sejumlah prasyarat sebelum memulai perundingan akhir. Salah satu ketentuan tersebut adalah penghentian seluruh pertempuran di kawasan, termasuk konflik yang melibatkan Lebanon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article