Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kembang Api HUT AS, Udara Washington DC Jadi yang Terburuk di Dunia
Ilustrasi kembang api (Unsplash.com/DESIGNECOLOGIST)
  • Washington DC mencatat kualitas udara terburuk di dunia usai perayaan HUT AS akibat asap kembang api dan gelombang panas ekstrem yang memperparah kondisi polusi.
  • Organisasi Freedom 250 meluncurkan lebih dari 850 ribu kembang api untuk memecahkan rekor dunia, meski ilmuwan memperingatkan risiko kesehatan dari pelepasan asap kimia beracun.
  • Gelombang panas hingga hampir 40°C menyebabkan pembatalan parade kemerdekaan dan penundaan pertunjukan kembang api utama, sementara polusi tinggi membebani ekosistem serta meningkatkan konsumsi listrik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ibu kota Amerika Serikat (AS), Washington DC, mencatatkan kualitas udara terburuk di dunia setelah perayaan Hari Kemerdekaan pada Sabtu (4/7/2026). Lonjakan polusi ini dipicu oleh asap pekat hasil pembakaran ratusan ribu kembang api.

Menurut data lembaga pemantau kualitas udara IQAir, polusi udara di kota tersebut masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini kian memburuk akibat gelombang panas ekstrem yang sedang melanda wilayah AS.

1. Penerbitan peringatan bahaya udara

Peluncuran kembang api secara masif menyebabkan polusi partikel halus PM2,5 melonjak tajam melebihi 200 mikrogram per meter kubik di beberapa titik. Pemerintah setempat segera mengeluarkan peringatan kualitas udara berkode ungu, yang menunjukkan tingkat bahaya tinggi bagi seluruh warga.

Pemerintah mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah. Warga juga diminta menghindari aktivitas fisik yang berat di luar ruangan demi meminimalkan risiko gangguan kesehatan.

"Kualitas udara saat ini sangat buruk, mirip seperti orang yang sedang berlari maraton sambil merokok," kata Kepala Petugas Kesehatan Montgomery County, Dr. Kisha Davis, dilansir CBS News.

Di sisi lain, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) menanggapi kekhawatiran publik dengan tetap berfokus pada kemeriahan perayaan hari jadi ke-250 Amerika Serikat tersebut.

"Pertunjukan kembang api ini luar biasa. Kami berharap semua orang menikmati perayaan besar di ibu kota negara kita," ujar Sekretaris Pers EPA, Brigit Hirsch.

2. Upaya memecahkan rekor dunia dalam meluncurkan ratusan ribu kembang api

Acara yang diinisiasi oleh organisasi Freedom 250 ini menargetkan peluncuran lebih dari 850 ribu kembang api dalam durasi 40 menit. Langkah tersebut diambil untuk memecahkan rekor dunia sebelumnya yang dicetak di Filipina.

Pihak Guinness World Records menyatakan saat ini sedang memeriksa dokumen dan bukti fisik dari penyelenggara untuk memverifikasi pencapaian tersebut.

Meski berlangsung megah, sejumlah ilmuwan atmosfer sebelumnya telah memperingatkan risiko pelepasan asap kimia beracun dalam volume besar. Polusi tersebut berpotensi merusak paru-paru warga, terutama di tengah cuaca panas.

"Menurut pandangan profesional saya, kurang bijaksana menyalakan 850 ribu kembang api pada hari yang panas, tenang, dan sudah tercemar," tutur Profesor Kimia Atmosfer di Universitas Maryland, Russell Dickerson.

3. Dampak gelombang panas ekstrem dan penundaan jadwal acara

Perayaan nasional ini bertepatan dengan gelombang panas ekstrem yang mendorong suhu udara mendekati 40 derajat Celsius. Cuaca buruk ini memaksa panitia membatalkan parade kemerdekaan tahunan demi keselamatan publik.

Selain pembatalan parade, badai petir yang melanda kawasan ibu kota juga sempat menunda mulainya pertunjukan kembang api utama hingga mendekati tengah malam.

"Kami akan tetap menunggu, tidak masalah apakah pertunjukan dimulai jam 2 pagi atau satu jam dari sekarang," ungkap Presiden Donald Trump, dilansir SE Daily.

Akumulasi asap kembang api dan suhu ekstrem ini menjadi sorotan para ahli lingkungan. Kondisi tersebut dinilai memberi beban berat pada ekosistem kota serta memicu lonjakan penggunaan listrik secara drastis.

"Jumlah polusi yang kita hasilkan selama satu hari khusus ini sangat mengkhawatirkan," pungkas CEO IQAir divisi Amerika Utara, Glory Dolphin Hammes.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article