Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (x.com/WhiteHouse)
Baru-baru ini, Trump memperingatkan di media sosial bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, kecuali Teheran kembali ke meja perundingan untuk membahas upaya mengakhiri konflik Timur Tengah.
"Mulai sekarang, setiap kali Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik itu dengan rudal, roket, drone, atau perangkat dan senjata lainnya, AS akan membom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik, termasuk yang terletak di dekat atau di dalam ibu kota Teheran," kata Trump di Truth Social pada 22 Juli 2026.
Iran melalui kantor berita Tasnim mengutip seorang pejabat militer yang menyatakan bahwa negaranya akan membalas setiap serangan terhadap infrastrukturnya dengan menargetkan fasilitas penting yang terkait dengan kepentingan AS.
Kedua negara juga terus berselisih mengenai program nuklir Iran. Pejabat AS dan Israel mengklaim bahwa Iran memindahkan ribuan sentrifugal pengayaan uranium ke fasilitas bawah tanah di Gunung Kolang di Iran tengah, atau yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe. Langkah ini dilakukan setelah serangan terhadap situs nuklirnya tahun lalu. Namun, Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai dalih yang dibuat-buat Washington untuk membenarkan agresi, penghancuran, dan sabotase.
"Tidak ada aktivitas nuklir yang terjadi di sana," kata Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dikutip dari NHK News.
Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, terus menjadi perhatian negara-negara pengimpor energi, termasuk Korsel. Hal ini karena berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia dan memicu gejolak pasar energi global.