Gelombang Panas Picu 300 Kasus Darurat Medis di Korea Selatan

- Sebanyak 300 warga Korea Selatan dirawat akibat penyakit terkait cuaca panas, meningkat dari tahun lalu, dengan kasus terbanyak berupa kelelahan dan sengatan panas.
- Kelompok usia produktif mendominasi pasien, sementara lansia tetap paling rentan; otoritas mengonfirmasi satu kematian pertama akibat gelombang panas tahun ini.
- Musim semi yang lebih hangat memicu risiko tinggi gelombang panas; KMA memperkirakan suhu di atas normal dan menerapkan sistem peringatan serta kampanye pencegahan nasional.
Jakarta, IDN Times - Korea Selatan mencatat kenaikan jumlah pasien yang sakit akibat cuaca ekstrim pada awal musim panas 2026. Data terbaru menunjukkan ratusan warga harus mendapat perawatan medis darurat karena terpapar suhu tinggi.
Otoritas kesehatan dan cuaca setempat memperingatkan bahwa suhu udara berpotensi tetap di atas normal dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah pun memperkuat langkah antisipasi untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat.
1. Sebanyak 300 pasien dirawat akibat penyakit terkait cuaca panas

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KDCA) melaporkan sebanyak 300 orang mengunjungi unit gawat darurat akibat penyakit yang berkaitan dengan cuaca panas, hingga Selasa (16/6/2026). Data tersebut dikumpulkan melalui sistem pemantauan yang melibatkan 516 rumah sakit di seluruh Korea Selatan.
Jumlah itu naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencatat 192 pasien. Kasus yang paling banyak ditemukan adalah kelelahan akibat cuaca panas dengan 156 pasien. Selain itu, tercatat 60 kasus sengatan panas dan 49 kasus pingsan akibat paparan suhu tinggi.
KDCA menilai upaya pencegahan dan sistem peringatan dini menjadi langkah penting untuk menekan dampak kesehatan selama musim panas.
"Kami menyediakan informasi prediksi penyakit akibat panas sebagai langkah pencegahan. Tujuannya agar dampak buruk gelombang panas bisa dikurangi sebelum benar-benar terjadi," kata Komisaris KDCA, Lim Seung-kwan, dilansir K-Health.
2. Kelompok usia produktif paling banyak jadi pasien

Data menunjukkan penyakit akibat panas tidak hanya dialami kelompok lanjut usia. Warga berusia 40-an tahun menjadi kelompok dengan jumlah pasien terbanyak, disusul kelompok usia 30-an tahun.
Meski begitu, warga berusia 65 tahun ke atas tetap masuk kategori paling rentan. Kelompok lansia menyumbang sekitar 30 persen dari total pasien yang tercatat dalam sistem pemantauan nasional.
Pihak berwenang juga mengonfirmasi kematian pertama terkait cuaca panas tahun ini. Korban merupakan seorang pria berusia 80-an tahun yang meninggal pada pertengahan Mei.
3 Musim semi yang lebih hangat picu peningkatan risiko

Kenaikan kasus terjadi setelah Korea Selatan mengalami musim semi yang lebih hangat dari biasanya. Suhu rata-rata nasional mencapai 13,3 derajat Celsius atau 1,4 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir.
Administrasi Meteorologi Korea Selatan (KMA) memperkirakan peluang sebesar 60 persen bahwa suhu pada Juni dan Juli akan berada di atas normal. Sementara itu, peluang suhu lebih tinggi dari rata-rata pada Agustus diperkirakan mencapai 50 persen.
Seiring meningkatnya risiko gelombang panas, KMA telah mengeluarkan peringatan cuaca panas pertama tahun ini untuk beberapa wilayah di Provinsi Gyeongsang Utara. Pemerintah Metropolitan Seoul juga meluncurkan kampanye yang mendorong pekerja mengenakan pakaian kerja yang lebih nyaman selama musim panas.
Untuk memperkuat kesiapan masyarakat, KMA mulai menerapkan sistem Peringatan Panas Ekstrem dan Imbauan Malam Tropis pada musim panas tahun ini.
"Jika tubuh tidak bisa pulih dari panas siang hari saat malam tiba, risikonya bisa sangat berbahaya dan mengancam jiwa," kata Kepala KMA, Lee Mi-sun, dilansir Korea Herald.


















