Jakarta, IDN Times - Korea Selatan (Korsel) mulai mempertimbangkan Afrika sebagai mitra strategis, bukan menggantikan, pasokan minyak Timur Tengah. Langkah ini diambil seiring meningkatnya risiko pada jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang terus berlanjut.
Laporan terbaru dari Institut Strategi Keamanan Nasional (INSS) pada 10 April 2026 menyatakan bahwa minyak Afrika dapat membantu Korsel mendiversifikasi risiko, sekaligus menjembatani respons krisis jangka pendek dan strategi ketahanan energi jangka panjang.
Laporan memaparkan bahwa risiko saat ini telah bergeser dari sekadar fluktuasi harga menjadi risiko pasokan fisik, di mana ketersediaan volume minyak menjadi tidak pasti. Ketergantungan Seoul yang tinggi pada minyak Timur Tengah dinilai membuatnya rentan terhadap gejolak geopolitik.
