Krisis Energi Timur Tengah Picu Panic Buying Kantong Sampah di Korsel

- Eskalasi konflik di Timur Tengah menutup Selat Hormuz, memicu kelangkaan bahan baku plastik dan lonjakan pembelian kantong sampah hingga lima kali lipat di Korea Selatan.
- Pemerintah Korsel membatasi ekspor nafta, menyiapkan anggaran darurat 25 triliun won, serta menjamin stok bahan baku daur ulang cukup untuk satu tahun ke depan.
- Presiden Lee Jae Myung siap mengeluarkan Dekrit Ekonomi Darurat bila krisis memburuk dan menyerukan penghematan energi nasional untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Jakarta, IDN Times - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz mulai berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari di Korea Selatan (Korsel). Kekhawatiran akan kelangkaan bahan baku plastik memicu lonjakan pembelian kantong sampah standar hingga lima kali lipat, bahkan memicu insiden pencurian yang unik di ibu kota.
Korea Herald melaporkan pada Minggu (5/4/202), rekaman kamera pengawas yang disiarkan stasiun televisi lokal, JTBC, memperlihatkan seorang perempuan di Seoul nekat membongkar tumpukan sampah di sebuah kompleks apartemen hanya untuk mengambil kantong plastiknya. Warga yang merekam kejadian itu memilih tidak melapor ke polisi, tetapi memperingatkan akan menempuh jalur hukum jika terulang.
1. Ketatnya sistem pembuangan sampah di Korsel

Dilansir Korea JoongAng Daily, sampah rumah tangga di Korsel wajib dibuang menggunakan kantong khusus yang dijual resmi oleh pemerintah daerah. Kantong ini menjadi barang penting karena tidak dapat digantikan dengan plastik biasa dalam kondisi normal.
Menggunakan kantong sampah yang tidak sesuai dengan peraturan merupakan pelanggaran Undang-Undang Pengelolaan Sampah. Adapun dendanya dapat mencapai hingga 1 juta won (Rp11,3 juta). Untuk pelanggaran kecil pertama kali, seperti gagal memisahkan beberapa barang daur ulang ke dalam tempat sampah yang benar atau menggunakan kantong sampah dari distrik yang salah, denda biasanya dimulai dari 100 ribu won (Rp1,1 juta).
Korsel adalah negara kecil bergunung-gunung dengan salah satu kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Tanpa sistem yang terstandarisasi, tumpukan sampah akan dengan cepat menjadi krisis kesehatan masyarakat.
Setiap rumah tangga harus menggunakan kantong sampah khusus yang dikeluarkan pemerintah, yang warna dan desainnya berbeda-beda di setiap distrik. Sistem ini, yang secara resmi dikenal sebagai sistem Biaya Sampah Berdasarkan Volume (Volume-based Waste Fee/VBWF), diperkenalkan pada 1995. Warga membayar biaya pembuangan di muka dengan membeli kantong sampah, artinya semakin banyak sampah, berarti semakin banyak yang harus dibeli.
2. Pemerintah Korsel menjamin stok bahan baku plastik

Data dari pemerintah kota Seoul menunjukkan penjualan harian kantong sampah melonjak drastis menjadi 2,7 juta kantong sampah pada akhir Maret 2026. Jumlah tersebut merupakan peningkatan lima kali lipat, dibandingkan dengan rata-rata harian tiga tahun sebesar 550 ribu kantong sampah. Akibatnya, sejumlah peritel besar mulai memberlakukan pembatasan pembelian per pelanggan.
Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel telah memutus jalur pasokan minyak utama melalui Selat Hormuz. Hal ini mengganggu ketersediaan nafta, yakni bahan baku utama polietilen yang digunakan untuk memproduksi kantong plastik. Untuk diketahui, Korsel adalah salah satu importir energi terbesar di Asia dan sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
Sebagai respons, pemerintah Korsel telah mengambil langkah-langkah drastis, yakni membatasi ekspor nafta demi mengamankan pasokan domestik dan menyiapkan anggaran masa perang sebesar 25 triliun won (sekitar Rp282,4 triliun). Serta, memberlakukan kontrol bahan bakar untuk pertama kalinya sejak 1997.
Menteri Energi Kim Sung-whan berupaya meredakan kepanikan publik dengan menjamin bahwa stok bahan baku daur ulang masih mencukupi untuk satu tahun ke depan.
"Tidak perlu khawatir. Kapasitas produksi kami sangat memadai dan tidak ada kenaikan harga. Bahkan, dalam skenario terburuk, pemerintah akan melegalkan penggunaan kantong plastik biasa untuk pembuangan sampah agar warga tidak perlu menumpuk sampah di rumah," ujarnya.
3. Presiden Lee Jae Myung pertimbangkan dekrit darurat

Baru-baru ini, Presiden Lee Jae Myung dalam rapat kabinet menginstruksikan para pejabat untuk mengambil langkah-langkah berani dan preventif, guna menstabilkan ekonomi. Ia juga menegaskan kesiapannya untuk mengeluarkan Dekrit Ekonomi Darurat, jika situasi memburuk.
"Bahan baku utama seperti urea, helium, dan aluminium harus dikelola secara ketat pada tingkat yang setara dengan pasokan masa perang," Lee menegaskan.
Berdasarkan Konstitusi Korsel, presiden memiliki wewenang untuk mengeluarkan perintah berkekuatan hukum tanpa persetujuan Majelis Nasional dalam kondisi krisis finansial yang serius. Langkah ini merupakan kebijakan ekstrem yang terakhir kali diambil pada 1993.
Selain intervensi kebijakan, pemerintah juga mengimbau warga untuk melakukan penghematan energi secara kolektif. Ini termasuk mengurangi durasi mandi dan menggunakan transportasi umum atau sepeda untuk menekan ketergantungan pada impor minyak.


















