Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bendera Korea Selatan (Korsel) (pexels.com/byunghyun lee)
  • Kementerian Pertahanan Korsel mengusulkan perluasan operasi unit Cheonghae mendekati Selat Hormuz, dengan tambahan pesawat P-8A dan 75 personel, setelah persetujuan kabinet, presiden, dan parlemen.
  • Misi non-tempur ini ditujukan melindungi kepentingan ekonomi serta warga Korsel, tanpa bergabung dengan pasukan sekutu; pesawat patroli dilarang memantau wilayah teritorial Iran dan bagian dalam selat.
  • Seoul menyiapkan kemampuan penjinakan ranjau untuk kemungkinan operasi pemulihan navigasi pascakonflik, tetapi menolak mengirim pasukan agar tidak terseret konflik internasional meski bergantung pada minyak Timur Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Pertahanan Korea Selatan (Korsel) menyatakan bahwa pihaknya akan memperluas wilayah operasional unit anti-pembajakan Cheonghae hingga lebih dekat ke Selat Hormuz. Perluasan tersebut juga akan mencakup pengerahan aset militer tambahan ke kawasan tersebut.

Pada Kamis (5/11/2026), Kementerian mengatakan bahwa pihaknya akan meminta peninjauan kabinet dan persetujuan presiden, sebelum mengajukan usulan tersebut kepada Majelis Nasional. Pihaknya mencatat bahwa usulan tersebut akan menambahkan mandat untuk mendukung upaya pemulihan kebebasan bernavigasi di jalur pelayaran internasional.

Dilaporkan oleh Yonhap, Kementerian juga akan mengerahkan pesawat patroli maritim P-8A dan menambah 75 personel dalam operasi unit tersebut. Saat ini, unit tersebut telah memiliki satu kapal perusak kelas 4.400 ton, satu helikopter operasi maritim, hingga tiga perahu karet kaku, serta sekitar 300 personel militer.

1. Perluasan operasi bertujuan melindungi kepentingan ekonomi dan warga Korsel

ilustrasi Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa peningkatan misi unit Cheonghae bertujuan melindungi kepentingan ekonomi dan warga negara Korsel. Pejabat tersebut menegaskan bahwa operasi tersebut semata-mata ditujukan untuk tujuan non-tempur, dan akan beroperasi secara independen, terpisah dari pasukan sekutu.

Pejabat itu menambahkan bahwa pesawat patroli maritim yang dikerahkan dilarang menargetkan atau memantau wilayah dan perairan teritorial Iran, serta bagian dalam Selat Hormuz. Hal itu menyusul insiden terbakarnya dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda, setelah kapal-kapal tersebut mencoba melintasi selat tersebut melalui rute yang tidak sah.

Dilansir Anadolu, unit Cheonghae telah dikerahkan sejak 2009, dengan mandat yang memerlukan persetujuan parlemen setiap tahunnya. Unit tersebut paling banyak ditempatkan di Teluk Aden, lepas pantai Somalia, serta di zona-zona kontingensi yang ditetapkan untuk melindungi warga negara Korsel.

2. Seoul persiapkan partisipasi Korsel dalam operasi pemulihan Selat Hormuz

ilustrasi bendera Korsel (pexels.com/준섭 윤)

Kementerian menambahkan, penambahan tim penjinak bahan peledak (EOD) serta sistem penyisiran ranjau nirawak bertujuan mempersiapkan kemungkinan partisipasi Seoul dalam operasi gabungan pascaperang guna memulihkan Selat Hormuz. Pembersihan ranjau laut di perairan tersebut diperkirakan memerlukan koordinasi internasional usai perang berakhir.

Operasi tersebut melibatkan pengerahan robot bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh untuk melacak target, memasang bahan peledak, dan meledakkan ranjau-ranjau tersebut. Seoul berupaya memanfaatkan pengerahan tersebut untuk menguji kinerja serta kemampuan adaptasi operasional sistem tersebut, mengutip The Guardian.

Korsel telah sepakat dengan Inggris, Prancis, dan negara-negara mitra lain terkait pentingnya lingkungan yang kondusif sebagai prasyarat untuk meluncurkan misi pemulihan. Kondisi tersebut merujuk pada berakhirnya konflik antara AS dan Iran, atau adanya perjanjian resmi untuk memulai operasi untuk memulihkan kebebasan bernavigasi di Selat Hormuz.

3. Korsel tolak kirim pasukan untuk mencegah Seoul terseret konflik internasional

Pasukan Korea Selatan (Korsel). (U.S. Army photo by Pfc. Seu Chan, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selama beberapa bulan terakhir, Seoul telah meninjau kemungkinan untuk mengerahkan pasukan ke Selat Hormuz. Presiden Korsel, Lee Jae-myung, juga telah menutup kemungkinan pengiriman pasukan dengan alasan bahwa cara tersebut dapat menyeret negaranya ke dalam konflik di luar negeri.

Menurut Kementerian Perindustrian, Korsel sangat bergantung pada impor minyak, dengan 70 persen pasokan minyak negara tersebut pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Sebagian besar dari pasokan tersebut dikirim melalui Selat Hormuz.

Trump telah mengkritik Seoul karena dianggap kurang memberikan dukungan terkait konfliknya dengan Iran, serta mengurangi skala latihan militer gabungan antara kedua negara. Seoul secara efektif telah menolak permintaan Washington untuk memberikan dukungan militer guna menghadapi Teheran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article