Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prancis-Qatar Sepakat Serukan Pembukaan Selat Hormuz

4 min read
Prancis-Qatar Sepakat Serukan Pembukaan Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Macron dan Sheikh Tamim menyerukan pembukaan Selat Hormuz tanpa pembatasan atau pungutan, sambil mendorong diplomasi dengan Iran setelah penutupan jalur mengganggu pasokan energi dan menaikkan biaya pelayaran.
  • Prancis mengamankan LNG Qatar setara dua terawatt-jam per bulan selama musim dingin, serta komitmen diesel 295 ribu ton per bulan dari UEA, Bahrain, dan Arab Saudi.
  • Prancis dan Qatar menuntut pelaksanaan gencatan senjata Gaza, bantuan kemanusiaan aman, penolakan aneksasi Tepi Barat, serta mendukung stabilitas Lebanon dan pemulihan ekonomi Suriah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menyerukan pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz pada Rabu (21/10/2026). Desakan ini disampaikan melalui pernyataan bersama usai pertemuan kedua pemimpin di Doha dalam rangkaian tur kawasan Teluk yang dilakukan Macron. Kedua kepala negara menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut tanpa batasan atau pungutan biaya apa pun.

Pertemuan bilateral selama dua hari di Doha itu bertujuan meredakan ketegangan kawasan sekaligus mengamankan pasokan energi bagi Prancis menjelang musim dingin. Selain krisis pelayaran di Selat Hormuz, Macron dan Sheikh Tamim turut membahas upaya diplomasi dengan Iran, gencatan senjata di Gaza, serta perluasan kerja sama pertahanan dan ekonomi.

  1. 1. Prancis telah mengajukan proposal pembukaan Selat Hormuz

    citra satelit Selat Hormuz
    citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Februari lalu telah mengganggu pasokan energi global serta melambungkan harga minyak dunia. Macron mengungkapkan bahwa kendala terbesar saat ini adalah biaya transportasi kapal yang melonjak hingga 10 kali lipat akibat ketiadaan asuransi pelayaran. Prancis bersama negara-negara Teluk kini tengah menyusun mekanisme diversifikasi infrastruktur guna mengurangi ketergantungan pada jalur perairan tersebut.

    Untuk meredakan situasi, Prancis telah mengajukan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz melalui perairan internasional dan perairan Oman, serta terus menjalin komunikasi dengan Washington maupun Teheran. Mediator Qatar, Ibrahim bin Sultan Al Hashmi, menyatakan upaya diplomatik terus berjalan untuk menurunkan ketegangan kawasan, sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut negaranya siap memberi kesempatan lagi bagi jalur diplomasi.

    "Proposal kami masih ada di meja perundingan dan tetap berlaku. Saya rasa dalam beberapa jam atau hari ke depan kita akan menerima tanggapan, terutama dari Iran," ujar Macron, dilansir The National.

    Meski mendorong penyelesaian diplomatik, Prancis dan Qatar tetap mengecam serangan militer Iran terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Kedua pemimpin menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Macron juga memperingatkan semua pihak agar sangat berhati-hati supaya ketegangan politik, termasuk menjelang pemilu di Israel dan pemilu sela di AS, tidak memicu pecahnya kembali konflik terbuka.

  2. 2. Prancis amankan pasokan gas dan diesel dari negara Teluk

    Presiden Prancis, Emmanuel Macron
    Presiden Prancis, Emmanuel Macron (Katja Kodba, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Di luar agenda keamanan maritim, kunjungan kenegaraan Macron ke Doha menghasilkan kesepakatan pasokan gas alam cair (LNG) dari Qatar untuk memenuhi kebutuhan musim dingin Prancis. Jaminan pasokan ini sangat dibutuhkan pemerintah Prancis guna menekan lonjakan harga bahan bakar yang memicu gelombang unjuk rasa berujung kerusuhan di negaranya. Dalam tur Teluk ini, Macron turut didampingi para pemimpin perusahaan energi raksasa Prancis, TotalEnergies dan Engie.

    "Kami mengamankan setara dua terawatt-jam LNG per bulan untuk periode musim dingin. Tujuan kami tercapai karena kami mendapatkan jaminan volume yang akan membantu warga kami dan menghindari kelangkaan pasokan," kata Macron, dikutip dari Euronews.

    Selain gas dari Qatar, Prancis juga mengantongi komitmen pasokan diesel tambahan sebanyak 295 ribu ton per bulan dari Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Arab Saudi. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 10 persen konsumsi bulanan Prancis di tengah lonjakan harga diesel Eropa yang mendekati 200 dolar AS (sekitar Rp3,6 juta) per barel.

    Di sektor militer, kedua negara menandatangani nota kesepahaman jaminan keamanan pertahanan serta menunjuk perusahaan KNDS France dan John Cockerill Defense untuk memodernisasi angkatan darat Qatar. Prancis juga menyepakati kontrak lanjutan penyediaan jet tempur Rafale generasi kelima, sistem radar, satelit komunikasi, dan kendaraan lapis baja bagi militer Qatar. Hubungan ekonomi kedua negara sendiri tercatat sangat erat dengan lebih dari 665 perusahaan Prancis beroperasi di Qatar dan nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar 6,39 miliar riyal (sekitar Rp30 triliun) pada 2025.

  3. 3. Pertemuan juga soroti konflik di Gaza dan Lebanon

    reruntuhan bangunan di Kota Gaza
    reruntuhan bangunan di Kota Gaza (Hla.bashbash, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Terkait konflik Palestina, Prancis dan Qatar menuntut pelaksanaan penuh kesepakatan gencatan senjata di Gaza serta penarikan pasukan Israel sesuai perjanjian yang telah disetujui. Keduanya mendesak penyaluran bantuan kemanusiaan yang aman dan tanpa syarat ke wilayah tersebut, mengingat laporan Program Pangan Dunia (WFP) menunjukkan sekitar 1,4 juta warga Gaza atau dua pertiga populasinya menghadapi krisis kerawanan pangan akut.

    Melansir Al Jazeera, kedua negara menegaskan kembali penolakan terhadap segala bentuk aneksasi di Tepi Barat serta menuntut penghentian kebijakan permukiman ilegal dan kekerasan oleh pemukim Israel. Doha dan Paris turut mendukung penyelenggaraan pemilihan umum Palestina serta solusi dua negara yang memungkinkan berdirinya negara Palestina merdeka berdampingan dengan Israel.

    Mengenai situasi di Lebanon, kedua pemimpin mendukung penerapan penuh Perjanjian Kerangka Kerja Trilateral untuk memulihkan kedaulatan pemerintah Lebanon, melucuti senjata kelompok Hizbullah, dan menarik seluruh pasukan Israel. Mereka mengingatkan agar berakhirnya mandat misi penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) tidak menciptakan kekosongan keamanan, sehingga dukungan internasional bagi angkatan bersenjata Lebanon harus terus dipertahankan. Sementara untuk Suriah, Prancis dan Qatar menyatakan kesiapan mendukung proyek pemulihan ekonomi dan stabilisasi bekerja sama dengan otoritas setempat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More