Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prancis Hadapi Gelombang Aksi Mogok Kerja dan Unjuk Rasa Massal

3 min read
Prancis Hadapi Gelombang Aksi Mogok Kerja dan Unjuk Rasa Massal
bendera Prancis (unsplash.com/Anthony Choren)
  • Ratusan ribu warga diperkirakan mengikuti demonstrasi dan pemogokan nasional di Prancis, dipicu biaya hidup, rencana penghematan anggaran, serta memburuknya fasilitas pendidikan.
  • Sebanyak 70.000 polisi dikerahkan menyusul kekhawatiran kerusuhan, sementara aksi diproyeksikan mengganggu kereta, logistik pelabuhan, energi, rumah sakit, pos, dan layanan publik.
  • Pelajar dan mahasiswa memblokade sekolah serta kampus terkait kepadatan kelas dan kerusakan gedung; aksi pendidikan turut diwarnai protes terhadap pengamanan ketat dan pembatasan rute demonstrasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ratusan ribu orang diperkirakan berunjuk rasa di berbagai kota di Prancis pada Kamis (5/11/2026). Aksi demonstrasi yang disertai pemogokan massal sektor publik ini dipicu oleh persoalan biaya hidup, usulan pemotongan anggaran belanja negara, dan memburuknya fasilitas pendidikan.

Mobilisasi berskala nasional tersebut diserukan oleh serikat pekerja serta didukung oleh kelompok pelajar menjelang pemilihan presiden mendatang. Pemogokan ini diproyeksikan meluas ke kalangan pegawai rumah sakit, petugas pengatur lalu lintas udara, pekerja pos, tenaga pendidik, hingga staf kereta api.

  1. 1. Puluhan ribu polisi dikerahkan di tengah kekhawatiran kerusuhan

    ilustrasi polisi
    ilustrasi polisi (unsplash.com/AJ Colores)

    Sebanyak 70.000 aparat kepolisian dikerahkan di seluruh wilayah Prancis pada Kamis pagi saat demonstrasi jalanan dimulai di kota Marseille, Grenoble, dan Lyon. Saluran televisi BFM TV mengabarkan bahwa badan intelijen domestik memperkirakan antara 500.000 hingga 700.000 demonstran berunjuk rasa di luar Paris.

    Dilansir TRT World, juru bicara pemerintah, Maud Bregeon, menyatakan pihak berwenang berada dalam kewaspadaan tinggi menyusul aksi penjarahan dan kerusuhan pada 17 Oktober yang merusak pertokoan serta gedung publik. "Kami sangat waspada karena sama sekali tidak boleh membiarkan peristiwa 17 Oktober terulang kembali," kata dia setelah rapat kabinet pada Rabu (4/11/2026). Presiden Emmanuel Macron juga memimpin rapat pertahanan dan keamanan untuk mempersiapkan langkah penanganan demonstrasi tersebut.

  2. 2. Pemogokan diproyeksikan mengganggu transportasi dan sektor energi

    unjuk rasa pelajar SMA di Paris, 6 Oktober 2026
    unjuk rasa pelajar SMA di Paris, 6 Oktober 2026 (FreCha, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Operator kereta api nasional SNCF memperingatkan potensi gangguan jadwal pada layanan perjalanan rute regional dan area Paris raya. Sementara itu, empat serikat pekerja kereta api menilai pemotongan anggaran yang diajukan pemerintah akan memperburuk kemiskinan dan membekukan gaji pegawai negeri. Di sisi lain, pemerintah tengah berjuang meloloskan anggaran penghematan tersebut di parlemen yang terpecah, di saat utang publik Prancis kini mendekati 120 persen dari output ekonomi.

    Dampak aksi industri ini juga diperkirakan menyentuh sektor logistik pelabuhan dan fasilitas energi nasional. Perusahaan utilitas milik negara EDF menyatakan bahwa serikat pekerja sektor ketenagalistrikan akan bergabung dalam aksi pemogokan hari Kamis. Sebelumnya, aksi pemogokan di sektor energi pada pertengahan September sempat memangkas pasokan listrik serta memotong kapasitas pengiriman di terminal gas alam cair Dunkirk LNG.

  3. 3. Pelajar blokade fasilitas sekolah dan soroti tindakan aparat

    Perusuh menjarah toko gim video saat kerusuhan di Paris, 17 Oktober 2026.
    Perusuh menjarah toko gim video saat kerusuhan di Paris, 17 Oktober 2026. (Jorge Jaramillo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Aksi penolakan turut meluas di kalangan murid sekolah menengah dan mahasiswa yang memprotes kepadatan ruang kelas serta kondisi gedung sekolah yang rusak. Dilansir The Guardian, pemerintah mencatat sebanyak 81 sekolah menengah terimbas unjuk rasa pada hari Kamis, sedangkan serikat pelajar menyebutkan jumlahnya mencapai 1.000 sekolah. Pemerintah turut mengonfirmasi sekitar sepertiga fasilitas pendidikan tinggi ikut terdampak aksi pemblokiran.

    Kementerian Pendidikan Prancis melaporkan hampir 18 persen guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar negeri diperkirakan berpartisipasi dalam pemogokan, sementara serikat pekerja memproyeksikan para guru sekolah menengah juga akan turut serta. Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia dan serikat pekerja memprotes pengamanan ketat serta pembatasan rute demonstrasi di pusat kota oleh otoritas keamanan. Pemimpin serikat pekerja CGT, Sophie Binet, mengecam pemindahan lokasi unjuk rasa keluar dari pusat kota di wilayah Rennes, Toulouse, dan Lyon. "Kita hidup di masa yang sangat serius dengan pergeseran otoriter yang sangat berbahaya dari pemerintah," ujar dia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More