ilustrasi Singapura (pexels.com/Ruyat Supriazi)
Laporan MSF menunjukkan bahwa keluarga masih menjadi sumber utama dalam memberikan dukungan kepada anggota keluarga yang membutuhkan. Mayoritas responden mengatakan mereka bersedia memberikan bantuan finansial, emosional, maupun fisik apabila ada anggota keluarga yang memerlukan pertolongan. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen untuk saling membantu dalam keluarga masih menjadi nilai yang dijaga oleh sebagian besar masyarakat Singapura.
Namun, ada satu perubahan yang cukup menarik. Persentase responden yang bersedia memberikan bantuan fisik sehari-hari, seperti membantu mandi, berpakaian, atau makan, turun dari 81,4 persen pada 2023 menjadi 73,8 persen pada 2025. Sementara itu, kesediaan memberikan dukungan finansial dan emosional justru tetap stabil bahkan sedikit meningkat.
Menurut Mathew Mathews, penurunan tersebut bukan berarti masyarakat semakin gak peduli terhadap keluarganya. Ia menjelaskan bahwa banyak orang kini semakin menyadari betapa beratnya tanggung jawab sebagai pengasuh, terutama ketika mereka juga harus bekerja, mengurus anak, dan merawat orangtua dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, sebagian keluarga mulai mengandalkan pekerja rumah tangga atau layanan perawatan profesional untuk membantu kebutuhan perawatan sehari-hari.
Meningkatnya jumlah lansia yang tinggal sendiri di Singapura menjadi salah satu gambaran perubahan demografi yang sedang berlangsung. Meski begitu, data terbaru menunjukkan bahwa hubungan keluarga di negara tersebut masih tergolong erat, bahkan rasa tanggung jawab untuk merawat orangtua mengalami peningkatan.
Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana keluarga dapat membagi beban perawatan lansia supaya gak sepenuhnya ditanggung oleh satu orang saja. Ke depannya, dukungan dari keluarga, layanan profesional, dan kebijakan pemerintah akan sama-sama berperan penting untuk memastikan para lansia tetap mendapatkan kualitas hidup yang baik, baik saat tinggal bersama keluarga maupun ketika memilih hidup sendiri.