Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Klaim Jadi Penjaga Selat Hormuz, Minta Bayaran 20 Persen

Trump Klaim Jadi Penjaga Selat Hormuz, Minta Bayaran 20 Persen
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (whitehouse.gov/Shealeah Craighead via commons.wikimedia.org/Shealeah Craighead)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Donald Trump mengumumkan rencana agar AS menjadi penjaga permanen Selat Hormuz dan meminta kompensasi 20 persen dari seluruh kargo yang melintas sebagai biaya keamanan.
  • Iran menolak intervensi militer AS dan menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika campur tangan asing dihentikan, sambil memperingatkan dampak besar bagi pasar energi global.
  • Eskalasi serangan rudal dan drone antara AS dan Iran mengancam kesepakatan gencatan senjata sementara, memicu lonjakan harga minyak serta ketidakpastian ekonomi di berbagai negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim turut menjadi penjaga Selat Hormuz, karena itu dia meminta bayaran 20 persen. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, tak lama setelah ia melontarkan gagasan serupa dalam wawancara telepon di program Fox News, Fox & Friends.

Langkah ini menandai eskalasi tajam dalam konflik yang tengah berlangsung antara AS dan Iran, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru soal stabilitas harga energi global.

Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu, 11 Juli 2026, dengan alasan adanya transit yang mereka sebut tidak sah. Pada Minggu, 12 Juli 2026, Teheran menegaskan, penutupan itu masih berlaku dan menyatakan izin lintas hanya akan diterbitkan setelah stabilitas dan ketenangan dipulihkan.

Penutupan itu langsung mendorong harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi di berbagai belahan dunia. Situasi semakin memanas setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone berat sepanjang akhir pekan hingga Senin (13/7/2026).

Iran mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di kawasan Teluk, sementara AS membalas dengan serangkaian serangan balasan. Eskalasi ini sekaligus mengguncang kesepakatan sementara yang ditandatangani bulan lalu, kesepakatan yang seharusnya membuka kembali Hormuz dan menghentikan permusuhan selama 60 hari ke depan.

1. Klaim jadi malaikat penjaga Hormuz

Klaim Jadi Penjaga Hormuz, Trump Minta Bayaran 20 Persen
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di Gereja St. John's. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Dalam wawancaranya di Fox News, Trump menggunakan ungkapan yang mencolok untuk menggambarkan peran baru yang ingin dimainkan AS di Selat Hormuz. Ia menyebut AS akan menjadi semacam pelindung permanen jalur perairan tersebut, dan meminta negara-negara lain untuk menanggung biayanya.

“Kami akan menguasai selat itu, dan kami mungkin akan mengelolanya. Kami akan menjadi penjaga selat. Mungkin kami akan menyebutnya malaikat penjaga selat. Dan kami seharusnya mendapat kompensasi untuk itu,” kata Trump dalam program Fox & Friends, dikutip dari Politico, Senin.

Trump menegaskan negara-negara lain yang diuntungkan oleh keamanan selat tersebut, yang disebutnya sebagai negara-negara kaya yang berada di pihak AS, tidak bisa terus mengharapkan AS menanggung beban itu tanpa imbalan.

“Kami akan mendapat kompensasi, karena negara-negara lain itu sangat kaya. Mereka berada di pihak kita, dan kita tidak bisa diharapkan melakukan itu tanpa bayaran,” ujarnya.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump secara resmi mengumumkan blokade dan menyertakan mekanisme kompensasi yang ia gagas. AS, kata Trump, akan memungut biaya sebesar 20 persen dari seluruh kargo yang melintas di selat tersebut, sebagai imbalan atas jaminan keamanan yang diberikan.

“AS akan mendapat kompensasi sebesar 20 persen dari semua kargo yang dikirim, untuk semua biaya yang diperlukan guna menjalankan tugas menyediakan keamanan di bagian dunia yang sangat bergejolak ini,” tulisnya.

Trump juga menegaskan, proses blokade akan dimulai segera, meski ia tidak merinci lebih lanjut mekanisme teknisnya. Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia, kini berada di bawah tekanan militer, dan diplomatik yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik AS-Iran kali ini.

2. Iran: Hentikan intervensi dulu, baru Selat Hormuz bisa dibuka

Klaim Jadi Penjaga Hormuz, Trump Minta Bayaran 20 Persen
Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di sisi lain, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Garda Revolusi Iran mengeluarkan pernyataan yang secara tegas menyebut satu-satunya cara untuk memulihkan lalu lintas pelayaran normal di Selat Hormuz adalah dengan mengakhiri intervensi militer AS di perairan itu.

Garda Revolusi juga memperingatkan, gangguan yang terus berlanjut dapat memicu insiden yang lebih besar di sektor minyak dan gas global. Ini sebuah ancaman yang dinilai bisa berdampak langsung pada pasar energi internasional, yang sudah dalam kondisi tertekan sejak penutupan selat diumumkan.

Trump merespons sikap keras Iran itu dengan menyinggung kesepakatan yang ia klaim sudah hampir tuntas sebelum akhirnya gagal. Ia menuding Iran sebagai pihak yang selalu mengingkari perjanjian dan menegaskan bahwa AS tidak akan mentoleransi hal itu lagi.

“Kami punya kesepakatan. Itu sudah hampir selesai, lalu mereka melanggarnya. Mereka selalu melanggarnya. Kami sudah punya 10 kesepakatan dengan orang-orang ini, dan jadi kami akan memukul mereka dengan sangat keras,” klaim Trump.

3. Kesepakatan gencatan senjata terancam runtuh

Klaim Jadi Penjaga Hormuz, Trump Minta Bayaran 20 Persen
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Eskalasi yang terjadi sejak akhir pekan ini juga membayangi nasib kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua pihak bulan lalu. Kesepakatan itu semula dirancang untuk membuka kembali Selat Hormuz, dan menghentikan permusuhan selama 60 hari, memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk melanjutkan negosiasi.

Namun, saling serang rudal dan drone kedua negara yang terjadi sepanjang akhir pekan hingga Senin ini menandai eskalasi tajam, baik dari sisi intensitas maupun jangkauan geografis serangan, yang melemparkan keraguan besar atas keberlangsungan kesepakatan tersebut. Iran menyebut telah menyerang fasilitas militer AS di sejumlah titik di kawasan Teluk, sementara AS melancarkan serangan balasan.

Situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik panas paling kritis dalam konflik AS-Iran yang tengah berlangsung. Ketidakpastian yang menyelimuti kawasan itu terus menekan harga energi global, dan membayangi prospek ekonomi di berbagai negara—termasuk negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk. Belum ada sinyal dari kedua pihak de-eskalasi akan segera terjadi dalam waktu dekat.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More