Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
 Lebanon Hadapi Krisis Pangan akibat Serangan Israel
ilustrasi petani (unsplash.com/Tim Mossholder)
  • WFP memperingatkan krisis pangan di Lebanon makin parah akibat serangan Israel yang memicu lonjakan harga bahan pokok dan gangguan rantai pasokan.
  • Lebih dari 80 persen pasar di Lebanon selatan berhenti beroperasi, stok pangan menipis, dan petani tak bisa menggarap lahan karena konflik serta kenaikan harga bahan bakar.
  • Sejak awal Maret 2026, serangan Israel telah menewaskan 1.888 orang di Lebanon, sementara WFP mengerahkan 10 konvoi bantuan untuk puluhan ribu warga terdampak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa kerawanan pangan di Lebanon semakin memburuk. Serangan militer Israel yang terus berlanjut di negara itu telah membuat harga barang melonjak dan mengganggu rantai pasokan.

“Apa yang kita saksikan bukan hanya krisis pengungsian, tapi dengan cepat menjadi krisis ketahanan pangan,” kata direktur WFP di Lebanon, Allison Oman, pada Jumat (10/4/2026).

Ia mengungkapkan bahwa hanya dalam 1 bulan, harga sayuran telah melonjak lebih dari 20 persen, sementara harga roti naik 17 persen. Kenaikan harga ini sangat mengkhawatirkan, terutama bagi masyarakat yang sudah kesulitan akibat perang, dilansir dari TRT.

1. Lebih dari 80 persen pasar di Lebanon selatan tidak lagi beroperasi

ilustrasi pasar (unsplash.com/MIGUEL BAIXAULI)

Meskipun pasar secara nasional tampak masih berfungsi, Oman memperingatkan bahwa kondisi tersebut menutupi gangguan serius di wilayah selatan yang terdampak konflik, di mana lebih dari 80 persen pasar sudah tidak lagi beroperasi. Beberapa pedagang bahkan melaporkan bahwa stok pangan yang tersisa hanya cukup untuk kurang dari 1 pekan.

“Ada gangguan rantai pasokan dan seluruh sistem pangan terkena dampaknya,” ujar Oman.

Ia mengungkapkan bahwa selama konflik, para petani di Lebanon selatan tidak dapat menggarap ladang mereka. Kondisi ini semakin diperparah oleh kenaikan harga bahan bakar global dan sulitnya akses terhadap pupuk.

2. WFP telah kerahkan 10 konvoi bantuan di Lebanon

truk bantuan WFP (Alex Blokha, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelum perang antara Israel dan Hizbullah kembali meletus pada 2 Maret 2026, sekitar 900 ribu orang di Lebanon telah menghadapi kerawanan pangan. WFP memperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat.

Sejak 2 Maret, WFP telah mengerahkan 10 konvoi bantuan yang diperkirakan menjangkau sekitar 40 ribu-60 ribu orang di Lebanon. Namun, sejumlah konvoi lainnya tidak dapat diluncurkan karena alasan keamanan.

“Pangan bukan sekadar bantuan, tetapi juga stabilitas, martabat, dan saat ini, dalam banyak kasus, menjadi penopang hidup,” kata Oman.

3. 1.888 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon

dampak serangan Israel di Lebanon (User Mema435 on en.wikipedia, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Pasukan Israel telah mengintensifkan serangannya di Lebanon sejak Rabu (8/4/2026), menewaskan sedikitnya 303 orang dan melukai 1.150 lainnya. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, total korban tewas sejak 2 Maret mencapai 1.888 orang, sementara 6.092 lainnya terluka.

Dilansir dari Anadolu, Lebanon dan Israel dijadwalkan melaksanakan perundingan gencatan senjata di AS pekan depan. Namun, pejabat senior Lebanon mengatakan bahwa perundingan tersebut bersifat persiapan, bukan negosiasi.

Perundingan ini terjadi setelah pengumuman gencatan senjata selama 2 pekan antara AS dan Iran. Baik Iran dan mediator Pakistan menyatakan bahwa kesepakatan tersebut juga mencakup Lebanon. Namun, Israel dan AS mengklaim sebaliknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team