Bundaran HI Bersinar Sambut Waisak 2570 Buddhist Era

- Bundaran HI berubah jadi lautan cahaya dengan instalasi bertema perdamaian dan simbol Waisak 2570 BE, menarik perhatian warga dari berbagai latar belakang.
- Perayaan Waisak di Bundaran HI menjadi momen pertama kali digelar meriah di pusat kota Jakarta, disambut antusias umat Buddha dan masyarakat umum.
- Wakil Gubernur DKI Rano Karno menegaskan makna perayaan ini sebagai wujud kota inklusif yang menghargai keberagaman dan memperkuat semangat persaudaraan antarumat beragama.
Jakarta, IDN Times - Suara lantunan doa umat Buddha terdengar syahdu di kawasan Bundaran HI.Tidak hanya itu, suasana menyambut Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era semakin meriah dengan berbagai instalasi lampu di kawasan pusat kota tersebut.
Jelang Hari Raya Waisak, Bundaran HI menjadi lautan cahaya penuh simbol perdamaian dan harmoni keberagaman. Berbagai instalasi menarik menghiasi kawasan ikonik ibu kota tersebut, mulai dari replika Patung Buddha bersemedi, miniatur Candi Borobudur, lampion warna-warni, hingga ornamen bertema kedamaian yang menyedot perhatian warga.
Andhita yang juga merupakan karyawan di sekitar Bundaran HI ini menyempatkan foto di miniatur Candi dan Budha di Bundaran HI. Meski beragama muslim, Andhita menyambut baik kemeriahan acara Hari Raya Waisak yang menampilkan beragam ornamen yang menghias trotoar di sekitar kawasan.
"Bagus dan menarik untuk spot foto, dan buat kita juga tahu ternyata agama Budha gini ya tadi ada kayak nyanyian dan lihat simbol-simbol agama mereka," katanya pada IDN Times.
Table of Content
1. Baru pertama Hari Raya Waisak dirayakan di Bundaran HI

Salah satu pengunjung yang datang adalah Yolanda (28), seorang umat Buddha asal Bekasi. Ia mengaku senang karena baru pertama kali merasakan perayaan Waisak digelar meriah di pusat kota Jakarta.
“Sebagai umat Buddha yang memang sengaja dari Bekasi datang ke sini, senang banget bisa datang ke Bundaran HI. Aku juga ngerasa kayaknya baru pertama kali ya,” ujar Yolanda.
2. Semua agama dirayakan

Yolanda mengaku terharu karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menghadirkan perayaan Waisak di ruang publik, sama seperti berbagai perayaan keagamaan lainnya yang selama ini rutin digelar di Bundaran HI
“Karena memang momentum hari raya keagamaan lain juga dirayakan ya, jadi kita senang. Apalagi umat Buddha juga kan umatnya nggak terlalu banyak,” katanya.
3. Kita besar diukur dari kelapangan terima perbedaan

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengatakan perayaan Waisak tahun ini merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global yang tetap hangat, inklusif, dan berbudaya.
“Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak tahun 2026, 2570 tahun Buddhis, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bergandengan tangan menghadirkan perayaan Waisak yang khidmat, indah, dan penuh makna di Jakarta,” ujar Rano di kawasan Bundaran HI.
Menurut dia, kota besar tidak hanya diukur dari megahnya gedung pencakar langit, tetapi juga dari sikap masyarakatnya dalam menerima perbedaan dengan penuh rasa hormat dan persaudaraan.
“Sebab kota yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung di kawasan Bundaran HI, tetapi juga dari lapangnya hati kita menerima setiap anak bangsa dengan penuh ketulusan,” katanya.
















