Umat Buddha Terharu Waisak 2026 Dirayakan di Bundaran HI

- Bundaran HI disulap jadi lautan cahaya dengan instalasi bertema perdamaian dan simbol-simbol Buddha untuk merayakan Waisak 2570 BE pada malam 29 Mei 2026.
- Yolanda, umat Buddha asal Bekasi, merasa terharu karena perayaan Waisak digelar meriah di pusat kota Jakarta dan menjadi ruang publik inklusif bagi semua umat.
- Wakil Gubernur DKI Rano Karno menegaskan perayaan ini mencerminkan semangat Jakarta sebagai kota global yang menghargai keberagaman dan menjunjung nilai persaudaraan.
Jakarta, IDN Times - Menyambut Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, disulap menjadi lautan cahaya penuh simbol perdamaian dan harmoni keberagaman, Jumat (29/5/2026) malam.
Berbagai instalasi menarik menghiasi kawasan ikonik ibu kota tersebut, mulai dari replika Patung Buddha bersemedi, miniatur Candi Borobudur, lampion warna-warni, hingga ornamen bertema kedamaian yang menyedot perhatian warga.
Salah satu pengunjung yang datang adalah Yolanda (28), seorang umat Buddha asal Bekasi. Ia mengaku senang karena baru pertama kali merasakan perayaan Waisak digelar meriah di pusat kota Jakart
“Sebagai umat Buddha yang memang sengaja dari Bekasi datang ke sini, senang banget bisa datang ke Bundaran HI. Aku juga ngerasa kayaknya baru pertama kali ya,” ujar Yolanda kepada IDN Times.
1. Yolanda terharu Hari Raya Waisak dirayakan tengah kota

Yolanda mengaku terharu karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menghadirkan perayaan Waisak di ruang publik, sama seperti berbagai perayaan keagamaan lainnya yang selama ini rutin digelar di Bundaran HI.
“Karena memang momentum hari raya keagamaan lain juga dirayakan ya, jadi kita senang. Apalagi umat Buddha juga kan umatnya nggak terlalu banyak,” katanya
2. Berbagai simbol Budha disajikan di Bundaran HI

Menurut dia, berbagai simbol yang ditampilkan dalam Festival Illumination of Jakarta: Glow of Peace 2026 juga menjadi sarana memperkenalkan nilai dan simbol agama Buddha kepada masyarakat luas.
“Di Bundaran HI ini ada gambar Buddha Gautama, ada bunga teratai, jadi senang banget bisa kasih tahu ke teman-teman yang mungkin selama ini belum tahu simbol dari agama Buddha. Jadi bisa saling kasih informasi,” ujarnya.
3. Kota besar dilihat dari penerimaan perbedaan

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengatakan, perayaan Waisak tahun ini merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global yang tetap hangat, inklusif, dan berbudaya.
“Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak tahun 2026, 2570 tahun Buddhis, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bergandengan tangan menghadirkan perayaan Waisak yang khidmat, indah, dan penuh makna di Jakarta,” ujar Rano di kawasan Bundaran HI.
Menurut dia, kota besar tidak hanya diukur dari megahnya gedung pencakar langit, tetapi juga dari sikap masyarakatnya dalam menerima perbedaan dengan penuh rasa hormat dan persaudaraan.
“Sebab kota yang besar bukan hanya diukur dari tingginya gedung di kawasan Bundaran HI, tetapi juga dari lapangnya hati kita menerima setiap anak bangsa dengan penuh ketulusan,” katanya.

















