Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Liput Panen Zaitun, Fotografer AFP Diserang Pemukim Israel di Tepi Barat
Ilustrasi kepalan tangan (Unsplash.com/Dan Burton)
  • Fotografer AFP Jaafar Ashtiyeh dipukuli dan kameranya dirampas enam pemukim Israel bersenjata saat meliput panen zaitun di dekat Desa Aqraba, Tepi Barat.
  • Ashtiyeh dievakuasi Bulan Sabit Merah Palestina ke rumah sakit Nablus dengan memar parah di kepala dan tubuh, lalu menjalani observasi 24 jam tanpa temuan patah tulang.
  • AFP dan Asosiasi Pers Asing mengecam serangan serta menuntut penyelidikan, termasuk atas dugaan pembiaran personel militer Israel yang berada sekitar 500 meter dari lokasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Seorang fotografer kantor berita Agence France-Presse (AFP) menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok pemukim Israel di wilayah Tepi Barat pada Selasa (6/10/2026). Peristiwa penyerangan fisik tersebut berlangsung saat pewarta foto itu tengah menjalankan tugas peliputan di kawasan perkebunan warga.

Aksi kekerasan terhadap pekerja media ini langsung memicu keprihatinan mendalam dan sorotan luas dari berbagai organisasi pers internasional. Komunitas jurnalis mendesak aparat berwenang segera menggelar investigasi menyeluruh guna meminta pertanggungjawaban hukum dari para pelaku.

1. Penganiayaan pada fotografer AFP dan perampasan kamera oleh pelaku

Fotografer AFP Jaafar Ashtiyeh (58) bersama rekannya, John Wessels, awalnya memantau situasi dari atas bukit dekat Desa Aqraba. Keduanya menyaksikan seorang tentara Israel menahan warga Palestina yang sedang memanen buah zaitun di area ladang.

Situasi mendadak memanas ketika sebuah mobil melaju kencang dan penumpangnya melepaskan tembakan yang melukai kaki seorang warga setempat. Tak lama setelah aksi penembakan tersebut, enam pria bersenjata bergerak cepat menyergap posisi kedua jurnalis.

Ashtiyeh berupaya menyelamatkan diri menuju kendaraan operasional pers, tetapi dua penyerang menerjangnya hingga tersungkur. Para pelaku memukulinya berulang kali menggunakan popor senapan serta merampas kamera miliknya, sementara rekannya tertahan di bawah ancaman todongan senjata api.

2. Evakuasi fotografer oleh tim medis Bulan Sabit Merah Palestina

Tim medis Bulan Sabit Merah Palestina segera tiba di lokasi kejadian untuk mengevakuasi Ashtiyeh. Dalam kondisi sadar, korban diangkat menggunakan tandu ke ambulans untuk dilarikan menuju fasilitas medis di Kota Nablus.

Pemeriksaan dokter memastikan Ashtiyeh menderita luka memar parah di bagian kepala dan badan akibat benturan benda tumpul. Kendati hasil rontgen menunjukkan tidak ada tulang yang patah, tim medis mewajibkan korban menjalani rawat inap untuk observasi berkala.

"Ayah akan tetap di rumah sakit untuk dipantau selama 24 jam," ujar anak korban, Zain Jaafar, dilansir The Guardian.

Insiden ini memperpanjang riwayat intimidasi yang dialami Ashtiyeh saat bertugas di Tepi Barat. Pada musim panen tahun lalu, kendaraan dinas liputannya juga pernah dilempari batu hingga dibakar oleh kelompok massa pemukim.

3. Kecaman keras pimpinan AFP atas penganiayaan jurnalis

Penganiayaan terhadap jurnalis tersebut menuai kecaman keras dari jajaran pimpinan kantor berita AFP. Manajemen kantor berita menegaskan bahwa aksi kekerasan bersenjata terhadap awak media yang sedang bertugas di lapangan sama sekali tidak dapat ditoleransi.

"Kami mengutuk keras serangan terhadap jurnalis yang meliput di Tepi Barat dan menuntut penyelidikan penuh," tegas Direktur Berita Global AFP, Phil Chetwynd.

Sorotan publik menguat lantaran belasan personel militer Israel dilaporkan berada sekitar 500 meter dari lokasi, tetapi tidak mengambil tindakan untuk menghentikan para penyerang. Terkait pembiaran tersebut, Asosiasi Pers Asing secara resmi menuntut militer mengusut dugaan kelalaian aparatnya.

Data Reporters Without Borders (RSF) mencatat sedikitnya 19 jurnalis telah ditahan di wilayah Tepi Barat dalam kurun tiga tahun terakhir. Berulangnya aksi penyerangan tanpa jerat hukum dinilai kian memperburuk ancaman keselamatan bagi para pekerja media di wilayah sengketa tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article