Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Israel Tutup Akses Tepi Barat Selama Sepekan Penuh Hari Raya Yahudi

3 min read
Israel Tutup Akses Tepi Barat Selama Sepekan Penuh Hari Raya Yahudi
pemandangan Tepi Barat, Palestina (Travel 2 Palestine, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Israel menutup akses Tepi Barat pada 25 September–3 Oktober 2026 selama Sukkot, melarang perlintasan warga Palestina kecuali darurat medis dan kemanusiaan.
  • Militer Israel mengerahkan 24 batalion, lebih dari dua kali jumlah normal, serta membatasi pekerja Palestina; penutupan juga menghentikan aktivitas ribuan pekerja.
  • Masjid Ibrahimi ditutup bagi Muslim selama tiga hari, puluhan usaha Yerusalem ditutup, sementara ratusan pos pemeriksaan memperparah hambatan mobilitas warga Palestina.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Otoritas militer Israel menutup akses ke Tepi Barat dan memperketat pergerakan warga Palestina menjelang hari raya Yahudi, Sukkot. Penutupan menyeluruh ini berlaku mulai 25 September hingga 3 Oktober 2026 atas perintah Menteri Pertahanan Israel Katz. Kebijakan tersebut diputuskan berdasarkan rekomendasi militer guna mengantisipasi insiden keamanan selama libur panjang.

Selama masa penutupan, militer melarang warga Palestina melintasi perbatasan menuju wilayah Israel maupun kawasan permukiman di Tepi Barat. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Yerusalem mengonfirmasi bahwa pintu masuk hanya dibuka untuk keperluan medis darurat dan kemanusiaan.

  1. 1. Militer Israel kerahkan 24 batalion untuk amankan libur Sukkot

    Tentara Israel di Tepi Barat
    Tentara Israel di Tepi Barat. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

    Hari raya Sukkot berlangsung selama sepekan penuh setelah perayaan Rosh Hashanah dan Yom Kippur. Pemerintah Israel rutin memberlakukan penutupan wilayah saat masa libur keagamaan karena periode ini rawan memicu lonjakan konflik di lapangan.

    Guna mengamankan libur tersebut, militer Israel menyiagakan 24 batalion pasukan di seluruh Tepi Barat. Jumlah pasukan ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding kondisi biasa yang rata-rata hanya menempatkan 11 batalion.

    Pengerahan pasukan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam hampir 25 tahun. Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir juga mengirim staf komando Divisi 98 untuk memperkuat pengamanan di sektor Yudea dan Etzion. Selain itu, Angkatan Udara Israel diminta siaga penuh guna mempercepat waktu respons operasional.

    Pembatasan ini juga menyasar para pekerja Palestina pemegang izin Arbel yang dilarang melintasi pos pemeriksaan militer. Penutupan perlintasan menghentikan kegiatan harian ribuan pekerja selama liburan berlangsung.

  2. 2. Penutupan tempat ibadah dan pembatasan aktivitas ekonomi warga

    Masjid Ibrahimi di Tepi Barat
    Masjid Ibrahimi di Tepi Barat (eman, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Otoritas Israel menutup total Masjid Ibrahimi di Kota Hebron bagi warga Muslim selama tiga hari. Akibatnya, salat berjemaah dan kumandang azan akan ditiadakan untuk memfasilitasi kegiatan ibadah warga Yahudi.

    Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam penutupan itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hak beribadah umat Islam. Kompleks bersejarah tersebut telah dibagi untuk komunitas Muslim dan Yahudi sejak insiden penembakan massal pada 1994. Pihak berwenang Palestina menilai Israel terus membatasi akses masuk warga Muslim ke tempat suci tersebut sejak perang di Gaza meletus.

    Pembatasan tempat ibadah juga dibarengi dengan tekanan ekonomi warga lokal di Kota Tua Yerusalem. Polisi Israel memerintahkan 56 unit usaha, mulai dari toko, kafe, hingga restoran di Pasar Penjual Kapas untuk berhenti beroperasi selama masa liburan. Aparat kepolisian bahkan meminta sekitar 200 warga Palestina yang tinggal di sekitar jalur peribadatan untuk tetap berada di dalam rumah.

    "Sangat tidak bisa diterima puluhan pedagang dipaksa menutup usahanya dan ratusan warga diperintahkan diam di rumah demi kelancaran doa kelompok lain," kata Tal Hassin, pengacara di Association for Civil Rights in Israel, dilansir Anadolu Agency.

  3. 3. Ratusan pos pemeriksaan hambat pergerakan warga Palestina

    Pemandangan Kota Yerusalem
    Pemandangan Kota Yerusalem. (unsplash.com/Raimond Klavins)

    Penutupan wilayah diperparah oleh ratusan rintangan fisik yang tersebar di Tepi Barat. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat ada lebih dari 300 pos pemeriksaan militer serta ratusan gerbang besi dan barikade jalan yang membatasi pergerakan warga Palestina. Titik perlintasan utama seperti Atara, Ein Siniya, dan Qalandiya mengalami kemacetan panjang dengan waktu tunggu pemeriksaan berjam-jam.

    "Tantangan terbesar berada pada gerbang besi yang kerap ditutup sepihak, sehingga kami harus mencari jalan rusak yang memperlambat penanganan pasien darurat," tutur Ahmed Jibril, Direktur Layanan Medis Darurat Bulan Sabit Merah Palestina, dilansir Middle East Eye.

    Di tengah pembatasan ketat bagi warga lokal, rombongan warga Israel justru leluasa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir memimpin lebih dari 1.200 warga memasuki pelataran masjid di bawah pengawalan ketat polisi. Juru bicara kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai provokasi berbahaya yang melanggar aturan tempat suci.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More