Berdasarkan rencana Dewan Perdamaian pada Oktober 2025, ISF bertugas mengamankan wilayah Gaza setelah penarikan pasukan Israel. Pasukan multinasional berpayung mandat PBB ini juga akan melatih unit kepolisian baru Palestina serta mendukung distribusi bantuan kemanusiaan. Rencana tersebut mengharuskan Hamas turun dari pemerintahan dan melucuti senjata seiring penarikan bertahap militer Israel.
Hamas menyatakan siap menyerahkan kekuasaan di Gaza kepada otoritas sementara dan melucuti senjata sesuai kesepakatan gencatan senjata. Namun, kelompok itu menegaskan implementasi kesepakatan bergantung pada kepatuhan Israel untuk menghentikan serangan dan menarik pasukannya. Hingga kini, militer Israel masih menolak keluar dan menduduki hampir 70 persen wilayah Gaza.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan kembali pada Senin bahwa pihaknya tidak akan mengizinkan rekonstruksi Gaza sebelum Hamas dilucuti dan wilayah itu didemiliterisasi.
"Anda bahkan tidak bisa mulai memasang utilitas. Anda tidak bisa mulai membangun fasilitas penunjang kehidupan dasar karena tanpa ISF, Anda tidak bisa masuk," ujar seorang sumber yang memahami proyek konstruksi di Gaza.
Meski memblokir pangkalan ISF, pemerintah Israel memberikan pengecualian untuk proyek kompleks hunian warga Palestina yang didukung Uni Emirat Arab di wilayah Gaza selatan yang dikuasai Israel. Sementara itu, serangan harian Israel sejak gencatan senjata diumumkan telah menewaskan lebih dari 1.488 warga Palestina. Secara keseluruhan, operasi militer Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 74 ribu warga Palestina.