Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Lukashenko, Diktator Terakhir Eropa yang Temui Prabowo
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Kamis (2/7/2026). (YouTube/Sekretariat Presiden)
  • Presiden Prabowo dan Presiden Lukashenko meluncurkan peta jalan kerja sama Indonesia–Belarusia 2026–2030 serta menandatangani tujuh MoU di sektor industri, kesehatan, budaya, keuangan, dan riset.
  • Kunjungan Lukashenko ke Jakarta menjadi balasan atas kunjungan Prabowo ke Belarusia pada 2025, menandai babak baru hubungan diplomatik kedua negara sejak 1950.
  • Lukashenko dikenal sebagai pemimpin terlama di Eropa yang berkuasa sejak 1994, dekat dengan Rusia, namun kerap dikritik Barat karena pemilu kontroversial dan tindakan keras terhadap oposisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Presiden Belarusia namanya Lukashenko datang ke Jakarta dan bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka. Mereka tanda tangan tujuh perjanjian supaya Indonesia dan Belarusia bisa kerja sama di banyak hal seperti kesehatan, budaya, dan teknologi. Sekarang dua negara itu mau saling bantu dan jadi teman baik untuk lima tahun ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Belarusia Alexander Grigoryevich Lukashenko baru saja melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, dan menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/7/2026). Pertemuan tersebut menghasilkan penguatan hubungan kedua negara melalui peluncuran peta jalan kerja sama Indonesia–Belarusia 2026–2030, serta penandatanganan tujuh nota kesepahaman (MoU) di berbagai sektor strategis.

Presiden Prabowo mengatakan, peta jalan tersebut akan menjadi kerangka kerja sama bilateral selama lima tahun ke depan. Menurutnya, kesepakatan itu mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperluas hubungan yang lebih konkret.

“Hari ini kedua negara telah meluncurkan peta jalan penguatan kerja sama Indonesia-Belarusia 2026-2030, yang akan menjadi kerangka bagi pengembangan hubungan bilateral selama lima tahun ke depan. Peta jalan ini mencerminkan komitmen bersama untuk kerja sama yang lebih terarah dan konkret,” kata Prabowo dalam keterangan pers bersama Presiden Lukashenko.

Selain meluncurkan peta jalan kerja sama, Indonesia dan Belarusia juga menandatangani tujuh dokumen kerja sama yang mencakup bidang industri, kesehatan, kebudayaan, akreditasi nasional, jasa keuangan, riset dan inovasi, hingga pertukaran laporan intelijen keuangan.

“Komitmen Indonesia dan Belarusia untuk memperkuat hubungan bilateral juga dibuktikan hari ini dengan disepakati sejumlah dokumen kerja sama oleh delegasi kedua negara di bidang kesehatan, budaya, akreditasi nasional, pelaporan transaksi keuangan, industri, sains dan teknologi serta jasa keuangan. Juga di bidang kerja sama pertahanan hubungan kami sangat baik,” ujar Prabowo.

Ia berharap seluruh kerja sama tersebut segera diwujudkan, sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. “Saya berharap kerja sama tersebut dapat segera diimplementasikan sehingga memberi manfaat nyata dalam waktu dekat bagi kedua negara,” ujarnya.

Kunjungan Lukashenko ke Jakarta merupakan balasan atas kunjungan Presiden Prabowo ke kediamannya di Belarusia pada Juli 2025. Namun, di balik agenda diplomatik tersebut, rupanya Lukashenko dikenal sebagai salah satu kepala negara dengan masa jabatan terlama di dunia yang telah memimpin Belarusia sejak 1994. Ia disebut-sebut sebagai ‘diktator terakhir Eropa’.

Berikut profil Lukashenko yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber:

1. Dari anak desa hingga menjadi presiden

Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko (commons.wikimedia.org/Kremlin.ru)

Alexander Grigoryevich Lukashenko lahir pada 30 Agustus 1954. Ia dibesarkan oleh ibunya, Ekaterina Trofimovna Lukashenko, yang bekerja di pabrik rel kereta api sekaligus sebagai pemerah susu.

Masa kecil Lukashenko dihabiskan di pedesaan. Ia kerap membantu ibunya memerah susu dan menjalani kehidupan sederhana. Dalam berbagai kisah mengenai dirinya, Lukashenko disebut tumbuh tanpa kehadiran ayah, sehingga kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya semasa kecil.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Lukashenko menempuh studi sejarah di Universitas Negeri Kuleshov Mogilev dan lulus pada 1975. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali menempuh pendidikan dan memperoleh diploma di bidang ekonomi dari Belarusian Agricultural Academy.

Usai kuliah, Lukashenko bertugas sebagai instruktur politik di Angkatan Darat Uni Soviet pada 1975–1977. Setelah meninggalkan dunia militer, ia bekerja di sejumlah lembaga yang bergerak di sektor pertanian hingga akhirnya terjun ke dunia politik.

Karier politiknya mulai menanjak ketika terpilih sebagai anggota Dewan Tertinggi Belarusia pada 1990. Tiga tahun kemudian, ia dipercaya memimpin sementara komite antikorupsi parlemen dan dikenal luas sebagai politikus yang vokal mengkritik praktik korupsi.

2. Berkuasa sejak 1994 dan dekat dengan Rusia

Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Belarus Alexander Lukashenko di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (2/7/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)

Pada pemilihan presiden pertama Belarusia setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1994, Lukashenko mencalonkan diri sebagai presiden. Meski bukan tokoh paling populer saat itu, citranya sebagai politikus antikorupsi berhasil menarik dukungan masyarakat.

Di putaran kedua pemilu, Lukashenko mengalahkan Perdana Menteri saat itu, Vyacheslav Kebich, dengan meraih lebih dari 80 persen suara. Kemenangan tersebut mengantarkannya menjadi Presiden Belarusia pada usia 39 tahun.

Dalam masa pemerintahannya, Lukashenko mempertahankan peran besar negara dalam perekonomian. Sejumlah industri strategis tetap berada di bawah kendali pemerintah dan hubungan dengan Rusia terus diperkuat.

Belarusia yang berbatasan langsung dengan Rusia sepanjang sekitar 1.239 kilometer, menjadi salah satu sekutu terdekat Moskow di kawasan Eropa Timur. Selama bertahun-tahun, Lukashenko menjalin hubungan erat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, termasuk dalam bidang ekonomi dan energi.

Ketika Belarusia menghadapi tekanan ekonomi dan inflasi tinggi pada 2011, pemerintah Lukashenko semakin memperkuat kerja sama dengan Rusia, termasuk memperoleh pasokan energi dengan harga yang lebih murah.

3. Pemilu kontroversial dan julukan ‘Diktator Terakhir Eropa’

Presiden Prabowo bertemu dengan Presiden Republik Belarus, Aleksandr Lukashenko (BelTa)

Di balik panjangnya masa kekuasaan Lukashenko, kepemimpinannya juga diwarnai berbagai kritik dari negara-negara Barat. Pada pemilihan presiden Agustus 2020, Lukashenko kembali dinyatakan sebagai pemenang. Namun hasil pemilu tersebut dipersoalkan oleh kelompok oposisi yang menuding telah terjadi kecurangan.

Gelombang demonstrasi besar kemudian terjadi di berbagai kota di Belarusia. Massa yang sebagian besar berasal dari kelompok prodemokrasi, menuntut Lukashenko mundur dari jabatannya.

Pemerintah Belarusia merespons aksi tersebut dengan tindakan keras. Ribuan demonstran dan sejumlah tokoh oposisi ditangkap. Peristiwa itu mendorong Uni Eropa menjatuhkan berbagai sanksi terhadap ratusan individu dan entitas di Belarusia.

Sejumlah media internasional dan pengamat Barat kemudian menjuluki Lukashenko sebagai diktator terakhir Eropa, karena masa pemerintahannya yang panjang serta berbagai kebijakan terhadap oposisi dan media.

Belarusia juga sempat menjadi sorotan ketika muncul tuduhan bahwa pemerintah Lukashenko mendorong arus migran dari Timur Tengah menuju perbatasan negara-negara Uni Eropa, sebagai respons atas sanksi yang dijatuhkan kepadanya. Tuduhan tersebut memicu krisis perbatasan di kawasan Eropa Timur.

4. Hubungan Indonesia–Belarusia memasuki babak baru

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Kamis (2/7/2026). (YouTube/Sekretariat Presiden)

Kunjungan Lukashenko ke Indonesia menjadi salah satu tonggak baru dalam hubungan kedua negara yang telah terjalin sejak 1950.

Selain meluncurkan Road Map for Bilateral Cooperation 2026–2030, Indonesia dan Belarusia menandatangani tujuh nota kesepahaman yang mencakup kerja sama industri, kebudayaan, kesehatan, akreditasi nasional, jasa keuangan, riset ilmiah dan teknologi, serta pertukaran laporan intelijen keuangan terkait pencucian uang, pendanaan terorisme, dan proliferasi senjata pemusnah massal.

Kedua negara juga menegaskan komitmen untuk memperluas kerja sama di bidang pertahanan, serta memperkuat hubungan ekonomi. Belarusia merupakan salah satu anggota utama Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU), sementara Indonesia telah menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU pada Desember 2025.

Bagi Indonesia, kunjungan kenegaraan Lukashenko tidak hanya menjadi momentum mempererat hubungan bilateral dengan Belarusia, tetapi juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan kawasan Eurasia, melalui berbagai kesepakatan strategis yang mulai dijalankan dalam lima tahun ke depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article