Musim Panas Eropa Makin Brutal, Kenapa AC Masih Sangat Jarang Dipakai?

- Gelombang panas di Eropa makin sering dan ekstrem, namun penggunaan AC masih rendah karena masyarakat sebelumnya terbiasa dengan iklim sejuk dan tidak menganggap pendingin ruangan sebagai kebutuhan utama.
- Biaya pemasangan serta tarif listrik tinggi membuat banyak warga memilih cara sederhana seperti kipas angin atau mandi air dingin dibandingkan menggunakan AC yang dianggap membebani pengeluaran rumah tangga.
- Desain bangunan lama, aturan pemerintah, dan target netral karbon turut membatasi penggunaan AC, meski permintaan mulai meningkat akibat perubahan iklim yang membuat suhu semakin brutal di berbagai negara Eropa.
Gelombang panas di Eropa kini datang lebih sering dan berlangsung lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu. Suhu di berbagai negara bahkan berkali-kali mencetak rekor baru, membuat aktivitas sehari-hari menjadi jauh lebih melelahkan.
Kalau kamu membayangkan semua rumah di sana pasti memiliki AC seperti di Amerika Serikat, kenyataannya justru sebaliknya. Hingga sekarang, penggunaan AC di rumah-rumah Eropa masih tergolong rendah meski cuaca semakin ekstrem. Kondisi ini tentu memunculkan pertanyaan besar, kenapa masyarakat di benua yang semakin panas justru masih jarang mengandalkan pendingin ruangan?
1. Dulu cuacanya memang belum sepanas sekarang

Selama puluhan tahun, sebagian besar negara di Eropa, terutama kawasan utara, dikenal memiliki iklim yang relatif sejuk. Musim panas memang selalu ada, tapi suhu tinggi biasanya hanya berlangsung dalam waktu singkat sehingga masyarakat masih bisa mengatasinya tanpa bantuan AC. Karena itulah banyak orang menganggap pendingin ruangan bukan kebutuhan utama, melainkan barang mewah yang hanya dimiliki sebagian kecil rumah tangga.
Kepala Office of Energy Efficiency and Inclusive Transitions di International Energy Agency (IEA), Brian Motherway, menjelaskan bahwa masyarakat Eropa memang gak memiliki tradisi menggunakan AC karena hingga beberapa waktu lalu mereka gak benar-benar membutuhkannya. Namun, perubahan iklim membuat gelombang panas datang lebih awal, lebih lama, dan lebih intens. Akibatnya, kebiasaan lama tersebut kini mulai dipertanyakan karena kondisi cuaca sudah jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
2. Biaya listrik dan pemasangan AC tergolong mahal

Alasan lain yang membuat AC belum populer di Eropa adalah faktor biaya. Harga pemasangan sistem pendingin ruangan gak murah, apalagi jika rumah belum memiliki instalasi yang mendukung. Setelah terpasang pun, tagihan listrik yang harus dibayar setiap bulan juga bisa meningkat cukup besar.
Kondisi ini semakin terasa karena tarif listrik di banyak negara Eropa relatif lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat. Sementara itu, tingkat pendapatan masyarakat gak selalu lebih tinggi sehingga banyak keluarga memilih menggunakan kipas angin, mandi air dingin, atau kompres es sebagai cara yang lebih hemat untuk menghadapi cuaca panas. Bagi sebagian orang, menggunakan AC sepanjang hari masih dianggap terlalu membebani pengeluaran rumah tangga.
3. Banyak bangunan lama memang gak dirancang untuk memakai AC

Desain bangunan di Eropa juga menjadi salah satu penyebab mengapa AC belum banyak digunakan. Di kawasan Eropa Selatan, banyak rumah tradisional dibangun dengan dinding tebal, jendela berukuran kecil, dan sirkulasi udara yang baik. Desain tersebut membantu menjaga suhu ruangan tetap lebih sejuk tanpa harus bergantung pada pendingin udara.
Sementara itu, banyak rumah di negara lain, termasuk Inggris, merupakan bangunan tua yang dibangun jauh sebelum teknologi AC menjadi umum. Brian Motherway menjelaskan bahwa masyarakat Eropa selama ini lebih terbiasa memikirkan cara menjaga rumah tetap hangat saat musim dingin daripada membuatnya sejuk saat musim panas. Selain itu, memasang sistem AC di bangunan lama sering kali membutuhkan renovasi tambahan sehingga biayanya semakin besar.
4. Aturan pemerintah dan target iklim ikut membatasi penggunaan AC

Selain persoalan biaya dan bangunan, regulasi pemerintah juga berperan penting. Di beberapa wilayah Inggris, misalnya, pemasangan unit AC luar ruangan bisa ditolak apabila dianggap mengganggu tampilan bangunan, terutama di kawasan bersejarah atau area konservasi. Proses perizinan tersebut membuat sebagian pemilik rumah mengurungkan niat memasang AC.
Di sisi lain, banyak negara Eropa memiliki target ambisius untuk mencapai kondisi netral karbon pada 2050. Penggunaan AC secara besar-besaran dikhawatirkan akan meningkatkan konsumsi listrik dan emisi karbon. Menurut penelitian dalam Environmental Research Letters, penggunaan AC di Paris bahkan dapat meningkatkan suhu udara luar sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius karena panas yang dibuang ke lingkungan. Itulah sebabnya beberapa negara mulai menerapkan aturan penghematan energi. Spanyol, misalnya, pernah menetapkan suhu minimum AC di ruang publik sebesar 27 derajat Celsius agar konsumsi energi tetap terkendali.
5. Permintaan AC mulai naik, tapi tantangannya masih besar

Meski penggunaan AC masih rendah, perubahan mulai terlihat di berbagai negara Eropa. Gelombang panas yang semakin ekstrem membuat banyak masyarakat mulai mempertimbangkan AC sebagai kebutuhan, bukan lagi barang mewah. Bahkan perusahaan penyedia layanan pendingin ruangan di Inggris mengaku permintaan pemasangan AC rumah meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan AC bukan solusi tanpa risiko. Radhika Khosla, Associate Professor di Smith School of Enterprise and the Environment, University of Oxford, menjelaskan bahwa penggunaan AC yang masih bergantung pada listrik dari bahan bakar fosil dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan siklus yang membuat suhu bumi semakin panas sehingga kebutuhan AC pun terus meningkat. Karena itu, para pakar menilai peningkatan penggunaan pendingin ruangan harus dibarengi dengan teknologi yang lebih hemat energi dan regulasi yang lebih ketat agar dampaknya terhadap lingkungan bisa ditekan.
Gelombang panas yang semakin brutal membuat Eropa menghadapi tantangan baru yang sebelumnya gak pernah menjadi perhatian utama. Meski AC mulai semakin dibutuhkan, banyak faktor seperti biaya, desain bangunan, regulasi, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi membuat penggunaannya masih jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.
Ke depannya, kebutuhan akan sistem pendingin kemungkinan terus meningkat seiring perubahan iklim yang semakin nyata. Tantangan terbesar bagi negara-negara Eropa adalah menemukan solusi yang mampu menjaga masyarakat tetap nyaman tanpa mengorbankan target perlindungan lingkungan dalam jangka panjang.




















