Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menlu China dan Filipina Saling Lempar Protes di ASEAN soal LCS
Menlu Filipina Ma. Theresa Lazaro dan Menlu China Wang Yi bahas Laut China Selatan di ASEAN. (AFP/TED ALJIBE)
  • Filipina dan China saling melayangkan protes keras di sela AMM ASEAN akibat insiden antara Penjaga Pantai China dan marinir Filipina di Second Thomas Shoal, Laut China Selatan.
  • Ketegangan tersebut menarik perhatian negara mitra seperti AS, Jepang, Australia, dan Kanada yang menyuarakan keprihatinan serta menolak tindakan sepihak yang dapat memicu konflik di kawasan.
  • Meski situasi memanas, kedua negara tetap berkomitmen melanjutkan negosiasi Code of Conduct Laut China Selatan yang didorong ASEAN agar rampung tahun ini demi menjaga stabilitas regional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Ketegangan antara Filipina dan China kembali mencuat di sela-sela Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/AMM) di Manila, Filipina. Kedua negara saling melayangkan protes keras menyusul bentrokan antara personel Penjaga Pantai China (China Coast Guard/CCG) dan marinir Filipina di Second Thomas Shoal, Laut China Selatan.

Meski demikian, kedua pihak tetap menyatakan komitmennya untuk melanjutkan negosiasi Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Insiden tersebut menjadi salah satu isu yang membayangi rangkaian pertemuan ASEAN pekan ini. Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Kanada, turut menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di kawasan.

Di sisi lain, ASEAN tetap mendorong percepatan penyelesaian CoC sebagai pedoman untuk menjaga stabilitas dan mencegah konflik di Laut China Selatan.

1. Filipina dan China saling layangkan protes

Laut China Selatan (pixabay.com/user1488365914)

Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa Lazaro menyampaikan protes langsung kepada Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam pertemuan bilateral di sela AMM. Menurut Kementerian Luar Negeri Filipina, Lazaro menyampaikan keberatan atas tindakan Penjaga Pantai China yang dinilai membahayakan keselamatan personel Filipina saat insiden di Second Thomas Shoal.

Dikutip dari The Diplomats, Kamis (23/7/2026), Filipina juga menegaskan perlunya semua pihak menahan diri, menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan, serta menyelesaikan sengketa sesuai hukum internasional.

Selain insiden di laut, Lazaro turut memprotes video buatan kecerdasan buatan (AI) yang diunggah media pemerintah China Daily dan menampilkan warga Filipina sebagai seekor monyet. Menurutnya, penggambaran tersebut sangat menyinggung, meresahkan, dan tidak dapat diterima.

Sementara itu, China membalas dengan menyampaikan protes keras kepada Filipina. Wang Yi menuding Manila melakukan provokasi di laut dan meminta Filipina segera menghentikan tindakan yang dinilai memperkeruh hubungan kedua negara.

Wang juga memperingatkan agar Filipina tidak membiarkan pihak luar mencampuri persoalan kawasan. Menurutnya, langkah tersebut hanya akan menjadikan Filipina sebagai pion yang dimanfaatkan pihak lain.

2. Insiden Laut China Selatan turut jadi sorotan internasional

Peta wilayah Laut China Selatan yang menjadi kawasan sengketa sejumlah negara Asia Tenggara

Ketegangan di Second Thomas Shoal turut menjadi perhatian sejumlah negara mitra ASEAN yang hadir dalam pertemuan di Manila. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menyatakan penolakannya terhadap segala upaya mengubah status quo secara sepihak, termasuk di Laut China Selatan.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong juga menyampaikan keprihatinannya terhadap tindakan yang dinilai meningkatkan risiko konflik di kawasan. Sikap serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand yang menyebut insiden tersebut mengkhawatirkan dan menegaskan intimidasi bukan cara menyelesaikan sengketa.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengangkat isu tersebut saat bertemu Wang Yi. Rubio menyebut insiden itu bersifat eskalatif dan tidak menguntungkan pihak mana pun.

Dalam pertemuan terpisah dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Rubio juga menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi dan penerbangan di Laut China Selatan serta mengingatkan komitmen pertahanan Amerika Serikat terhadap Filipina.

3. ASEAN tetap dorong penyelesaian CoC tahun ini

Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Manila, Filipina. (Dok. ASEAN Secretariat)

Di tengah meningkatnya ketegangan, Filipina dan China tetap menyatakan kesediaannya melanjutkan negosiasi CoC Laut China Selatan. Kementerian Luar Negeri Filipina menyebut kedua negara sepakat menjaga jalur komunikasi tetap terbuka, meningkatkan saling pengertian, serta memperkuat langkah-langkah membangun kepercayaan.

CoC diharapkan menjadi pedoman untuk mengurangi risiko konflik di Laut China Selatan, wilayah yang menjadi sengketa antara China dan sejumlah negara ASEAN, yakni Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam sidang pleno AMM menegaskan Indonesia mendorong penyelesaian CoC secara efektif, substantif, dan berlandaskan hukum internasional, khususnya Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982.

“Masyarakat kita telah menunggu selama 24 tahun untuk hadirnya aturan di laut. Mereka tidak seharusnya menunggu satu tahun lagi. Kawasan yang diatur berdasarkan hukum akan selalu lebih kuat daripada kawasan yang diatur berdasarkan kekuatan,” ujar Sugiono.

Senada dengan itu, Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan negosiasi CoC berpeluang dirampungkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 yang dijadwalkan berlangsung di Manila pada November 2026. Namun, target tersebut masih menghadapi tantangan di tengah kembali memanasnya ketegangan antara China dan Filipina di Laut China Selatan.

Editorial Team

Related Article