Potret Tiananmen Square di Beijing, China. (unsplash.com/Nick Fewings)
Keterlibatan aktif Beijing didorong oleh kebutuhan mendesak akan stabilitas ekonomi. Sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, gangguan energi berkepanjangan mengancam rantai pasokan industri China, mulai dari otomotif hingga semikonduktor.
China membutuhkan ekonomi global yang stabil karena sangat bergantung pada penjualan barang ke seluruh dunia dalam upayanya untuk menghidupkan kembali ekonomi domestik yang sedang lesu. Selain karena memiliki ketergantungan pada perdagangan internasional dan energi, kawasan Timur Tengah juga menjadi pasar penting bagi ekspor dan investasi China.
"China khawatir jika krisis ini berubah menjadi guncangan energi permanen yang melumpuhkan ekspor global," ujar Matt Pottinger, Ketua Program China di Foundation for Defense of Democracy, dikutip dari BBC.
Zhu Yongbiao, pakar Timur Tengah dan direktur Pusat Studi Afghanistan di Lanzhou University, mengatakan dukungan Beijing sebagai mediator sangat penting. Namun, ia menekankan bahwa China perlu berhati-hati agar tidak terseret ke dalam konflik yang lebih luas.
Disebutkan, peran Negeri Tirai Bambu sebagai mediator dinilai memiliki keterbatasan, terutama dari sisi militer dan persepsi netralitas. Meskipun China memiliki pengaruh ekonomi yang kuat sebagai mitra dagang utama Iran dan investor besar di Timur Tengah, Beijing menghadapi batasan nyata.
Dari segi kapasitas militer, berbeda dengan AS yang memiliki basis di setiap negara Teluk, kehadiran militer China di kawasan terbatas hanya pada pusat logistik di Djibouti. Dari sisi netralitas sangat dipertanyakan karena kedekatan Beijing dengan Teheran dan Moskow, serta isu domestik seperti Taiwan terus membayangi kredibilitas China sebagai 'penengah netral' dalam tatanan global.
Namun, Beijing terus berupaya memperkuat posisinya sebagai aktor global yang mendorong stabilitas. Setelah sukses menengahi rekonsiliasi Arab Saudi-Iran pada 2023, Presiden China Xi kini berupaya menegaskan peran negaranya sebagai penyeimbang kekuatan AS di Timur Tengah melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi.