Jakarta, IDN Times - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia) sudah digelar pada penghujung November 2025 di Johannesburg, Afrika Selatan. Tetapi, Presiden Prabowo Subianto memilih absen di KTT MIKTA 2025. Padahal, pertemuan dengan sejumlah kepala negara itu diadakan di sela-sela KTT G-20.
Indonesia diwakili Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut menjadi bagian dari delegasi itu. Gibran satu forum dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, hingga Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung.
Korea Selatan diketahui menjadi ketua MIKTA sepanjang 2025. Ini merupakan forum kerja sama lima negara kekuatan menengah, yaitu Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia. Tujuannya, menjembatani kelompok negara maju dan negara berkembang.
Pada 2025 menjadi kali ketiga Korsel menjadi ketua MIKTA. Sejak awal mereka mengampu posisi ketua dengan semangat optimistis.
Wakil Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Park Soo-deok, mengatakan MIKTA merupakan forum yang penting untuk menjaga perdamaian dan demokrasi. Tetapi pertanyaan yang sering muncul, yakni mengapa MIKTA tidak bersuara lantang terkait konflik yang sedang memanas di tingkat global?
Park menyebut respons terhadap konflik tidak bisa dilakukan per negara. Kelima negara harus bersatu dan bijak menyikapi sesuatu penuh ketidakpastian lebih dulu.
”Kita harus menyatukan apa yang bisa dilakukan dan bagaimana melakukannya. Temukan peluang untuk bersuara di saat yang tepat," ujar Park ketika berbicara di forum Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang bekerja sama dengan Korea Foundation dalam program Indonesia Korea Journalist Network (IKJN) dengan tema ”How Can MIKTA Members Synergize to Reinvigorate Middle Power Diplomacy?” di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan sebagai ketua MIKTA 2025, Seoul fokus pada tiga prioritas utama, yakni pembangunan perdamaian (peacebuilding), pemberdayaan pemuda, dan percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
"Tiga prioritas ini tidak hanya merefleksikan kebijakan Korea, tetapi juga aspirasi kolektif MIKTA," katanya.
Apakah tugas itu berhasil diemban Negeri Ginseng?
