Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Miliarder Nepal Sebut Pembangunan Pascabanjir Bisa Telan Rp88 Triliun
ilustrasi bendera Nepal (unsplash.com/Samrat Khadka)
  • Rekonstruksi infrastruktur Nepal pascabanjir diperkirakan menelan sedikitnya 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp88 triliun, dengan biaya berpotensi meningkat akibat medan pegunungan dan rehabilitasi.
  • Chaudhary Group bekerja sama dengan pemerintah, mitra lokal, dan militer untuk membuka pusat rehabilitasi, membangun rumah, serta membantu bisnis dan sekolah terdampak.
  • Banjir bandang menewaskan sedikitnya 475 orang dan membuat sekitar 1.200 orang hilang; pencarian terkendala komunikasi, sementara danau longsoran memicu ancaman banjir baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times Upaya membangun kembali infrastruktur Nepal setelah banjir besar yang melanda negara tersebut diperkirakan membutuhkan biaya sedikitnya 5 miliar dolar AS (sekitar Rp88 triliun). Perkiraan tersebut disampaikan oleh satu-satunya miliarder Nepal, Binod Chaudhary, di tengah proses penanganan bencana yang masih berlangsung.

Dikutip dari The Straits Times, Chaudhary mengatakan bahwa tantangan rekonstruksi bukan hanya soal biaya, tetapi juga waktu dan kondisi geografis Nepal yang bergunung-gunung. Dia memperkirakan nilai kerusakan dan kebutuhan pemulihan masih dapat meningkat seiring proses rehabilitasi yang berlangsung.

Sementara itu, Menteri Keuangan Nepal, Swarnim Wagle, turut memberikan perkiraan serupa. Wagle mengatakan Nepal kemungkinan membutuhkan beberapa miliar dolar untuk memulihkan kondisi setelah bencana, sementara estimasi awal kerusakan disebut cukup mengkhawatirkan.

1. Chaudhary Group siapkan bantuan untuk korban banjir

Miliarder Nepal, Binod Chaudhary. (Richter Frank-Jurgen, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Perusahaan milik Chaudhary, Chaudhary Group, bekerja sama dengan pemerintah, mitra lokal, dan militer Nepal untuk membantu proses pemulihan. Perusahaan telah mengerahkan para stafnya untuk mendirikan pusat rehabilitasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. Pusat tersebut ditargetkan mulai beroperasi dalam dua hari setelah bencana.

Chaudary Group juga berencana membangun kembali rumah serta membantu bisnis dan sekolah yang terdampak. Chaudhary mengatakan bahwa jumlah dana yang akan dikeluarkan perusahaannya untuk penanganan bencana kali ini diperkirakan lebih besar dibandingkan dengan gempa besar di Nepal pada 2015 lalu yang juga memicu program rekonstruksi nasional.

Sebagai informasi, banjir bandang menerjang wilayah pegunungan di perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus lalu. Sejumlah desa terendam, sementara jalan dan jembatan ikut tersapu arus. Sedikitnya 475 orang telah dikonfirmasi meninggal dunia, sementara sekitar 1.200 orang masih dinyatakan hilang.

2. China waspadai perkiraan bertambahnya volume air

ilustrasi bendera China (unsplash.com/ran liwen)

Nepal menghadapi ancaman baru akibat terbentuknya sebuah danau setelah longsoran di wilayah pegunungan. Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan danau tersebut menampung sekitar 2 juta meter kubik air pada Kamis. Namun, dalam tiga hari berikutnya, volume air diperkirakan bertambah hingga 3 juta meter kubik, setara dengan sekitar 1.200 kolam renang Olimpiade.

Dilansir Deutsche Welle, aliran air diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 1 September. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan jebolnya bendungan alami yang terbentuk akibat longsoran.

Beijing telah mengerahkan tim teknik yang terdiri dari delapan orang untuk memantau danau tersebut dari udara serta membuat model tiga dimensi lokasi. Tim tersebut menghadapi medan yang sulit setelah runtuhnya gletser membentuk danau dan menciptakan banyak tebing curam di sekitarnya.

Strategi awal yang dipertimbangkan adalah membuat saluran drainase pada bagian bendungan yang lebih rendah untuk mengurangi volume air. Hasil survei menunjukkan danau tersebut memiliki panjang sekitar 150 meter dengan kedalaman antara 40 hingga 50 meter. Hujan yang diperkirakan masih berlangsung juga berpotensi membuat tanah dan bebatuan di sekitar lokasi semakin tidak stabil.

3. Relawan sebut kondisi di Nepal seperti kekacauan

Gletser Khumbu di kawasan Sagarmatha Everest, Nepal, Himalaya. (© Vyacheslav Argenberg, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Situasi di Nepal digambarkan sebagai kekacauan oleh Dhruba Gurmachhan dari organisasi bantuan kemanusiaan World Vision. Menurut Gurmachhan, warga yang terdampak bencana saat ini sangat membutuhkan bantuan, dilaporkan oleh BBC.

Gurmachhan meyakini bahwa masih ada harapan mereka yang hilang bisa ditemukan dalam keadaan hidup. Gangguan jaringan komunikasi menjadi salah satu kendala utama dalam proses pencarian. Kondisi tersebut membuat keluarga dan tim penyelamat kesulitan mengetahui keberadaan orang-orang yang masih hilang.

Gurmachhan menggambarkan bagaimana rumah-rumah warga tersapu banjir hingga menyisakan kerusakan besar. Dia menyebut situasi di lapangan sangat memilukan dan kritis. Pemerintah serta berbagai organisasi kemanusiaan masih terus melakukan pencarian dan menyalurkan bantuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article