Polisi Nepal Peringatkan Penipuan Donasi Pascabencana Banjir

- Polisi Nepal memperingatkan potensi penipuan donasi digital setelah banjir bandang di hulu Bhotekoshi menewaskan ratusan orang, demi melindungi dana kemanusiaan.
- Penipu memakai QR palsu, akun media sosial tiruan, panggilan pencurian data bank, dan tautan phishing untuk mengarahkan donasi serta mencuri OTP korban.
- Pemerintah meminta donatur memverifikasi kanal resmi, melaporkan kecurigaan ke polisi, dan menyalurkan bantuan melalui rekening negara dalam kebijakan donasi satu pintu.
Jakarta, IDN Times - Kepolisian Nepal menerbitkan peringatan resmi bagi publik mengenai maraknya potensi kejahatan siber pascabencana pada Kamis (27/8/2026). Langkah darurat ini diambil setelah musibah banjir bandang melanda hulu Bhotekoshi dan menewaskan ratusan orang.
Imbauan tersebut dirilis guna memastikan dana kemanusiaan dari donatur tidak disalahgunakan. Pihak berwenang terus berupaya menjaga integritas penyaluran bantuan di tengah krisis bencana nasional yang melanda negara tersebut.
1. Ragam modus penipuan digital kelabui donatur

ilustrasi kejahatan siber (magnific.com/Studio DC) Pelaku kejahatan siber menyebarkan kode QR palsu di media sosial dengan meniru logo dan dokumen resmi pemerintah. Rekayasa ini dirancang khusus untuk memanipulasi donatur agar mentransfer uang langsung ke rekening pribadi pelaku.
Sindikat penipu juga membuat grup dan halaman palsu di berbagai platform media sosial dengan menyamar sebagai panitia kampanye darurat. Modus lainnya melibatkan panggilan telepon yang meminta data bank serta penyebaran tautan pancingan (phishing) guna meretas kata sandi sekali pakai (OTP) milik korban.
"Kami memohon agar Anda menyalurkan dukungan keuangan hanya ke rekening dan kode QR resmi demi memastikan perlindungan dari potensi penipuan," kata Juru Bicara Kantor Perdana Menteri Nepal, Hemraj Aryal.
2. Warga wajib verifikasi saluran dan laporkan kecurigaan

ilustrasi kejahatan siber (freepik.com/DC Studio) Pemerintah meminta masyarakat memverifikasi rincian rekening donasi langsung melalui kanal informasi resmi Kantor Perdana Menteri Nepal. Pengguna internet disarankan mengetik ulang situs web pemerintah dan tidak mengklik tautan acak di berbagai aplikasi pesan instan.
Donatur wajib memeriksa nama pemilik rekening sebelum menyelesaikan transaksi. Publik juga diingatkan agar tidak menyerahkan nomor kartu, PIN, atau OTP lewat telepon. Jika ada permintaan uang dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai kerabat korban, warga diimbau melakukan verifikasi via panggilan video.
"Siapa pun yang mencurigai adanya individu atau kelompok yang menjalankan penipuan berkedok bantuan bencana harus segera menghubungi kantor polisi terdekat," imbau Kepolisian Nepal.
3. Penyaluran bantuan terpusat cegah kebocoran dana

ilustrasi kejahatan siber (pexels.com/Sora Shimazaki) Peringatan keamanan siber ini sejalan dengan optimalisasi proses pencarian dan pertolongan korban di wilayah Rasuwa. Banjir bandang tersebut diketahui telah merusak ratusan rumah warga, jembatan penghubung darat, serta sarana telekomunikasi daerah.
Untuk mencegah kebocoran dana, pemerintah menetapkan kebijakan satu pintu dalam mengelola seluruh donasi. Lembaga donor diarahkan mengirimkan bantuan langsung ke rekening resmi negara. Kementerian Keuangan Nepal juga langsung mencairkan dana darurat guna mempercepat respons pemulihan pascabencana.
"Dana ini sudah dialokasikan dalam anggaran tahun berjalan untuk bantuan dan penyelamatan darurat sehingga bisa segera digunakan sesuai kebutuhan," kata Sekretaris Keuangan Nepal, Ghanshyam Upadhyaya, dikutip dari The Kathmandu Post.




















