Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Modi Sambangi Israel Usai Konflik Gaza Pecah, Perkuat Kerjasama?
Perdana Menteri India Narendra Modi (Narendra Modi, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
  • Perdana Menteri India Narendra Modi melakukan kunjungan dua hari ke Israel, bertemu Benjamin Netanyahu dan Isaac Herzog untuk memperkuat kerja sama strategis di bidang pertahanan, ekonomi, serta teknologi canggih.
  • Kedua negara menandatangani sejumlah kesepakatan baru termasuk investasi bilateral dan rencana perjanjian perdagangan bebas, menandai peningkatan signifikan hubungan diplomatik sejak 1992.
  • India tetap menjaga keseimbangan sikap terhadap konflik Gaza dengan mendukung solusi dua negara sambil mempertahankan kemitraan erat bersama Israel di tengah ketegangan regional Timur Tengah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Perdana Menteri India Narendra Modi mendarat di Israel pada Rabu (25/2/2026) untuk menjalani lawatan resmi selama dua hari. Ini menjadi kunjungan pertamanya sejak perang Gaza pecah sekaligus yang kedua sepanjang masa jabatannya setelah kunjungan bersejarah pada 2017.

Pesawatnya tiba di Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv pukul 12.45 waktu setempat dan langsung disambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Keduanya menggelar pembicaraan singkat di area bandara sebelum bertolak menuju Yerusalem.

1. Pemerintah India dan Israel perluas kerja sama strategis

bendera Israel (pexels.com/Leon Natan)

Sore harinya pukul 16.30 waktu setempat, Modi berpidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem sebelum kembali ke Tel Aviv untuk bermalam. Pada Kamis (26/2/2026), ia akan mengunjungi museum peringatan Holocaust Yad Vashem, bertemu Presiden Israel Isaac Herzog, melanjutkan dialog dengan Netanyahu, menyaksikan penandatanganan sejumlah kesepakatan bilateral baru, lalu meninggalkan Israel pada sore hari.

Sepanjang agenda tersebut tak ada jadwal pertemuan dengan pihak Palestina. Kedua negara menyatakan komitmen mempererat kolaborasi di bidang pertahanan, ekonomi, dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, teknologi kuantum, serta pembaruan perjanjian keamanan yang telah berjalan.

Duta Besar India untuk Israel, JP Singh, menjelaskan arah pembicaraan kedua negara.

“Kami tidak bersaing, kami justru saling melengkapi. Israel sangat bagus dalam inovasi, sains dan teknologi. Oleh karena itu, akan banyak pembahasan tentang AI, cybersecurity dan quantum,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.

Sedangkan Duta Besar Israel untuk India, Reuven Azar, turut menyampaikan pandangannya melalui pesan video.

“Kemitraan ekonomi kami sedang mendapatkan momentum nyata. Kami telah menandatangani perjanjian investasi bilateral, dan kami sedang bergerak maju untuk menandatangani perjanjian perdagangan bebas, semoga tahun ini,” katanya.

Ia juga menyebut Israel berharap perusahaan infrastruktur India dapat berinvestasi dan membangun proyek di negaranya, sembari memperkuat hubungan pertahanan lewat pembaruan kesepakatan keamanan. Pada September tahun lalu, kedua negara menandatangani Perjanjian Investasi Bilateral terbaru yang menggantikan kesepakatan 1996, dengan tujuan memberi kepastian dan perlindungan lebih kuat bagi investor.

Netanyahu menyampaikan pandangannya melalui akun X.

“Kami adalah mitra dalam inovasi, keamanan, dan visi strategis bersama. Bersama-sama, kami sedang membangun poros negara-negara yang berkomitmen pada stabilitas dan kemajuan. Dari AI hingga kerja sama regional, kemitraan kami terus mencapai ketinggian baru,” tulisnya.

Modi kemudian menyatakan bahwa India menghargai persahabatan jangka panjang dengan Israel yang dibangun atas dasar kepercayaan, inovasi, serta komitmen bersama terhadap perdamaian dan kemajuan. Netanyahu menyebut lawatan ini sebagai momen bersejarah.

2. Hubungan India dan Israel berkembang pesat

ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Pada awal berdirinya Israel tahun 1948, India menolak pembentukan negara tersebut dan menentang keanggotaannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1949, sebelum akhirnya mengakui Israel pada 1950. Hubungan diplomatik resmi baru terjalin pada 1992, setelah selama puluhan tahun India dikenal sebagai salah satu pengkritik kebijakan Israel terhadap Palestina di luar kelompok negara Arab.

Politikus India, Mahatma Gandhi, pernah menuliskan pandangannya pada 1938.

“Palestina milik orang Arab dalam arti yang sama seperti Inggris milik orang Inggris, atau Prancis milik orang Prancis,” tulisnya.

Sejak Modi menjabat pada 2014, relasi kedua negara meningkat tajam dengan nilai perdagangan melonjak dari 200 juta dolar AS (sekitar Rp3,37 triliun) pada 1992 menjadi 6,5 miliar dolar AS (sekitar Rp109,5 triliun) pada 2024. Saat ini India menjadi mitra dagang terbesar kedua Israel di Asia setelah China, dengan ekspor utama berupa mutiara, batu mulia, solar otomotif, bahan kimia, mesin, serta peralatan listrik, sementara impor dari Israel mencakup minyak bumi, mesin kimia, dan alat transportasi.

India tercatat sebagai pembeli utama persenjataan Israel. Pada 2024, sejumlah perusahaan India mengirim roket dan bahan peledak ke Israel di tengah konflik Gaza, dan wartawan senior Middle East Eye sekaligus penulis buku Hostile Homelands: The New Alliance Between India and Israel, Azad Essa, menggambarkan hubungan ini sebagai kemitraan khusus berbasis kerja sama strategis dan kesamaan ideologi.

3. India menjaga sikap di tengah ketegangan regional

Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)

Dilansir BBC, India mengecam serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 dan menyatakan solidaritas kepada Israel tetapi tetap menyampaikan keprihatinan atas korban sipil di Gaza serta mendukung solusi dua negara. New Delhi telah mengakui Palestina sejak 1988, sementara di tengah dinamika kawasan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap Iran terkait program nuklir dan rudal balistiknya, disertai peningkatan pengerahan militer AS di Laut Arab, dan India ikut menandatangani pernyataan lebih dari 100 negara yang mengutuk tindakan Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Kabir Taneja dari Observer Research Foundation menilai kemampuan teknologi pertahanan dalam negeri India masih tertinggal di banyak sektor, terutama ketika peperangan semakin otomatis dan berbasis teknologi.

“Mengingat ketegangan dengan Pakistan dan China, India tidak punya kemewahan untuk tidak mencari peralatan teknologi terbaik, dan Israel sangat cocok untuk kebutuhan tersebut,” katanya.

Ia juga mengatakan stabilitas Timur Tengah penting bagi keamanan energi dan jalur konektivitas India, meski New Delhi lebih memilih konflik kawasan diselesaikan oleh negara-negara setempat. Di Israel, sebagian anggota oposisi mengancam memboikot pidato Modi di Knesset akibat polemik reformasi peradilan dan tak diundangnya Presiden Mahkamah Agung Isaac Amit, sementara di India, oposisi termasuk juru bicara Partai Kongres Jairam Ramesh mengkritik kunjungan tersebut dan Harsh V Pant menyatakan India ingin menunjukkan komitmen berkelanjutan terhadap kemitraan dengan Israel sembari menyeimbangkan prioritasnya di Timur Tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team