protes di Tel Aviv, Israel pada 2024 (עמיעד סלטון Amiad Salton, Public domain, via Wikimedia Commons)
Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid menjadi salah satu tokoh politik yang paling vokal mengecam kesepakatan tersebut. Ia menilai pemerintahan Netanyahu telah gagal menepati semua janjinya untuk mengamankan wilayah utara Israel.
"Konfrontasi di Lebanon hanya bisa berakhir dengan satu cara, yaitu menyingkirkan ancaman terhadap permukiman utara secara permanen. Karena pemerintah saat ini tidak akan melakukannya, kami akan mewujudkannya di pemerintahan berikutnya," tegas Lapid, dilansir The Jerusalem Post.
Anggota parlemen sayap kanan Avigdor Liberman turut melontarkan kritik dengan menyebut gencatan senjata sebagai sebuah pengkhianatan. Menurutnya, jeda pertempuran hanya akan memberikan waktu bagi kelompok Hizbullah untuk kembali memulihkan kekuatan.
Senada dengan itu, mantan panglima militer Israel Gadi Eissenkot menyoroti kelemahan Netanyahu dalam melakukan proses negosiasi. Eissenkot menyebut sang PM tidak paham cara mengubah kemenangan militer menjadi pencapaian politik, sehingga negaranya terus dipaksa tunduk pada gencatan senjata.