Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Klaim AS Bakal Menang Telak atas Iran dalam 2 Pekan

Trump Klaim AS Bakal Menang Telak atas Iran dalam 2 Pekan
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Donald Trump mengklaim Amerika Serikat akan menang telak atas Iran dalam dua pekan dan menyebut negosiasi damai bisa rampung dalam beberapa hari ke depan.
  • Negosiasi perdamaian AS-Iran masih berlangsung secara tidak langsung melalui Pakistan, sempat terhenti karena Iran memprotes serangan Israel terhadap Lebanon.
  • Iran membantah klaim Trump tentang kesiapan mereka berdamai dan menilai pernyataan tersebut sepihak karena pembicaraan damai masih berjalan alot tanpa kesepakatan nyata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim AS bakal menang telak atas Iran dalam dua pekan. Sebab, Trump menyebut Iran bersedia memberikan apa pun untuk berdamai dengan AS. Ia juga menyebut negosiasi damai AS dan Iran bakal rampung dalam 2 atau 3 hari ke depan. 

"Anda benar-benar akan memenangkan ini dalam dua minggu ke depan ketika kita menyatakan kemenangan total. Ini akan menjadi kemenangan total. Itu akan terjadi sangat segera dan harga minyak akan anjlok," kata Trump pada Selasa (9/6/2026), seperti dilansir Jerusalem Post

1. Negosiasi AS dan Iran masih berlangsung

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Saat ini, negosiasi perdamaian AS dan Iran masih berlangsung. Negosiasi kedua negara sudah dilakukan sejak 21 Mei lalu. Namun, negosiasi kali ini dilakukan secara tidak langsung. Sebab, AS dan Iran hanya bertukar pesan saja lewat Pakistan yang berperan sebagai mediator. 

Negosiasi damai AS dan Iran sebetulnya sempat mandek. Sebab, pekan lalu, Iran memutuskan untuk menghentikan negosiasi dengan AS karena Israel terus menyerang Lebanon di tengah gencatan senjata. Sebagai negara sahabat, Iran tidak ingin Lebanon terus diserang Israel. Ini karena serangan Israel di negara tersebut sudah menewaskan banyak orang.

2. Trump kerap melontarkan klaim manis soal perdamaian AS dan Iran

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Trump sendiri memang kerap melontarkan klaim-klaim manis soal progres perdamaian AS dan Iran. Sebab, sebelum ini, Trump juga pernah mengklaim bahwa kedua negara akan segera berdamai. Klaim ini kerap membuat publik global berharap perang antara AS dan Iran yang sudah meletus sejak 28 Februari lalu segera usai.

Dua pekan lalu, misalnya, Trump menyebut kesepakatan damai AS dan Iran sudah dekat. Oleh karena itu, ia optimistis perang kedua negara bakal segera berakhir. Sebelumnya, Trump juga menyebut kesepakatan damai antara AS dan Iran bisa dicapai pada akhir pekan lalu.

3. Klaim Trump soal perdamaian AS dan Iran kerap meleset

Donald Trump sedang berada di tengah pasukan Amerika Serikat.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Namun, itu semua sebetulnya hanya klaim belaka. Sebab, Trump melontarkan semua klaim tadi secara sepihak. Iran sendiri membantah semua klaim yang dilontarkan Trump soal perdamaian dengan AS. Sebab, negosiasi perdamaian kedua negara masih alot sehingga kesepakatan damai tidak mungkin tercapai dalam waktu dekat.  

Dalam kesempatan lain, Iran juga membantah bersedia memberikan semua yang mereka miliki agar bisa berdamai dengan AS. Sebab, faktanya, Iran tidak pernah melontarkan pernyataan tersebut. Iran juga membantah klaim Trump bahwa mereka bersedia memberikan semua cadangan uraniumnya ke AS sebagai syarat perdamaian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More