Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Otoritas Nepal Kumpulkan Sampel DNA Keluarga Pekerja PLTA yang Hilang
bendera Nepal (unsplash.com/Samrat Khadka)
  • Otoritas Nepal meminta sampel DNA keluarga 147 pekerja PLTA Trishuli 3A yang hilang untuk identifikasi, sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung.
  • Tiga pekerja telah ditemukan selamat, termasuk Lu Haitao asal China yang dievakuasi dari terowongan terendam; sekitar 900 pekerja terdampak masih belum diketahui nasibnya.
  • Banjir akibat runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-Tibet menewaskan 1.384 orang dan menyebabkan 5.519 hilang; PBB meminta dana bantuan 50 juta dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang Nepal tengah berupaya mengumpulkan sampel DNA dari keluarga para pekerja pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang hilang. Langkah ini dilakukan untuk membantu proses identifikasi jika ditemukan jenazah.

Dilansir CNN, Otoritas Listrik Nepal, lembaga yang mengawasi jaringan listrik nasional dan sejumlah pembangkit listrik di negara tersebut, baru-baru ini mengeluarkan pemberitahuan yang meminta keluarga terdekat para pekerja yang hilang untuk memberikan sampel DNA kepada polisi.

Badan usaha milik negara tersebut mengatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di proyek PLTA Trishuli 3A. Mereka juga merilis data 147 pekerja yang dinyatakan hilang dan belum dapat dihubungi sejak terjadinya banjir.

1. Pekerja PLTA asal China berhasil diselamatkan pada Sabtu

ilustrasi tim penyelamat (unsplash.com/Maël BALLAND)

Sejauh ini, tiga pekerja PLTA telah berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Terbaru, seorang pekerja asal China, Lu Haitao, diselamatkan dari terowongan yang terendam air di lokasi proyek PLTA di distrik Rasuwa pada Sabtu (5/9/2026). Kondisinya tampak stabil meskipun mengalami hipotermia ringan. Ia kemudian diterbangkan dengan helikopter menuju rumah sakit di ibu kota, Kathmandu.

Tim penyelamat hingga kini terus mencari ratusan pekerja lainnya yang hilang. Dilansir The Guardian, pihak berwenang memperkirakan sekitar 900 pekerja di beberapa lokasi proyek PLTA yang terdampak bencana masih belum diketahui nasibnya. Sekitar 500 di antaranya diyakini terjebak di dalam terowongan.

2. Ratusan keluarga terus berharap orang-orang yang mencintai dapat ditemukan dalam kondisi selamat

terowongan (unsplash.com/Casey Horner)

Penyelamatan terhadap tiga pekerja yang terjebak di dalam terowongan selama beberapa hari terakhir telah memberikan secercah harapan bagi ratusan keluarga yang masih menanti kabar mengenai orang-orang terkasih mereka.

Salah satunya adalah Krishna Poudel. Beberapa hari lalu, ia menempelkan poster orang hilang yang memuat foto adik laki-lakinya, Ishwor, seorang pekerja PLTA berusia 26 tahun. Namun, hingga kini, ia belum mendapat kabar apa pun mengenai nasib adiknya.

Poudel mengatakan bahwa beberapa jam sebelum banjir terjadi, ia sempat berbicara dengan adiknya melalui telepon. Saat itu, Ishwor memberitahunya bahwa ia akan masuk ke dalam terowongan untuk bekerja.

"Pada pukul 11.30 siang, banjir datang menerjang, dan saya terus berusaha menghubungi adik saya. Akhirnya sambungan telepon tersambung dan dia berkata, 'Saya terjebak di dalam terowongan'," ujarnya.

3. Korban jiwa akibat banjir di Nepal-Tibet capai 1.384 orang

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)

Banjir dahsyat yang dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya menerjang wilayah perbatasan Nepal-Tibet, China, pada 26 Agustus 2026. Menurut data resmi dari kedua negara, total korban jiwa kini mencapai 1.384 orang, sementara 5.519 lainnya masih hilang, termasuk ratusan warga negara asing (WNA).

Pada Jumat (4/9/2026), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan bantuan dana sebesar 50 juta dolar AS (sekitar Rp881 miliar) untuk membantu lebih dari 84 ribu orang yang terdampak banjir. Mereka membutuhkan bantuan mendesak, termasuk tempat berlindung, makanan dan layanan kesehatan.

“Dalam hitungan menit, keluarga-keluarga kehilangan segalanya: orang-orang yang mereka cintai, rumah, dan mata pencaharian mereka tersapu begitu saja,” kata Koordinator Residen PBB di Nepal, Lila Pieters Yahia, dikutip CNN.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article