Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jepang Kirim Tim Ahli ke Nepal untuk Identifikasi Korban Banjir

Jepang Kirim Tim Ahli ke Nepal untuk Identifikasi Korban Banjir
Ilustrasi bendera Jepang. (unsplash.com/Roméo A.)
  • Jepang mengirim tujuh ahli JDR ke Nepal untuk membantu identifikasi korban banjir dan longsor 26 Agustus, dengan kedatangan dijadwalkan 4 September 2026.
  • Bencana dekat perbatasan Nepal-China menewaskan lebih dari 1.200 orang dan membuat sekitar 5.500 orang hilang, termasuk lima warga Jepang dari keluarga Yamamoto asal Osaka.
  • Tokyo berkoordinasi dengan pemerintah Nepal untuk pencarian warga Jepang, sementara ratusan orang diperkirakan terjebak di enam PLTA di lembah terdampak lumpur dan reruntuhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Jepang mengatakan pada Kamis (3/9/2026) bahwa negaranya akan mengirimkan tim ahli dari Tim Pakar Bantuan Bencana Jepang (JDR) yang beranggotakan tujuh orang ke Nepal. Mereka akan membantu otoritas lokal mengidentifikasi korban tewas akibat banjir besar dan tanah longsor yang melanda wilayah dekat perbatasan Nepal-China pada 26 Agustus 2026. Tim tersebut dijadwalkan tiba pada Jumat (4/9/2026).

"Pemerintah Jepang siap memberikan bantuan semaksimal mungkin, dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan hubungan persahabatan dengan Nepal," kata kementerian tersebut, dilansir laman resmi Kemenlu Jepang.

  1. 1. Banjir bandang di Nepal tewaskan lebih dari 1.200 orang

    Ilustrasi bendera Nepal. (unsplash.com/Samrat Khadka)
    Ilustrasi bendera Nepal. (unsplash.com/Samrat Khadka)

    Menurut kementerian tersebut, lebih dari 1.200 orang tewas dan sekitar 5.500 lainnya masih hilang akibat bencana tersebut. Lima warga negara Jepang termasuk di antara orang yang belum ditemukan.

    Tim tanggap darurat tersebut terdiri dari pejabat Kemenlu, Badan Kepolisian Nasional, Departemen Kepolisian Metropolitan, serta Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA). Selain tim identifikasi, JICA juga telah menugaskan tim terpisah yang beroperasi sejak Rabu (2/9/2026) untuk menilai kebutuhan medis mendesak di lapangan.

    "Nepal telah lama menjadi sahabat Jepang, dan pemerintah kami tidak akan ragu memberikan segala macam dukungan," ujar Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi kepada wartawan di Ulaanbaatar, dikutip dari Kyodo News.

  2. 2. PM Jepang terlah berkoordinasi dengan pemerintah Nepal

    Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)
    Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)

    Sebelumnya, upaya diplomasi dan koordinasi tingkat tinggi turut dilakukan langsung oleh Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, melalui komunikasi telepon dengan PM Nepal Balendra Shah pada Selasa (1/9/2026). Takaichi juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas jatuhnya korban jiwa, seraya menekankan keutamaan keselamatan warganya yang masih hilang.

    "Saya sekali lagi meminta pemerintah Nepal untuk memberikan kerja sama maksimal dalam mengamankan penyelamatan secepat mungkin terhadap lima warga negara Jepang yang masih hilang," kata Takaichi, dikutip dari Mainichi.

    Takaichi mengatakan Shah menanggapi dengan mengatakan bahwa pemerintah Nepal sedang melakukan segala upaya untuk menangani situasi tersebut.

  3. 3. Kondisi terkini wilayah Nepal yang diterjang banjir bandang

    Berdasarkan data Otoritas Pariwisata Nepal dan sumber pemerintah Jepang, lima warga Jepang yang hilang merupakan satu keluarga asal Osaka bermarga Yamamoto. Keluarga tersebut terdiri dari pasangan suami istri berusia 41 tahun dan tiga anak berusia 10,6, dan 3 tahun.

    The Straits Times melaporkan, delapan hari setelah banjir dahsyat itu, terlihat dari udara bagian lembah Sungai Trishuli di Nepal tampak menjadi hamparan abu-abu. Wilayah tersebut adalah tempat tim penyelamat berupaya menjangkau ratusan pekerja yang terjebak di pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Disebutkan, tanah telah mengeras seperti beton atau berubah menjadi gumpalan basah yang licin, dan tidak ada tanda-tanda pemukiman manusia yang terlihat.

    Pihak berwenang memperkirakan sekitar 900 orang terjebak di dalam enam PLTA di negara kecil Himalaya tersebut, tempat runtuhnya gletser yang mengirimkan gelombang besar lumpur, batu, dan air yang menerjang lembah-lembah pegunungan. Desa-desa seperti Syabrubesi kini tampak seperti lapisan lumpur berwarna abu-abu, dengan hanya beberapa bangunan yang tersisa. Sebelumnya, desa tersebut merupakan pintu gerbang bagi para pendaki Himalaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More