Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pakar: AS Jadi Komandan ISF Tapi Malah Tak Ikut Kirim Pasukan ke Gaza
Pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana. (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Pakar hukum internasional UI, Hikmahanto Juwana, menyoroti keputusan AS menjadi komandan ISF tanpa mengirim pasukan ke Gaza, sementara Indonesia justru ditunjuk sebagai wakil komandan bidang operasi.
  • Misi awal ISF akan dimulai dari sektor Raffah yang berbatasan dengan Mesir, namun pakar militer menilai lokasi itu berisiko tinggi karena merupakan basis kelompok Hamas di Gaza.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Guru besar hukum internasional dari Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, mengaku heran dengan penetapan kepemimpinan di International Stabilization Force (ISF). Sebab, Amerika Serikat menahbiskan diri sebagai komandan ISF tapi tidak ikut berkontribusi mengirimkan pasukan ke Gaza, Palestina. Sedangkan Indonesia yang berencana mengirimkan 8.000 personel TNI ke Gaza hanya didapuk sebagai wakil komandan bidang operasi.

"Ini bahaya. Panglimanya (ISF) dari Amerika Serikat dan kita telah menetapkan caveat nasional. Ketika kita mengirimkan pasukan ke sana, komandonya sudah bukan lagi di Pemerintah Indonesia tapi di jenderal AS itu. Padahal, jenderal AS itu gak punya pasukan dari negaranya sendiri," ujar Hikmahanto ketika dihubungi pada Rabu (25/2/2026).

Komandan ISF diketahui merupakan jenderal bintang dua yakni Mayjen Jasper Jeffers. Selain Indonesia, ada empat negara lain yang turut mengirimkan pasukan yakni Kosovo, Albania, Kazakhstan, dan Maroko. Ada pula Yordania dan Mesir yang siap untuk melatih personel polisi asal Palestina.

Ia mengingatkan konsekuensi didapuk sebagai wakil komandan ISF juga mengharuskan perwira tinggi TNI menjalankan mandat yang tertulis di piagam Board of Peace (BoP). Ada dua mandat yang tertuang di piagam BoP yakni pelucutan senjata dan demiliterisasi.

"Katakan lah jenderal AS itu memilih mundur maka yang naik wakil komandan. Itu berarti perwira tinggi di TNI itu yang akan menguasai seluruh pasukan dan bertugas melakukan dua mandat di BoP tadi," tutur dia.

1. Pasukan TNI tetap berpotensi berhadapan dengan Hamas saat bertugas

Ilustrasi prajurit TNI Angkatan Darat (AD). (ANTARA FOTO/Aprilio Akbar)

Lebih lanjut sebagai Wakil Komandan ISF, kata Hikmahanto, personel TNI tidak hanya bisa digerakan di sektor lima atau Raffah saja. Mereka dapat bergerak ke empat sektor lainnya.

"Bila itu yang terjadi maka berpotensi pasukan TNI berhadapan dengan kelompok Hamas. Sementara, Hamas sudah bilang pasukan internasional hanya boleh berada di wilayah perbatasan yang memisahkan antara Gaza dengan Israel," ujar mantan Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) itu.

Hamas, kata Hikmahanto, telah memberi peringatan agar personel TNI nantinya tidak berada di tengah Kota Gaza. Bila TNI masih bergerak ke sana akan dianggap bagian dari angkatan bersenjata Israel (IDF) dan berpotensi jadi sasaran untuk diserang.

"Sementara, kemungkinan besar, pasukan TNI bergerak bukan dengan menggunakan mandat PBB dan helm biru. Artinya, menggunakan helm yang membawa masing-masing bendera negara asal," tutur dia.

2. Pasukan ISF akan bergerak dimulai dari sektor Raffah

Peta pengerahan pasukan ISF ke Gaza. (Tangkapan layar YouTube White House)

Sementara, Komandan Pasukan ISF Mayjen Jasper Jeffers menyampaikan, ribuan personel akan disebar di lima sektor yaitu Raffah, Khan Yunis, Deir el-Balah, Kota Gaza, dan Gaza Utara. Untuk misi awal dimulai dari sektor Raffah yang berbatasan dengan Mesir.

Dalam pandangan pakar militer Al Araf, pengiriman pasukan TNI ke Raffah juga berpotensi menghadapkannya langsung dengan Kelompok Hammas. "Selama ini Raffah itu menjadi basisnya siapa? Basisnya Hammas dan penduduk Palestina. Itu terowongan bagi perjuangan Hammas ada di sana. Kenapa kita akan ditaruh di sana dan dijadikan deputi? Makanya jangan bangga bila dijadikan deputi komandan ISF oleh AS," kata Al Araf ketika dikonfirmasi pada Selasa kemarin.

Melihat skema rencana Negeri Paman Sam tersebut, Al Araf sudah menduga alasan personel ISF mulai ditugaskan dari sektor Raffah demi melucuti senjata Hammas. Itu sebabnya berisiko tinggi bagi TNI berhadap-hadapan di medan pertempuran dengan kelompok Hammas.

Sementara, Menteri Luar Negeri Sugiono tak menampik misi pengiriman pasukan TNI ke Gaza berisiko tinggi. Itu sebabnya dibutuhkan mandat yang jelas sebelum pasukan TNI dikirim ke lapangan.

"Kami juga tidak mau prajurit kami jadi korban di luar misi yang sedang dilaksanakan. Itu pentingnya peran Indonesia ada di Board of Peace dan menjadi wakil komandan ISF. Saya kira itu akan memperbesar keyakinan bahwa keamanan prajurit tetap bisa jadi yang utama," ujar Sugiono di Washington DC, AS pada Kamis (19/2/2026).

3. Belum ada perwira tinggi TNI yang ditunjuk menjadi Wakil Komandan ISF

Menteri Luar Negeri Sugiono ketika memberikan penjelasan usai KTT Board of Peace (BoP) di Washington DC. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

Sugiono menyebut, belum ada penunjukkan wakil komandan ISF. Hal tersebut akan ditentukan oleh TNI. "Belum kelihatan (ada yang ditunjuk). Itu nanti dari TNI lah yang memilih," ujar Menteri dari Partai Gerindra itu.

Kementerian Pertahanan pun mengaku belum bisa berkomentar banyak. Mereka memilih untuk menunggu instruksi dari Prabowo.

"Kami masih menunggu arahan dari Presiden," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen TNI Rico Sirait kepada IDN Times melalui pesan pendek pada Jumat (20/2/2026).

Sementara, Kepala Centre for Intermestic and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas mengatakan, pembicaraan mengenai pengiriman pasukan ISF tidak berakhir pada Kamis kemarin di Washington DC. Berdasarkan informasi yang ia miliki, masih akan ada pertemuan lanjutan yang akan dihadiri oleh jenderal bintang empat dari negara-negara yang sudah sepakat mengirimkan pasukan ke ISF.

"Setelah pertemuan yang ada di Washington DC, akan dilanjutkan dengan pertemuan four star general meeting. Di sana akan dibahas lebih detail mengenai level operasional hingga pembagian wilayah operasi pasukan ISF asal Indonesia," ujar Anton melalui telepon kepada IDN Times pada Jumat malam kemarin.

Ia menambahkan, jenderal bintang empat yang akan mewakili Indonesia kemungkinan adalah Panglima TNI atau Wakil Panglima TNI. Pertemuan tersebut rencananya akan diadakan di Timur Tengah 10 hari usai KTT BoP di Washington DC.

Editorial Team