Siswa SLB se-Nasional Bakal Dapat Keterampilan Bertani

- Program pelatihan nasional bagi guru SLB digelar di SEAMEO BIOTROP Bogor untuk memperkuat keterampilan pertanian siswa berkebutuhan khusus agar lebih mandiri di sektor agromaritim.
- Sebanyak 30 guru SLB dari 21 provinsi terpilih mengikuti pelatihan intensif yang berfokus pada budidaya ramah lingkungan, digital marketing, dan pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
- Kemendikdasmen dan SEAMEO BIOTROP menyiapkan monitoring lapangan serta evaluasi berkala guna memastikan penerapan praktik pertanian di sekolah berjalan efektif dan berkelanjutan.
Bogor, IDN Times – Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) di berbagai wilayah Indonesia diproyeksikan segera mendapatkan penguatan keterampilan di bidang pertanian, untuk mendukung kemandirian sektor agromaritim nasional.
Program pembekalan ini diawali dengan pelaksanaan pelatihan teknis intensif bagi guru SLB dari berbagai daerah, yang digelar di Kantor SEAMEO BIOTROP, Bogor, Rabu, 3 Juni 2026.
Kurikulum SLB pada dasarnya telah memuat materi keterampilan bertani, namun mayoritas guru yang mengampu mata pelajaran tersebut selama ini mengajar secara autodidak. Melalui sinergi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan SEAMEO BIOTROP, para pendidik dibekali kompetensi terstandar, agar siap melahirkan siswa berkebutuhan khusus yang mandiri melalui sektor pertanian.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamal, menjelaskan mengenai urgensi dan tujuan jangka panjang dari pembekalan ini.
“Tujuan utamanya ada dua: selain meningkatkan kemampuan guru, kami ingin anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kemandirian melalui sektor pertanian ini. Targetnya tidak mutlak harus menjadikan mereka petani, tetapi menjadikan pertanian sebagai tools (sarana) agar mereka bisa tumbuh menjadi siswa yang mandiri,” ujar Arif.
1. Diikuti 30 perwakilan SLB terbaik hasil seleksi nasional

Program pelatihan tatap muka yang berlangsung mulai 2 hingga 5 Juni 2026 ini merupakan tahapan kedua dari rangkaian pembekalan intensif nasional. Pada fase pertama, penyelenggara telah menjaring lebih dari 670 peserta dari seluruh Indonesia melalui platform daring.
Dari total ratusan pendaftar tersebut, pihak kementerian melakukan seleksi hingga terpilih 30 perwakilan guru SLB dari 21 provinsi, termasuk Yogyakarta, Makassar, hingga Papua yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan mata pelajaran keterampilan pertanian di sekolahnya.
Selain itu, Arif memaparkan mengenai keberagaman latar belakang keilmuan para guru yang didelegasikan dalam pelatihan langsung ini.
"Tadi saya sempat bertanya langsung kepada peserta, ternyata ada yang latar belakangnya guru matematika, guru PLB (Pendidikan Luar Biasa), psikologi, bahkan guru olahraga. Karena keterbatasan latar belakang keilmuan tersebut, selama ini mereka mengajarkan pertanian secara mandiri atau autodidak," kata dia.
2. Fokus pada keahlian pertanian aplikatif yang ramah lingkungan

Selama berada di kompleks SEAMEO BIOTROP, para guru SLB mendapatkan pembekalan materi teknis yang berfokus pada keahlian agrikultur praktis di lahan terbatas sekolah. Ragam materi yang diajarkan meliputi budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot), sistem akuaponik, budidaya perikanan air tawar melalui sistem biofloc, serta teknik hortikultura umum.
Tidak hanya fokus pada sektor hulu agromaritim, peserta juga dibekali materi penunjang dari kementerian, seperti strategi digital marketing untuk pemasaran produk, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Prof. Edi Santosa memberikan penjelasan mengenai hasil yang diharapkan dari penguasaan materi teknis tersebut, bagi metode pengajaran di sekolah masing-masing.
"Fokus kami saat ini adalah melatih para gurunya terlebih dahulu. Harapannya setelah mendapatkan materi di sini, guru-guru tersebut mampu memformulasikan dan menyederhanakan ilmu yang didapat, ke dalam metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa mereka di sekolah," jelas Edi.
3. Kemendikdasmen dan BIOTROP siapkan skema monitoring lapangan

Setelah masa pelatihan intensif usai, tugas pemantauan dan pendampingan implementasi praktik baik (good practices) akan diambil alih oleh kementerian di tingkat satuan pendidikan. Selain itu, pihak SEAMEO BIOTROP juga telah mengagendakan kunjungan langsung ke beberapa SLB peserta guna memantau perkembangan serapan ilmu serta melakukan evaluasi materi pengajaran secara berkala.
Edi Santosa menyampaikan proyeksi penutupnya menngenai rencana tindak lanjut serta potensi pembukaan gelombang pelatihan berikutnya demi memperluas cakupan agromaritim di sekolah inklusi.
"BIOTROP memiliki banyak kegiatan yang sangat relevan dengan apa yang disampaikan Pak Direktur tadi. Insya Allah, melihat respons dan dampak positif yang sangat bagus dari para peserta, kami berencana menyusun agenda ini agar bisa menjadi program reguler ke depannya," pungkas Edi.


















