Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PBB Beri Pengakuan, Nauru Kini Resmi Berganti Nama Jadi Naoero
ilustrasi bendera negara Naoero (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Nauru resmi berganti nama menjadi Republik Naoero pada akhir Juli 2026, setelah PBB dan kementerian luar negeri negara sahabat memperbarui data administrasi.
  • Presiden David Adeang menyatakan perubahan ini mengembalikan nama tradisional, menghormati leluhur, dan mengurangi pengaruh kolonial; warga kini disebut dei-Naoero.
  • Amandemen konstitusi disetujui parlemen melalui dua pemungutan suara tanpa referendum, sementara kode negara dan nama maskapai nasional akan disesuaikan bertahap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebuah langkah bersejarah diambil oleh negara kepulauan terkecil ketiga di dunia yang terletak di Samudra Pasifik Selatan. Mulai akhir Juli 2026, negara yang sebelumnya dikenal dunia sebagai Nauru ini telah resmi berganti nama menjadi Republik Naoero. Perubahan identitas resmi ini dilakukan setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai kementerian luar negeri negara sahabat memperbarui data administrasi mereka.

Presiden David Adeang menegaskan bahwa keputusan mengembalikan nama asli tersebut bertujuan untuk menghormati warisan leluhur serta melepaskan diri dari pengaruh sejarah kolonial masa lalu. Pemerintah setempat merealisasikan kebijakan ini melalui amandemen konstitusi tanpa perlu menggelar referendum nasional. Langkah ini pun menandai babak baru bagi kedaulatan budaya masyarakat di pulau tersebut.

1. Mengembalikan identitas budaya asli dei-naoero

jalan di Naoero (Matt Robertson/DFAT, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Nama Nauru awalnya muncul karena para penjajah Eropa dahulu kesulitan melafalkan nama asli pulau tersebut secara tepat. Dilansir Al Jazeera, nama Naoero sebenarnya sudah lama digunakan oleh masyarakat lokal dalam kehidupan sehari-hari dan tercantum pada lambang negara mereka. Kini, nama tradisional tersebut resmi dikembalikan untuk memperkuat harga diri bangsa di kancah internasional.

Selain mengubah sebutan wilayahnya, nama kewarganegaraan penduduk setempat juga ikut disesuaikan seiring kebijakan baru ini. Warga negara yang sebelumnya disebut sebagai orang Nauru kini resmi dipanggil dengan sebutan dei-Naoero. Kode negara internasional serta penamaan maskapai nasional mereka pun akan segera disesuaikan secara bertahap oleh pemerintah setempat.

2. Proses amandemen konstitusi tanpa referendum nasional

ilustrasi bangunan pemerintah (pexels.com/Brett Sayles)

Perubahan nama ini diawali dari usulan rancangan undang-undang amandemen konstitusi yang diajukan oleh presiden ke parlemen pada awal 2026. Dilansir The Guardian, parlemen akhirnya menyetujui amandemen tersebut melalui dua putaran pemungutan suara yang sah. Melalui proses legislasi yang matang tersebut, perubahan nama resmi ini dapat disahkan secara sah tanpa ada hambatan hukum.

Pemerintah pada mulanya berencana menggelar referendum nasional untuk meminta persetujuan langsung dari rakyat. Namun, rencana pemungutan suara massal tersebut akhirnya dibatalkan setelah para menteri dan anggota parlemen melakukan diskusi mendalam.

"Keputusan untuk tidak melanjutkan referendum diambil setelah pertimbangan matang bahwa Naoero bukanlah nama baru yang mencari penerimaan dari rakyat," tegas Presiden David Adeang dalam pengumuman resminya sebagaimana dikutip dari SBS News.

3. Mengikuti tren global pemulihan nama tradisional

ilustrasi peta dunia (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Langkah yang diambil oleh negara mikro berpenduduk sekitar 12.000 jiwa ini bukanlah fenomena yang sepenuhnya baru di dunia internasional. Naoero kini bergabung dengan jajaran negara-negara merdeka lain yang memilih menanggalkan nama berbau kolonial demi kedaulatan identitas budaya mereka. Sejarah mencatat beberapa negara tetangga di kawasan Pasifik seperti Tuvalu dan Vanuatu juga telah melakukan aksi serupa setelah bebas dari jajahan asing.

Di belahan bumi lain, beberapa negara juga sempat mengambil keputusan serupa untuk memperkuat jati diri nasional mereka. Sebagai contoh, Swaziland mengganti namanya menjadi Eswatini pada tahun 2018, sedangkan Turki resmi mendaftarkan nama Türkiye ke PBB pada tahun 2022 lalu. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemulihan nama tradisional merupakan instrumen penting bagi sebuah bangsa untuk merebut kembali narasi sejarah mereka sendiri.

Kini, perubahan administrasi nama dari Nauru menjadi Republik Naoero telah terdaftar secara resmi di pangkalan data Perserikatan Bangsa-Bangsa. Langkah ini diharapkan mampu memicu kebanggaan nasional yang baru bagi segenap warga dei-Naoero dalam menjaga kelestarian bahasa dan warisan budaya leluhur mereka di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article