Sekretaris Jendral PBB António Guterres (Xuthoria, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan pernyataan resmi dalam pengarahan media di New York pada Selasa (29/9/2026). PBB menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan warga sipil segera dimintai pertanggungjawaban hukum. Selain itu, pimpinan PBB menegaskan kewajiban semua pihak yang berkonflik untuk mematuhi hukum internasional.
"Sekretaris Jenderal dengan tegas mengecam serangan-serangan ini dan menyerukan kepada semua pihak agar segera menghentikan kekerasan demi melindungi warga sipil serta mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional," kata Dujarric. António Guterres turut mendesak seluruh pihak membuka akses aman, berkelanjutan, dan tanpa rintangan bagi PBB serta lembaga kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan vital.
Dujarric menambahkan bahwa pengeboman terbaru kian memperjelas tidak adanya kondisi yang aman, sukarela, dan bermartabat bagi kepulangan pengungsi, termasuk komunitas Rohingya. Di pihak lain, Arakan Army berjanji akan menggunakan segala cara untuk membalas militer dan siapa pun yang terlibat dalam pengeboman warga sipil. Konflik bersenjata yang berkecamuk sejak kudeta militer Februari 2021 dilaporkan telah menewaskan sekitar 100.000 orang serta menelantarkan lebih dari 3,5 juta jiwa.