Longsor dan Banjir di Myanmar Tewaskan Delapan Orang

- Banjir dan longsor akibat hujan deras di Tanintharyi, Myanmar selatan, menewaskan delapan orang di Launglon, menghancurkan sedikitnya 18 bangunan, serta menyebabkan 20-30 warga hilang.
- Akses darat yang putus memaksa tim bantuan berjalan melintasi lumpur menuju pengungsian; ratusan warga berlindung di wihara setelah kehilangan rumah.
- Konflik bersenjata menghambat evakuasi, pendataan korban, dan distribusi logistik, sementara cuaca ekstrem juga melanda Thailand hingga Bangkok menetapkan status darurat bencana.
Jakarta, IDN Times - Bencana banjir dan tanah longsor menerjang wilayah selatan Myanmar pada Senin (28/9/2026). Musibah yang dipicu curah hujan tinggi ini menyebabkan delapan orang tewas dan puluhan lainnya hilang di kawasan Tanintharyi.
Selain menelan korban jiwa, cuaca ekstrem tersebut melumpuhkan jalur transportasi darat di sejumlah daerah. Akses yang terputus membuat tim penyelamat kesulitan menjangkau permukiman warga yang terisolasi.
1. Longsor di Launglon telan delapan korban jiwa
Tim penyelamat mengonfirmasi delapan orang tewas akibat tertimbun longsor di kawasan Launglon. Bencana yang terjadi secara mendadak ini merobohkan dan mengubur sedikitnya 18 bangunan milik warga. Tiga korban tewas di antaranya merupakan remaja yang sempat berteduh di wihara sebelum terseret material longsor.
Hujan deras tanpa henti memicu pergerakan tanah dari area perbukitan. Selain korban meninggal, puluhan warga dilaporkan masih hilang di bawah reruntuhan, sementara tim relawan mengimbau masyarakat sekitar tebing untuk segera mengungsi guna mengantisipasi longsor susulan.
"Kami telah menemukan delapan jenazah, sementara sekitar 20 hingga 30 orang masih hilang," ungkap relawan sipil setempat, Hein Htet, dilansir The Star.
2. Konflik militer hambat operasi penyelamatan warga
Terputusnya akses darat membuat regu bantuan hanya bisa mencapai titik pengungsian dengan berjalan kaki melintasi lumpur. Ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal kini terpaksa mengungsi di bangunan wihara terdekat.
Konflik bersenjata yang masih berlangsung di Myanmar makin menyulitkan proses evakuasi di Tanintharyi. Situasi keamanan yang tidak stabil menghambat lembaga kemanusiaan untuk mendata tingkat kerusakan maupun memverifikasi jumlah korban.
Hingga kini, pemerintah pusat belum merilis data resmi mengenai jumlah korban secara menyeluruh. Penanganan pengungsi juga kian memburuk akibat minimnya pasokan bantuan logistik internasional.
"Kami kewalahan bukan hanya karena skala banjir, tetapi juga minimnya sumber daya akibat bencana alam di wilayah konflik ini," ujar Hein Htet.
3. Dampak cuaca ekstrem di Asia Tenggara
Cuaca ekstrem di Myanmar selatan merupakan bagian dari gelombang iklim buruk yang menerjang kawasan Asia Tenggara. Tekanan udara basah mengguyur wilayah pesisir Tanintharyi secara terus menerus sejak Jumat (25/9/2026).
Kondisi serupa terjadi di Thailand hingga memaksa otoritas Kota Bangkok menetapkan status darurat bencana. Hujan deras selama hampir 48 jam merendam permukiman dan melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Berdasarkan data lembaga Germanwatch, Myanmar masuk dalam daftar 10 negara paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Lemahnya sistem mitigasi bencana di kawasan tersebut berisiko memperparah dampak kerusakan di masa depan.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















.jpg)
