ilustrasi kamp pengungsi (pexels.com/Ahmed akacha)
Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan Mohammed Yahya mengingatkan bahwa lebih dari 5,5 juta warga Suriah masih mengungsi, kendati lebih dari 3,8 juta pengungsi dan pengungsi internal telah kembali. Sebanyak lebih dari 770 ribu orang tinggal di kamp-kamp penampungan, dengan kelompok perempuan dan anak-anak mencapai tiga perempat dari total populasi tersebut. Yahya menekankan pentingnya bantuan keberlanjutan bagi para warga terdampak.
"Tujuannya bukan sekadar membantu keluarga untuk kembali, tetapi secara konkret membantu mereka bertahan dan membangun kembali kehidupan mereka," ucap Yahya.
Ia juga mencatat bahwa bahaya bahan peledak telah mengakibatkan 2.500 korban sejak Desember 2024, sementara rencana respons kemanusiaan tahun 2026 baru terdanai sebesar 32 persen. Pemimpin masyarakat sipil George Batah menyampaikan dari Damaskus bahwa 2,7 juta anak masih berada di luar sekolah dan sekitar 8.000 fasilitas pendidikan tidak berfungsi.
Direktur Regional Plan International Hajir Maalim memperingatkan bahwa sektor pendidikan baru menerima 16,5 persen dari kebutuhan 337 juta dolar AS atau setara Rp6,04 triliun sehingga satu generasi berisiko tertinggal. Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat menyatakan menyambut baik kemajuan berkelanjutan yang sedang dicapai Suriah dalam prioritas politik, kemanusiaan, dan keamanan.