Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Israel Tetap Masuki Daraa usai Dikecam Suriah di Forum PBB

3 min read
Israel Tetap Masuki Daraa usai Dikecam Suriah di Forum PBB
ilustrasi operasi militer (pexels.com/Tomer Dahari)
  • Sembilan kendaraan militer Israel dilaporkan memasuki Wadi al-Raqad di pedesaan Daraa, melanjutkan rangkaian penyusupan di Suriah selatan.
  • Di Dewan Keamanan PBB, Suriah menilai aksi Israel berupa serangan, penyusupan, dan pelanggaran wilayah sebagai ancaman terbesar bagi stabilitas Timur Tengah.
  • Israel menuding Turki memperluas kekuatan militernya di Suriah, sementara Turki membantah dan menyatakan pasukannya hadir atas undangan resmi Damaskus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Militer Israel kembali melancarkan aksi penyusupan ke wilayah kedaulatan Suriah dengan mengerahkan sembilan kendaraan militer ke kawasan pedesaan Provinsi Daraa pada Jumat (18/9/2026). Iring-iringan kendaraan militer tersebut dilaporkan menerobos masuk ke area Wadi al-Raqad yang berada di kawasan Lembah Yarmouk.

Aktivitas militer tersebut berlangsung menyusul peringatan keras perwakilan Damaskus di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa sehari sebelumnya bahwa aksi Israel menjadi ancaman paling besar bagi stabilitas Timur Tengah. Pergerakan kendaraan militer itu memperpanjang rangkaian pelanggaran perbatasan yang terus berulang di Suriah bagian selatan.

  1. 1. Pergerakan armada militer Israel di Daraa

    Israel Defense Forces (Pasukan Pertahanan Israel)
    Israel Defense Forces (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    Laporan stasiun televisi Suriah Al-Ikhbariya, sebagaimana dilansir TRT World, menyebutkan bahwa sembilan kendaraan militer Israel terpantau memasuki area Wadi al-Raqad tanpa rincian lebih lanjut mengenai pergerakan taktis mereka. Wilayah yang terletak di Lembah Yarmouk pedesaan Daraa tersebut kerap menjadi lokasi penyusupan dan pergerakan pasukan militer Israel dalam beberapa bulan terakhir.

    Operasi ini merupakan bagian dari pola pergerakan pasukan yang meluas di Suriah selatan sejak runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024. Kala itu, Israel secara sepihak mengumumkan berakhirnya Perjanjian Pemisahan Pasukan tahun 1974, lalu menduduki zona penyangga Suriah dan kawasan lainnya.

    Pemerintah Damaskus telah berulang kali menuntut Israel menghentikan pendudukan dan mundur ke posisi sebelum 8 Desember 2024, seraya menegaskan kembali komitmennya terhadap perjanjian tahun 1974.

  2. 2. Kecaman keras Damaskus di forum PBB

    ilustrasi bendera Suriah
    ilustrasi bendera Suriah (pexels.com/Ahmed akacha)

    Sebelumnya, tindakan militer Israel di wilayah Suriah menjadi sorotan tajam dalam pertemuan bulanan Dewan Keamanan PBB terkait masa transisi Suriah pascarezim Assad pada Kamis (17/9/2026). Dilansir Al Jazeera, Duta Besar Suriah untuk PBB Ibrahim Olabi menyatakan dirinya terpaksa mengangkat tindakan militer Israel ke hadapan anggota dewan, meski awalnya ingin berfokus pada kemajuan pemulihan di negerinya.

    Olabi memaparkan penderitaan warga akibat gempuran yang terus dilancarkan negara tetangganya tersebut. “Israel menembus desa-desa kami, mengusir rakyat kami, membom fasilitas kami, sementara kami memilih untuk menghindarkan kawasan dari penderitaan yang lebih besar,” ujar Olabi. Ia juga menuduh Israel membalas berbagai upaya mediasi dan jalur dialog dengan serangan udara, penyusupan, serta pelanggaran wilayah.

    Menurut Olabi, agresi yang terus terjadi merupakan ancaman terbesar bagi stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah, bukan hanya bagi stabilitas Suriah. Ia turut merujuk pada deklarasi darurat 44 negara di luar ruang dewan yang mengutuk kunjungan petinggi Israel ke Jabal al-Sheikh di wilayah Suriah pada 9 September sebagai tindakan melawan hukum serta pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

  3. 3. Perdebatan panas antara Israel dan Turki

    ilustrasi bendera Israel
    ilustrasi bendera Israel (pexels.com/Thắng-Nhật Trần)

    Menanggapi tuduhan tersebut, Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon berupaya mengecilkan arti kehadiran personel militernya di Suriah dan justru mengalihkan tudingan kepada Turki. Danon memperingatkan anggota dewan bahwa Ankara berencana memperluas kemampuan militer di Suriah untuk mengambil alih kendali negara itu.

    Danon berargumen bahwa pengerahan pasukan Ankara jauh lebih masif dibandingkan zona pertahanan negaranya di perbatasan. “Turki memiliki 20 ribu tentara dan lebih dari 100 pangkalan di Suriah, mengendalikan 5 persen wilayahnya, 50 kali lebih besar dari 'penyangga keamanan' Israel,” kata Danon sembari menuduh Ankara mengikuti strategi proksi Iran.

    Duta Besar Turki untuk PBB Ahmet Yildiz membantah keras tuduhan itu dan menegaskan pasukannya berada di Suriah atas undangan resmi dari otoritas Damaskus. “Kami secara tegas menolak upaya Israel mencoreng kerja sama sah Turki dengan Suriah dan menggambarkannya sebagai ancaman demi membenarkan pelanggaran hukum internasional yang dilakukannya sendiri,” tegas Yildiz.

    Yildiz turut menuduh Israel merusak upaya kerja sama tersebut melalui serangan ceroboh serta penyusupan ke wilayah Suriah, dan mendesak Israel segera melakukan deeskalasi serta menarik mundur pasukannya. Sementara itu, Olabi mendesak agar forum PBB tidak lagi dijadikan panggung perdebatan isu proksi seperti di masa rezim terdahulu karena perdebatan semacam itu sangat menimbulkan trauma.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More