PBB: Pembatasan Israel di 65 Persen Gaza Jadi Hambatan Utama Bantuan

- PBB menyebut pembatasan Israel terhadap akses di 65 persen wilayah Gaza menjadi hambatan utama bantuan kemanusiaan, sementara 35 persen wilayah tersisa sudah sangat padat.
- OCHA dan mitra mengkaji tiga zona relokasi serta lebih dari 450 kamp pengungsian yang terancam banjir, namun persiapan terkendala pembersihan bahan peledak dan infrastruktur dasar.
- Pembatasan masuk alat berat, suku cadang, bahan bakar, dan pasokan medis menghambat respons bantuan; Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 1.431 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pembatasan oleh Israel terhadap akses di hampir dua pertiga wilayah Jalur Gaza menjadi penghalang utama bagi upaya bantuan kemanusiaan serta perlindungan banjir. Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan hal tersebut kepada para jurnalis dalam taklimat media pada Rabu (30/9/2026).
Dujarric membeberkan bahwa pembatasan akses tersebut mencakup 65 persen daratan Gaza. “Mitra kemanusiaan kami menekankan bahwa hambatan utama adalah pembatasan akses terhadap 65 persen wilayah Gaza,” kata Dujarric, seraya menambahkan, “Sisa 35 persen wilayahnya sudah sangat padat”.
1. Kajian zona relokasi pengungsi dan ancaman banjir musim dingin

ilustrasi bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (Makaristos, Public Domain, via Wikimedia Commons) Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) bersama kelompok mitra sedang mengkaji langkah-langkah darurat untuk melindungi keluarga dari hujan lebat musim dingin. Tim bantuan telah memeriksa tiga zona relokasi potensial guna mendirikan tempat penampungan sementara. Lokasi tersebut disiapkan untuk membantu keluarga yang memilih meninggalkan kawasan rawan banjir di dekat reruntuhan bangunan yang berisiko runtuh.
Pada saat bersamaan, tim kemanusiaan mengevaluasi lebih dari 450 kamp pengungsian yang menghadapi bahaya banjir parah. Dujarric mengatakan kamp-kamp yang ada saat ini menampung sekitar seperlima dari total populasi Gaza.
Dujarric menjelaskan pergerakan sukarela massal memerlukan pekerjaan persiapan lapangan yang ekstensif, terutama pembersihan kontaminasi bahan peledak di lokasi baru sebelum relokasi dimulai. Tim juga harus meratakan medan berpasir, memasang jaringan air, drainase, dan penerangan, membuka jalan akses, serta menyelesaikan masalah kepemilikan lahan.
2. Kendala izin masuk peralatan berat dan kebutuhan logistik

Polisi Israel (Israel Police, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons) Organisasi bantuan turut menghadapi hambatan logistik parah akibat pembatasan masuk. Dujarric menegaskan badan-badan bantuan sangat membutuhkan izin tambahan dari Israel untuk mendatangkan alat berat, suku cadang mesin, minyak pelumas, dan aneka pasokan penting lainnya.
Selain perizinan barang, lembaga bantuan memerlukan pendanaan untuk bahan bakar darurat. Dana tersebut juga diperlukan untuk pengadaan material kokoh guna memperbaiki struktur bangunan yang rusak.
3. Kelangkaan pasokan medis dan data korban perang di Gaza

Anak-anak pengungsi bermain di sekolah UNRWA yang dialihfungsikan jadi tempat penampungan, Jabalia, Gaza. (Abedallah Alhaj, CC BY-SA 3.0 igo, via Wikimedia Commons) Kendala operasional juga meluas ke sektor pelayanan kesehatan. Pekerja bantuan memang melatih staf lokal untuk menangani penyakit tidak menular, tetapi kekurangan medis membatasi penapisan dan perawatan pasien secara signifikan.
Dujarric memaparkan kesenjangan kritis masih terjadi pada perawatan kanker khusus, termasuk pasokan penting kemoterapi dan radioterapi. Sistem diagnostik turut terganggu akibat menipisnya bahan bakar generator serta kelangkaan suku cadang mekanis.
Sebagaimana dilansir TRT World, Kementerian Kesehatan Gaza pada Rabu melaporkan pelanggaran Israel atas kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 telah menewaskan 1.431 warga Palestina dan melukai 5.026 orang. Sejak Israel melancarkan perangnya di Gaza pada 8 Oktober 2023, lebih dari 74 ribu warga Palestina telah tewas, lebih dari 175 ribu lainnya luka-luka, dan 90 persen infrastruktur hancur.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















