Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pelapor PBB Sebut Genosida Gaza Bangkitkan Kesadaran Anak Muda Dunia
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Francesca Albanese menilai isu Palestina dan Gaza memicu bangkitnya gerakan anak muda di berbagai wilayah.

  • Generasi muda menuntut akuntabilitas institusi dan menggunakan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi sebagai bentuk perjuangan.

  • Ketidakpastian hidup dan minimnya kesempatan turut menyatukan perjuangan anak muda, meski tindakan represif juga muncul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sekitar 20 tahun

Rakyat Palestina telah melakukan perjuangan melalui gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi selama sekitar 20 tahun.

Rabu (21/10/2026) malam

Francesca Albanese menyampaikan pandangannya dalam diskusi publik di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Francesca Albanese menilai isu Palestina dan genosida di Gaza menjadi salah satu pemicu bangkitnya gerakan anak muda di berbagai belahan dunia.
  • Who?
    Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, menyampaikan penilaian tersebut.
  • Where?
    Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi publik di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
  • When?
    Pernyataan tersebut disampaikan pada Rabu (21/10/2026) malam.
  • Why?
    Palestina menjadi pemantik kesadaran anak muda terhadap berbagai bentuk ketidakadilan, sementara ketidakpastian hidup dan minimnya kesempatan turut menyatukan mereka.
  • How?
    Anak muda menuntut akuntabilitas institusi dan mengambil tindakan melalui gerakan sosial, termasuk Boikot, Divestasi, dan Sanksi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Francesca Albanese bercerita bahwa anak muda di banyak negara melihat apa yang terjadi di Palestina dan Gaza. Mereka lalu meminta universitas serta institusi bertanggung jawab. Mereka juga ikut gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi. Anak muda merasa hidup tidak pasti dan kesempatan sedikit, tetapi mereka tetap bersatu memperjuangkan hak asasi manusia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernyataan Francesca Albanese menunjukkan adanya keterlibatan anak muda dalam menuntut akuntabilitas dan memperjuangkan hak asasi manusia. Mereka tidak hanya menyaksikan peristiwa di Palestina, tetapi juga mengambil tindakan melalui gerakan sosial. Di tengah ketidakpastian hidup dan minimnya kesempatan, kondisi ini memperlihatkan munculnya rasa persatuan dalam perjuangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese, menilai isu Palestina dan genosida di Gaza menjadi salah satu pemicu bangkitnya gerakan anak muda di berbagai belahan dunia.

Menurut Albanese, generasi muda mulai bergerak menuntut akuntabilitas atas apa yang terjadi di Palestina. Gerakan tersebut muncul di berbagai belahan benua, mulai dari Amerika Serikat, Eropa, Australia hingga kawasan lainnya.

1. Anak muda jadi yang pertama tuntut akuntabilitas

Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Albanese mengatakan kaum muda di berbagai negara, khususnya negara-negara Barat, menjadi kelompok yang pertama menuntut pertanggungjawaban atas keterlibatan institusi mereka dengan pendudukan Israel. Ia menyebut anak muda di Amerika Serikat, Eropa hingga Australia mengecam keterlibatan universitas dengan apa yang disebutnya sebagai ilegalitas pendudukan dan apartheid Israel.

"Karena jujur saja, kaum muda di seluruh dunia, terutama di negara-negara Barat, dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Australia, telah menjadi yang pertama menuntut akuntabilitas, mengecam keterlibatan (complicity) universitas-universitas mereka dengan ilegalitas pendudukan dan apartheid—apartheid Israel—yang melakukan genosida, serta menuntut universitas mereka memutus hubungan dengan sistem tersebut," ujar Albanese.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat genosida yang terjadi di Gaza menjadi pengalaman yang disaksikan secara langsung oleh generasi muda saat ini.

"Maka bagi kaum muda di seluruh dunia ini, genosida ini adalah ingatan, memori yang sedang terbentuk secara langsung," katanya.

Albanese membandingkan pengalaman generasi muda saat ini dengan generasinya yang mempelajari genosida dari buku sejarah.

"Ini tidak seperti generasi saya yang mempelajari apa itu genosida dari buku sejarah, lalu tetap berdiam diri, karena generasi saya pasif di hadapan genosida di Rwanda atau genosida di bekas Yugoslavia," tutur Albanese.

2. Gerakan boikot, divestasi, dan sanksi sebagai salah satu bentuk perjuangan

Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Albanese mengatakan generasi muda saat ini hidup dalam situasi berbeda. Mereka dapat menyaksikan secara langsung berbagai peristiwa sekaligus mengambil tindakan melalui gerakan sosial. Ia menyebut gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi sebagai salah satu bentuk perjuangan yang telah dilakukan rakyat Palestina sekitar 20 tahun.

"Kita hidup dalam realitas baru di mana kaum muda, termasuk melalui 20 tahun tuntutan konkret dari rakyat Palestina lewat gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi, merasa bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membuat perubahan dengan cara memutus hubungan, memutus keterlibatan," ujarnya.

Menurut Albanese, gerakan anak muda tersebut tidak hanya muncul karena kepedulian terhadap Palestina. Palestina, kata dia, menjadi pemantik yang membuat generasi muda semakin sadar terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.

"Dan mereka bangkit bukan hanya karena Palestina. Meskipun Palestina telah menyadarkan dan membangunkan mereka, saya rasa mereka juga bangkit melawan ketidakadilan di mana mereka sendiri adalah korbannya," kata Albanese.

3. Ketidakpastian hidup satukan perjuangan anak muda

Ilustrasi anak muda milenial dan Gen Z (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Albanese menilai ada persoalan lain yang turut menyatukan anak muda di berbagai negara, yakni ketidakpastian hidup dan minimnya kesempatan. Menurutnya, kondisi tersebut juga mulai dirasakan anak muda di negara-negara Global North yang sebelumnya menikmati sejumlah keistimewaan.

"Karena saat ini, rasa ketidakpastian hidup (precarity), minimnya kesempatan yang dialami kaum muda di seluruh dunia—termasuk di kawasan Dunia Utara (Global North) yang dulunya memiliki hak istimewa—masa-masa itu kini telah usai," ujarnya.

Kondisi itu, menurut Albanese, kemudian melahirkan rasa persatuan dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat.

"Dan inilah mengapa ada rasa persatuan dalam perjuangan, persatuan perjuangan hak asasi manusia, dan persatuan masyarakat," kata dia.

Namun, Albanese mengingatkan, di tengah persatuan dalam perjuangan tersebut juga muncul fenomena yang menurutnya mengkhawatirkan, yakni tindakan represif terhadap mereka yang menyuarakan tuntutan.

"Kendati demikian, kita juga melihat adanya persatuan represi, dan ini adalah hal yang sangat menakutkan," tuturnya.

Albanese menekankan keteguhan hati yang kerap diasosiasikan dengan rakyat Gaza sebenarnya merupakan bagian dari keteguhan rakyat Palestina secara keseluruhan.

"Ah, saya akan menyebutnya keteguhan hati rakyat Palestina, karena rakyat Palestina secara historis memang teguh," ujarnya.

Menurut Albanese, rakyat Palestina tetap bangkit sebagai sebuah bangsa, meski mengalami pengusiran dan keterpecahan.

"Ini adalah bangsa yang telah dicabik-cabik, yang diusir keluar dari negerinya sendiri karena Israel diciptakan di dalam tanah Palestina, dan mereka tetap bangkit kembali sebagai sebuah bangsa di pengasingan. Jadi, rakyat Palestinalah yang memiliki keteguhan hati tersebut," kata Albanese.

Curated For You

Editorial Team

Related Article