Ilustrasi anak muda milenial dan Gen Z (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Albanese menilai ada persoalan lain yang turut menyatukan anak muda di berbagai negara, yakni ketidakpastian hidup dan minimnya kesempatan. Menurutnya, kondisi tersebut juga mulai dirasakan anak muda di negara-negara Global North yang sebelumnya menikmati sejumlah keistimewaan.
"Karena saat ini, rasa ketidakpastian hidup (precarity), minimnya kesempatan yang dialami kaum muda di seluruh dunia—termasuk di kawasan Dunia Utara (Global North) yang dulunya memiliki hak istimewa—masa-masa itu kini telah usai," ujarnya.
Kondisi itu, menurut Albanese, kemudian melahirkan rasa persatuan dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan kepentingan masyarakat.
"Dan inilah mengapa ada rasa persatuan dalam perjuangan, persatuan perjuangan hak asasi manusia, dan persatuan masyarakat," kata dia.
Namun, Albanese mengingatkan, di tengah persatuan dalam perjuangan tersebut juga muncul fenomena yang menurutnya mengkhawatirkan, yakni tindakan represif terhadap mereka yang menyuarakan tuntutan.
"Kendati demikian, kita juga melihat adanya persatuan represi, dan ini adalah hal yang sangat menakutkan," tuturnya.
Albanese menekankan keteguhan hati yang kerap diasosiasikan dengan rakyat Gaza sebenarnya merupakan bagian dari keteguhan rakyat Palestina secara keseluruhan.
"Ah, saya akan menyebutnya keteguhan hati rakyat Palestina, karena rakyat Palestina secara historis memang teguh," ujarnya.
Menurut Albanese, rakyat Palestina tetap bangkit sebagai sebuah bangsa, meski mengalami pengusiran dan keterpecahan.
"Ini adalah bangsa yang telah dicabik-cabik, yang diusir keluar dari negerinya sendiri karena Israel diciptakan di dalam tanah Palestina, dan mereka tetap bangkit kembali sebagai sebuah bangsa di pengasingan. Jadi, rakyat Palestinalah yang memiliki keteguhan hati tersebut," kata Albanese.