Pemukim Israel Serang Staf MSF dan Usir Warga Palestina dari Tepi Barat

- MSF mengecam kekerasan dan intimidasi terhadap warga Palestina di Tepi Barat setelah seorang stafnya diserang pemukim Israel bersenjata di selatan wilayah tersebut.
- Korban terluka dan evakuasinya terhambat jalan tak beraspal; MSF menilai hambatan layanan medis serta pembatasan akses warga Palestina merupakan pola sistematis.
- Serangan tentara dan pemukim Israel memaksa 20 keluarga Badui Ras al-Ahmar mengungsi, sementara 27 keluarga lain terancam di tengah pemblokiran air dan pakan ternak.
Jakarta, IDN Times - Organisasi bantuan medis Doctors Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF) mengecam eskalasi kekerasan dan intimidasi tanpa pandang bulu yang menimpa warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Lembaga kemanusiaan tersebut menyoroti memburuknya situasi keamanan yang dihadapi penduduk setempat akibat teror dari pemukim Israel.
Kecaman terbuka ini disampaikan setelah salah seorang staf MSF diserang secara terencana di desanya yang terletak di kawasan selatan Tepi Barat pada Kamis (15/10/2026). Secara terpisah, 20 keluarga Palestina di utara Lembah Yordan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat rentetan serangan tentara dan pemukim Israel, sementara puluhan keluarga lainnya menghadapi ancaman pengusiran serupa serta pembatasan akses kebutuhan pokok.
1. Staf MSF diserang pemukim bersenjata

Tepi Barat, Palestina (pexels.com/abu adel) MSF menyatakan salah satu stafnya menjadi korban penyerangan fisik saat pemukim Israel melontarkan batu seukuran genggaman tangan menggunakan ketapel. Serangan terarah di desa tempat tinggal staf tersebut menyebabkan korban terluka hingga memerlukan tindakan medis segera.
Dilansir Anadolu Agency, korban menuturkan bahwa sekitar 20 pemukim awalnya turun dari perbukitan terdekat untuk menyerbu warga. Setelah gelombang pertama, gerombolan pemukim tambahan berdatangan dengan membawa berbagai senjata. "Pemukim bersenjata pentungan, senapan, granat kejut, dan ketapel," kata staf tersebut saat memberikan kesaksian.
Pihak MSF menegaskan bahwa aksi penyerangan ini bukanlah insiden yang terisolasi. Warga Palestina di seantero Provinsi Hebron serta berbagai wilayah lain di Tepi Barat terus berhadapan dengan kekerasan dan intimidasi yang kian meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
2. Rintangan evakuasi dan pembatasan sistematis

potret mobil ambulans MSF (Alex Blokha, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Proses pertolongan darurat sempat terhambat lantaran mobil ambulans tidak mampu menembus lokasi kejadian akibat kondisi jalanan yang belum beraspal. Korban akhirnya dievakuasi menggunakan kendaraan pribadi untuk menemui ambulans di titik tertentu, sebelum mendapatkan pertolongan pertama di klinik dan kemudian dirujuk ke rumah sakit.
Menanggapi insiden tersebut, MSF menilai rintangan evakuasi medis dan eskalasi kekerasan fisik memiliki pola yang disengaja. Organisasi ini menyebut pembatasan tersebut merupakan bagian dari strategi Israel untuk merusak keamanan warga sipil. "Kekerasan yang dialami kolega kami, hambatan mencapai perawatan medis, dan meningkatnya pembatasan yang diberlakukan pada komunitas Palestina bukanlah suatu kebetulan," tegas pihak MSF.
Kebijakan pembatasan tersebut dinilai sengaja dijalankan guna membatasi ruang gerak warga dan menghambat akses mereka terhadap fasilitas kesehatan. Kondisi ini secara nyata merampas hak dasar masyarakat setempat untuk hidup secara aman dan bermartabat.
3. Puluhan keluarga di Lembah Yordan dipaksa mengungsi

ilustrasi pengungsi (pexels.com/Sanjeev Kumar) Secara terpisah, organisasi pegiat hak asasi manusia Al-Baidar mengungkapkan bahwa serangan militer serta pemukim Israel telah memaksa 20 keluarga Palestina meninggalkan komunitas Badui Ras al-Ahmar di utara Lembah Yordan. Warga lainnya yang masih bertahan di wilayah tersebut juga tak luput dari ancaman relokasi paksa. "Sebanyak 27 keluarga lain yang tersisa di komunitas tersebut telah diancam pengusiran paling lambat hari Jumat," ungkap Al-Baidar seperti dikutip Anadolu.
Al-Baidar memperingatkan bahwa pemblokiran pasokan air bersih dan pakan ternak kian memperburuk taraf hidup penduduk komunitas Badui. Tekanan ini sangat merugikan warga lokal yang menggantungkan mata pencaharian utamanya pada sektor peternakan. "Pembatasan yang mencegah air dan pakan ternak mencapai komunitas memperburuk kondisi hidup dan mengancam kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar serta mempertahankan mata pencaharian mereka," papar Al-Baidar.
Serangan tentara dan pemukim Israel terhadap warga Palestina kian meruncing sejak Oktober 2023 melalui aksi pembunuhan, penangkapan, pembongkaran rumah, penggusuran lahan, hingga perluasan permukiman. Data resmi Palestina mencatat sekitar 750 ribu pemukim Israel saat ini mendiami Tepi Barat dan Yerusalem Timur di 194 permukiman ilegal serta sekitar 400 pos permukiman liar.























