unjuk rasa pendukung Houthi di Yaman pada 2015 (Henry Ridgwell, VOA, Public domain, via Wikimedia Commons)
Peluncuran operasi militer berskala penuh dinilai membuka babak baru dalam dinamika konflik bersenjata di Yaman. Analis pertahanan di London, Ibrahim Jalal, menilai upaya diplomasi selama ini buntu akibat ketimpangan kekuatan militer yang dibiarkan berlarut-larut.
"Proses damai dan deeskalasi telah gagal karena ada ketimpangan kekuatan nyata yang menggantung selama setidaknya enam tahun," ujar Ibrahim Jalal, analis pertahanan spesialis keamanan kawasan, dilansir Al Jazeera.
Sebaliknya, sebagian pengamat justru meragukan efektivitas operasi yang dicanangkan pemerintah. Peneliti wadah pemikir Chatham House, Farea Al-Muslimi, menilai serangan balasan tersebut kurang berarti karena Houthi telah lebih dulu memutus rute logistik ke Taiz. Analis politik Yaman, Mohammed Al-Qadhi, menambahkan, penguasaan Houthi atas perbukitan barat Taiz membuat upaya perebutan kembali pesisir menjadi jauh lebih rumit bagi pasukan pemerintah.