ilustrasi remaja perempuan sedang melihat layar tablet (pexels.com/ Tima Miroshnichenko)
Partai beraliran kiri-tengah dan sejumlah organisasi menyampaikan keberatan atas pengesahan undang-undang tersebut. Aturan ini dianggap dapat menghambat upaya pencegahan kekerasan berbasis gender di Italia.
Anggota Parlemen dari Partai Demokrat, Sara Ferrari, menyoroti pentingnya edukasi dalam melindungi hak dasar perempuan di lingkungan sekolah.
"Alih-alih memperkenalkan pendidikan seks, undang-undang ini justru menempatkan rintangan bagi sekolah yang ingin memastikan hak atas pendidikan penuh, yang merupakan alat utama untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan," ujar Ferrari, dikutip dari Wanted in Rome.
Organisasi perlindungan anak juga mengkhawatirkan munculnya kesenjangan pemahaman di kalangan generasi muda. Direktur Hubungan Institusional Save the Children, Giorgia D'Errico, menyoroti risiko dari persyaratan tersebut.
"Tujuan untuk menginformasikan kepada keluarga dan memperkuat kemitraan dengan sekolah adalah hal yang baik, tetapi persyaratan persetujuan ini berisiko memperburuk kesenjangan pendidikan dan budaya yang sudah ada," ujar D'Errico, dilansir The Local.