Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengepungan Israel di Gaza Picu Krisis Parah Pasien Kanker Payudara
ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Hosny salah)
  • Serangan dan pengepungan Israel menghancurkan pusat onkologi utama Gaza serta melumpuhkan mamografi dan seluruh mesin MRI, memutus perawatan bagi ribuan pasien kanker.
  • Kematian pasien kanker di Gaza meningkat dua hingga tiga kali lipat; sekitar 20.000 pasien membutuhkan evakuasi darurat, termasuk 5.000 penderita kanker, namun rujukan terhambat pembatasan perbatasan.
  • Kelangkaan kemoterapi, obat dasar, air bersih, sanitasi, dan dukungan psikologis memperparah kondisi pasien; Marah Ghabayen meninggal saat menunggu izin keluar Gaza untuk berobat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pengepungan ketat dan serangan militer yang berkepanjangan oleh Israel di Jalur Gaza telah memicu krisis kesehatan skala besar bagi penderita kanker, khususnya kanker payudara. Sejumlah fasilitas medis vital hancur total sementara pasokan obat-obatan dan alat pemindai canggih menipis drastis.

Kondisi darurat ini merenggut nyawa para pasien akibat keterlambatan penanganan medis serta pemblokiran izin evakuasi berobat ke luar negeri. Ribuan perempuan penderita kanker payudara kini harus berjuang bertahan hidup di tengah kelangkaan obat penunjang harian dan rusaknya infrastruktur kesehatan di wilayah tersebut.

1. Kerusakan fasilitas medis dan kelumpuhan alat pemindaian

Serangan udara Israel di Jalur Gaza saat perang berlangsung. (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Penghancuran Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina akibat serangan udara memutus akses perawatan spesialis bagi sekitar 17.000 penderita kanker di Gaza. Rumah sakit tersebut sebelumnya merupakan satu-satunya pusat perawatan onkologi medis lengkap di wilayah kantong tersebut. Kini, pasien harus mengandalkan fasilitas tersisa yang minim peralatan dasar serta persediaan obat yang makin terbatas.

Dilansir Al Jazeera, krisis penanganan ini kian nyata dengan rusaknya perangkat pemindai mamografi di Yafa Medical Hospital di Deir el-Balah. Mesin yang kerap mati akibat ketiadaan suku cadang membuat pemeriksaan deteksi dini kanker payudara terhenti. Dr. Hala al-Buhaisi di rumah sakit tersebut mencatat lonjakan kasus kanker stadium lanjut hingga 40 persen karena keterlambatan diagnosis.

Dilansir Middle East Eye, Direktur Jenderal Kerja Sama Internasional dan Perencanaan Kesehatan Gaza, Dr. Ahmed Shatat, mengungkapkan bahwa dokter terpaksa langsung melakukan operasi pengangkatan payudara (mastektomi) pada pasien. Langkah agresif ini diambil sebagai jalan tercepat menyelamatkan nyawa karena Gaza kehabisan obat kemoterapi dasar dan kehilangan seluruh alat pemindai canggih. Dari tujuh mesin MRI yang sebelumnya dimiliki Gaza, kini tak ada satu pun yang dapat difungsikan.

2. Lonjakan angka kematian dan antrean rujukan medis

Pemakaman jenazah para syuhada di kamp Nour Shams, West Bank. (unsplash.com/Abed Odwan)

Tingkat kematian akibat kanker di Jalur Gaza saat ini melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat dibanding periode sebelum konflik. Di Rumah Sakit Al-Shifa, para tenaga medis mencatat kematian tiga hingga lima pasien kanker setiap hari karena gagal mendapatkan kemoterapi tepat waktu—meningkat tajam dari angka rata-rata satu hingga dua kematian per hari sebelum perang.

Sekitar 20 ribu pasien terdaftar membutuhkan evakuasi medis darurat ke luar wilayah Gaza, termasuk di antaranya 5 ribu penderita kanker. Pembatasan perbatasan membuat proses rujukan berobat ke luar negeri berjalan sangat lambat. Keterlambatan birokrasi dan pemblokiran gerak membuat kondisi kesehatan pasien merosot drastis sebelum sempat menerima perawatan intensif.

Dr. Hala al-Buhaisi menyoroti ada lebih dari 4.000 perempuan penderita kanker yang kini tertahan menanti izin perjalanan luar negeri. "Dari setiap 100 kasus, kami kehilangan lima pasien akibat keterlambatan izin evakuasi berobat, dan ini merupakan indikator yang sangat berbahaya," ujar al-Buhaisi.

3. Kisah tragis pasien dan hancurnya akses obat dasar

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/Sarah Chai)

Kisah Marah Ghabayen, seorang ibu berusia 28 tahun dengan anak perempuan berusia empat tahun, menjadi cerminan kepedihan pasien kanker payudara di Gaza. Setelah didiagnosis mengidap kanker stadium dua, ia terpaksa menanti rujukan medis yang tak kunjung terbit. Di tengah keterbatasan pasokan medis, pihak keluarga mengungkapkan bahwa Marah bahkan sempat diobati dengan obat-obatan yang telah kedaluwarsa. Kondisinya terus memburuk hingga ia mengalami dua kali serangan jantung dan meninggal dunia di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis saat menanti izin keluar Gaza.

Ibu dari Marah, Samaher Aldeni, menceritakan perjuangan putrinya yang terus bertahan di tengah rasa sakit. "Saya melihat dia memegang harapan meski berada dalam kesakitan. Dia hanya menunggu kesempatan menerima perawatan dan kembali kepada putrinya," kata Aldeni.

Selain kelangkaan obat kanker, kelumpuhan infrastruktur sanitasi, krisis air bersih, hingga hilangnya layanan dukungan psikologis turut memperburuk kondisi para pasien. Peniadaan akses terhadap layanan kesehatan dasar dan pencegahan ini menciptakan krisis kemanusiaan yang makin fatal bagi warga Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article