Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nigeria Laporkan Kasus Positif Virus Ebola Pertama sejak 2014

4 min read
Nigeria Laporkan Kasus Positif Virus Ebola Pertama sejak 2014
ilustrasi bendera Nigeria (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Nigeria melaporkan kasus Ebola pertama sejak 2014 pada seorang perempuan yang tiba di Abuja setelah perjalanan dari Uganda; pasien diisolasi dan 44 kontak dekat sedang dilacak.
  • Uganda menyatakan pasien, perempuan warga Nigeria, hanya transit setelah perjalanan dinas dari timur Republik Demokratik Kongo; lokasi paparan masih diselidiki dan Uganda tidak memiliki kasus aktif.
  • Wabah galur Bundibugyo sejak Mei 2026 telah menjangkau beberapa negara Afrika, menginfeksi lebih dari 9.500 orang dan menewaskan lebih dari 4.600; Nigeria memperkuat kesiapsiagaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nigeria mengumumkan temuan kasus perdana virus Ebola dari wabah terbaru di Afrika pada Selasa (20/10/2026). Kasus di negara berpenduduk terpadat di benua Afrika tersebut terdeteksi pada seorang perempuan yang tiba setelah melakukan perjalanan dari Uganda menuju ibu kota Abuja.

Pasien perempuan tersebut mulai merasakan gejala pada 7 Oktober 2026 dan dibawa ke rumah sakit di Abuja empat hari kemudian sebelum didiagnosis terinfeksi Ebola. Otoritas kesehatan belum dapat memastikan waktu kedatangan pasien tersebut di Nigeria dan kini tengah mengisolasi pasien serta melacak puluhan kontak dekat.

  1. 1. Pelacakan kontak dekat dan isolasi pasien di Abuja

    ilustrasi petugas medis
    ilustrasi petugas medis (pexels.com/cottonbro studio)

    Menteri Kesehatan Nigeria Muhammad Ali Pate menyampaikan bahwa pasien perempuan tersebut saat ini berada di ruang isolasi dan sedang menerima perawatan medis. Dia menyatakan bahwa penelusuran kontak telah dimulai dengan 44 kontak dekat yang teridentifikasi.

    "Kami melakukan segala upaya yang memungkinkan untuk menahan kasus ini dengan melacak semua kontak yang mungkin pernah berinteraksi dengan individu tersebut," ujar Pate sebagaimana dikutip The Guardian.

    Tim kesehatan masyarakat melakukan identifikasi serta pemantauan terhadap orang-orang yang mungkin telah terpapar virus. Pemantauan ini mencakup para petugas kesehatan, pasien lain di fasilitas medis, pengasuh, hingga kontak selama perjalanan. Kasus terkonfirmasi ini menjadi kasus Ebola pertama yang terdaftar di Nigeria sejak 2014.

  2. 2. Penjelasan otoritas Uganda terkait status perjalanan pasien

    ilustrasi bendera Uganda
    ilustrasi bendera Uganda (unsplash.com/Roman Derrick Okello)

    Kementerian Kesehatan Uganda menyatakan bahwa pasien bersangkutan hanya melakukan transit di Uganda. Pihak kementerian menginformasikan bahwa pasien adalah seorang perempuan warga Nigeria yang baru pulang dari perjalanan dinas ke wilayah timur Republik Demokratik Kongo. Kendati demikian, pihak berwenang Nigeria belum mengungkapkan kewarganegaraan resmi pasien tersebut.

    Otoritas kesehatan Uganda menegaskan bahwa wilayah mereka tidak memiliki kasus aktif Ebola yang terkonfirmasi. "Perjalanan melalui Uganda tidak membuktikan bahwa infeksi terjadi di sini. Lokasi paparan masih dalam penyelidikan," sebut Kementerian Kesehatan Uganda dalam pernyataan resminya.

  3. 3. Perluasan wabah galur Bundibugyo di kawasan Afrika

    penyemprotan disinfektan saat wabah Ebola
    penyemprotan disinfektan saat wabah Ebola (Ethleen Lloyd, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Wabah Ebola ini bermula setelah diumumkan di Republik Demokratik Kongo pada pertengahan Mei 2026. Direktur Jenderal Africa CDC Jean Kaseya menyatakan bahwa wabah galur Bundibugyo ini telah menjadi wabah Ebola dengan sebaran geografis terluas dalam sejarah karena menjangkau beberapa negara di tiga kawasan Afrika. Menurut laporan AFP, wabah ini kini telah merambah dari Afrika bagian tengah hingga ke wilayah timur dan barat benua tersebut.

    Di Republik Demokratik Kongo, epidemi ini telah merenggut 4.381 nyawa dari lebih sembilan ribu kasus terkonfirmasi dan menjadi yang paling mematikan dalam sejarah negara itu. Secara keseluruhan di kawasan Afrika, penularan galur ini telah menginfeksi lebih dari 9.500 orang dan menewaskan lebih dari 4.600 orang dengan tingkat fatalitas kasus mendekati 50 persen. "Dengan tingkat kematian mendekati 50 persen di Republik Demokratik Kongo, kami menghadapi ancaman yang sangat serius," tulis Jean Kaseya dalam unggahannya di media sosial X.

  4. 4. Langkah kewaspadaan di Nigeria dan kasus di Kenya

    Sekjen PBB António Guterres kunjungi Pusat Perawatan Ebola Mangina.
    Sekjen PBB António Guterres kunjungi Pusat Perawatan Ebola Mangina. (MONUSCO Photos, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

    Sebelum kasus terkonfirmasi di Nigeria, Kenya telah lebih dahulu mendeteksi kasus Ebola pertamanya pada 6 Oktober 2026 pada seorang pebisnis yang tinggal di Republik Demokratik Kongo dan meninggal di Nairobi pada 5 Oktober 2026. Kementerian Kesehatan Kenya melaporkan kasus kesembilan pada Selasa (20/10/2026), yakni seorang laki-laki berusia 24 tahun dari anggota keluarga dekat kasus pertama setelah dikonfirmasi positif pada Senin (19/10/2026). Pasien kesembilan tersebut sudah berada di fasilitas karantina ketika mulai jatuh sakit, lalu diisolasi dan dites, serta langsung mendapatkan pengobatan medis segera setelah hasil tes positifnya dikonfirmasi.

    Nigeria Centre for Disease Control telah menyatakan penguatan pengawasan sejak dua pekan lalu menyusul terdeteksinya Ebola di Kenya. Upaya kesiapsiagaan tersebut difokuskan pada deteksi dini, isolasi dan rujukan medis, diagnosis laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, pelacakan kontak, komunikasi risiko, hingga perlindungan bagi petugas kesehatan. Pemerintah Nigeria sendiri sebelumnya telah membentuk satuan tugas Ebola pada Juni 2026 setelah merebaknya wabah di Kongo pada pertengahan Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More