Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pertemuan Perdana AS dan Hamas Ungkap Syarat Berat di Balik Gencatan Gaza
ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Alfo Medeiros)
  • AS dan Hamas melakukan kontak langsung pertama di Kairo untuk menjaga gencatan senjata Gaza, dengan mediasi AS melalui Aryeh Lightstone dan Nickolay Mladenov.
  • Hamas menuntut Israel memenuhi kewajiban awal seperti penghentian serangan dan distribusi bantuan sebelum membahas pelucutan senjata yang menjadi fokus negosiasi lanjutan.
  • Perundingan terhambat karena perbedaan tuntutan; Hamas menilai proposal berat sebelah pada keamanan Israel sementara aspek kemanusiaan Palestina belum diprioritaskan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Amerika Serikat (AS) dan Hamas akhirnya melakukan kontak langsung untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata di Gaza diberlakukan pada Oktober tahun lalu. Pertemuan ini menjadi bagian dari dorongan menjaga kesepakatan yang masih rapuh dengan mediasi dari pihak AS.

Berdasarkan keterangan dari Hamas, delegasi AS yang dipimpin penasihat senior Aryeh Lightstone bertemu kepala negosiator Hamas, Khalil al-Hayya, di Kairo pada Selasa (14/4/2026). Lightstone hadir bersama Nickolay Mladenov sebagai Perwakilan Tinggi Dewan Perdamaian yang didukung AS untuk Gaza.

Pihak Departemen Luar Negeri AS memilih tidak memaparkan detail proses tersebut kepada publik.

“Kami tidak memberikan komentar mengenai negosiasi yang sedang berlangsung,” katanya kepada CNN.

1. Hamas dorong Israel jalankan komitmen fase pertama

Aksi Nasional Menuntut Penghentian Genosida – Ajakan Internasional untuk Gencatan Senjata Abadi 024 Helsinki, Finlandia. (rajatonvimma /// VJ Group Random Doctors, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Dalam forum itu, Khalil al-Hayya yang sebelumnya selamat dari upaya pembunuhan oleh Israel di Doha, Qatar, pada tahun lalu, meminta AS memastikan Israel memenuhi seluruh kewajiban tahap awal gencatan senjata.

Kewajiban tersebut meliputi penghentian serangan serta peningkatan distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza. Hamas menilai langkah itu harus dipenuhi lebih dulu sebelum pembahasan dapat berlanjut ke tahap berikutnya.

Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi telah mengakhiri dua tahun konflik bersenjata di Gaza. Meski begitu, sejumlah persoalan penting masih belum terselesaikan, termasuk pengaturan tata kelola dan keamanan wilayah Gaza yang mengalami kerusakan besar.

Sejak kesepakatan berlaku, Hamas kembali menyatakan kendalinya atas wilayah Gaza yang tidak berada di bawah pendudukan Israel. Di sisi lain, serangan dari pasukan Israel dilaporkan masih terjadi di beberapa area.

2. Negosiasi fokus pada syarat pelucutan senjata Hamas

ilustrasi kelompok bersenjata (pexels.com/Ivan Hassib)

Pembahasan di Kairo berlangsung setelah Aryeh Lightstone melakukan komunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pertemuan tersebut diarahkan untuk memperoleh komitmen Israel dalam menjalankan sepenuhnya tahap awal gencatan senjata.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Israel bersedia memenuhi ketentuan tersebut apabila Hamas menyetujui pelucutan senjata.

Negosiasi yang melibatkan Hamas, Dewan Perdamaian, serta mediator internasional kini diarahkan pada fase lanjutan kesepakatan. Agenda dalam tahap ini mencakup pelucutan senjata Hamas, penempatan pasukan internasional di Gaza, serta penarikan pasukan Israel dari wilayah tersebut.

3. Proses negosiasi terhambat perbedaan tuntutan utama

ilustrasi senjata api (pexels.com/Specna Arms)

Upaya perundingan kerap menemui jalan buntu karena adanya tekanan agar Hamas menyepakati pelucutan senjata lebih dahulu sebelum Israel menyelesaikan kewajiban tahap awal.

Hamas bersama sejumlah organisasi internasional di Gaza menyatakan Israel belum menunaikan bagian kesepakatan yang menjadi tanggung jawabnya. Israel menolak tuduhan itu dan justru menuding Hamas melakukan pelanggaran.

Data dari Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 765 orang tewas di Gaza sejak gencatan senjata mulai diberlakukan.

4. Hamas nilai proposal tak seimbang dalam negosiasi

ilustrasi regulasi (pexels.com/Markus Spiske)

Dilansir Fristpost, seorang sumber senior Hamas menilai rancangan kesepakatan yang diajukan tidak mencerminkan keseimbangan. Ia menyebut proposal tersebut mereduksi keseluruhan proses menjadi satu fokus utama, yakni pelucutan senjata, sementara kewajiban tahap awal lainnya justru ditunda atau dikesampingkan.

Menurut sumber itu, isi dokumen yang diusulkan menunjukkan perbedaan prioritas yang signifikan. Dalam susunannya, aspek keamanan Israel ditempatkan lebih dahulu, sedangkan hak kemanusiaan, politik, serta administratif Palestina berada di urutan berikutnya.

Sumber yang sama juga mengungkapkan bahwa Nickolay Mladenov telah menyampaikan tuntutan dari pihak Israel dalam proses tersebut. Ia menjelaskan bahwa Israel memperingatkan kemungkinan kembali ke konflik jika Hamas tidak menerima pelucutan senjata, bahkan disebut terdapat tekanan tersirat untuk memilih menerima proposal atau menghadapi kembalinya perang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team