Kritik AS, PM Spanyol Pedro Sanchez Dorong Reformasi Dewan Keamanan PBB
- Pedro Sanchez mendesak reformasi Dewan Keamanan PBB, termasuk penghapusan hak veto anggota tetap, agar semua negara memiliki hak setara dalam sistem multilateral.
- Dalam pidato Majelis Umum PBB, PM Spanyol mengkritik kebijakan agresif Donald Trump dan menegaskan negaranya akan mempertahankan prinsip-prinsip yang terancam dirusak.
- Sanchez mendukung perempuan Amerika Latin menjadi Sekretaris Jenderal PBB serta memperingatkan algoritma platform digital dapat memperbudak perhatian dan merusak demokrasi.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sanchez mendukung penuh prinsip dan aspirasi pembentukan PBB pada Rabu (23/9/2026). Namun, ia mendorong reformasi Dewan Keamanan PBB karena sistem saat ini cenderung merusak tatanan multilateral.
Selama ini, Sanchez dikenal sebagai pemimpin beraliran kiri yang terus memprotes kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Alhasil, hubungan AS dan Spanyol merenggang selama lebih dari setahun terakhir.
1. Kritik kebijakan Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Sanchez menyampaikan kritiknya atas kebijakan agresif Trump. PM Spanyol itu menyebut negaranya tidak akan diam di tengah kondisi saat ini.
“Tidak perlu menyebutkan mereka. Kami tahu siapa mereka dan apa modus operandi yang mereka gunakan. Saya berada di sini untuk mempertahankan apa yang mereka berusaha hancurkan,” tuturnya, dikutip dari Telesur.
Sementara itu, Sanchez menyuarakan reformasi Dewan Keamanan PBB dan menghapus hak veto dari anggota tetap. Langkah ini agar semua negara mendapatkan hak yang sama.
2. Sanchez minta perempuan yang memimpin PBB

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez. (Presidencia de la República del Ecuador, Public domain, via Wikimedia Commons) Pada kesempatan yang sama, Sanchez akan mendukung penuh perempuan memimpin PBB. Ia berharap ada perempuan asal Amerika Latin yang dapat menggantikan peran Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
“Ini adalah waktunya perempuan. Untuk perempuan asal Amerika Latin. PBB dilahirkan dengan janji untuk seluruh umat manusia. Maka ini adalah waktunya. Ini waktunya bagi perempuan asal Amerika Latin menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBB,” terangnya, dikutip dari EFE.
3. Sanchez peringatkan algoritma yang bertujuan memperbudak manusia

ilustrasi AI (unsplash.com/steve_j) Pada kunjungannya di Universitas Harvard, Sanchez memperingatkan bahwa terdapat algoritma teknologi yang didesain untuk memperbudak manusia. Mereka dibuat untuk menarik perhatian sebesar-besarnya untuk mengambil keuntungan.
Menurutnya dilansir dari Democrata, sejumlah platform tersebut hanya dikontrol oleh beberapa orang yang dapat merusak demokrasi, hukum, nilai-nilai kebebasan sejak berakhirnya Perang Dunia II. PM Spanyol itu memberikan pesan kepada para mahasiswa di Harvard untuk menjaga ruang digital, seperti menjaga atmosfer.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















