Resolusi tersebut diiniasi oleh AS beberapa bulan yang lalu. Resolusi itu mewajibkan pakar-pakar PBB untuk mengawasi sanksi yang diberikan ke Iran pada 2025 lalu akibat program nuklirnya. Sanksi tersebut terdiri dari pembekuan aset di luar negeri, penghentian kesepakatan penjualan senjata, dan pemberian hukuman untuk program pengembangan rudal balistik Iran.
Rusia dan China Veto Resolusi DK PBB soal Sanksi ke Iran

- Rusia dan China memveto resolusi DK PBB yang diinisiasi AS untuk mewajibkan pengawasan PBB atas sanksi terhadap Iran terkait program nuklirnya.
- Rusia menilai sanksi dapat memperkeruh ketegangan AS-Iran di Timur Tengah; veto membuat resolusi tersebut gugur dan tidak dapat diterapkan.
- Iran mengapresiasi veto itu sebagai pencegahan penyalahgunaan DK PBB oleh AS, sementara Washington mengaku sudah memperkirakan sikap Rusia dan China.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) soal sanksi terhadap Iran. Veto tersebut dilakukan dalam sidang DK PBB yang dihelat di New York, Amerika Serikat (AS) pada Kamis (17/9/2026) kemarin.
1. Sanksi bisa memperkeruh konflik AS dan Iran di Timur Tengah

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Rusia menjelaskan, sanksi terhadap Iran akan semakin memperkeruh konflik antara AS dan Iran di Timur Tengah. Sebab, ketegangan kedua negara kini belum sepenuhnya berakhir. Inilah yang akhirnya membuat Rusia dan China memveto resolusi DK PBB tadi. Upaya ini akan secara otomatis membuat resolusi tersebut gugur dan tidak bisa diterapkan ke Iran.
“Kami sangat mendesak rekan-rekan Barat untuk menghentikan tindakan mereka yang sangat berbahaya di front Iran yang mengancam akan memperumit penyelesaian krisis di Teluk Persia,” kata Vassily Nebenzia, Duta Besar Rusia untuk PBB, seperti dilansir Al Jazeera.
2. Iran berterima kasih kepada Rusia dan China

potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji) Berkat upaya ini, Iran berterima kasih kepada Rusia dan China. Teheran mengatakan, langkah Moskow dan Beijing yang telah memveto resolusi soal sanksi terhadap mereka adalah bentuk komitmen yang kuat untuk mencegah AS menyalahgunakan wewenangnya di DK PBB. Sebab, Washington kerap menggunakan statusnya sebagai anggota permanen DK PBB untuk menjatuhkan sanksi ke Iran.
“Iran sangat menghargai Rusia dan China atas posisi mereka yang konsisten dan berprinsip serta tindakan tegas mereka hari ini. Mereka mencegah upaya sinis lainnya dari Amerika Serikat dan sekutunya untuk menyalahgunakan Dewan Keamanan (PBB) untuk tujuan politik mereka,” demikian bunyi pernyataan resmi Pemerintah Iran dalam sebuah unggahan di X.
3. AS tidak terkejut soal veto dari Rusia dan China

potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Connor Scott McManus) Veto yang dilakukan Rusia dan China tadi langsung mendapat tanggapan dari AS. Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Jennifer Locetta, mengatakan, pihaknya tidak terkejut dengan upaya yang dilakukan Moskow dan Beijing tersebut. Sebab, ia sebelumnya sudah menduga kedua negara tersebut akan memveto resolusi DK PBB soal sanksi ke Iran.
Sebelum ini, Rusia dan China sudah berulang kali mendesak AS untuk membatalkan resolusi DK PBB soal sanksi ke Iran. Namun, Washington kerap menolak karena diperintahkan oleh Presiden Donald Trump. Sebab, Trump ingin sanksi ke Iran tetap berjalan dan ingin pakar PBB mengawasi penerapan sanksi tersebut. Langkah ini bertujuan agar Teheran tidak melanggar sanksi yang sudah diberikan.


















