Presiden Prancis, Emmanuel Macron (Katja Kodba, Public domain, via Wikimedia Commons)
Insiden terbakarnya aparat keamanan memicu kemarahan di tengah iklim politik Prancis yang memanas menjelang pemilihan presiden pada 2027. Pemimpin partai sayap kanan ekstrem National Rally sekaligus kandidat kuat presiden, Marine Le Pen, serta Ketua Partai Republik, Bruno Retailleau, menyebut insiden itu tidak dapat ditoleransi. Melalui unggahan di platform X, Le Pen menuntut agar para pelaku serangan bom api tersebut dihukum seberat-beratnya, seraya berjanji memulihkan hukum dan ketertiban jika terpilih tahun depan.
Dari sektor ekonomi, Kamar Dagang dan Industri Prancis (CCI) melaporkan sekitar 20 tempat usaha rusak selama kerusuhan Sabtu, jauh lebih sedikit dibanding akhir pekan sebelumnya. Namun, CCI Prancis tetap mengkhawatirkan dampak gelombang demonstrasi yang berlanjut terhadap aktivitas ritel menjelang musim belanja liburan akhir tahun.
Sementara itu, ketegangan di sektor pendidikan diprediksi berlanjut karena kelompok pelajar dan mahasiswa berencana memblokade sekolah menengah serta universitas mulai Senin (2/11/2026) hingga Kamis (5/11/2026) usai libur dua pekan. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah menyerukan agar kegiatan belajar kembali berjalan tenang dan mengklaim suara generasi muda telah didengar melalui usulan perombakan platform penerimaan universitas, pinjaman renovasi sekolah, serta pengurangan ukuran kelas untuk tingkat 10.
"Presiden belum mendengarkan kami, itu hanya tipu muslihat. Ada sedikit polesan di permukaan, tetapi begitu Anda melihat ke dalamnya, tidak ada apa-apa di sana," tutur Pierre Sourzat, ketua kelompok pelajar Lyceens!, dilansir ABC News.